ANALISIS SEBARAN HUJAN DI PROVINSI LAMPUNG UNTUK PEWILAYAHAN TANAMAN PADI

Eva Nurhayati, S.Si

Stamet Radin Inten II Bandar Lampung

ABSTRAK

Berdasarkan data curah hujan dalam bentuk isohyet atau sebaran spasial curah hujan di Provinsi Lampung yang diperoleh menunjukkan bahwa wilayah Lampung secara umum dipengaruhi oleh angin Muson (Monsoon) yang setiap enam bulan sekali berganti arah. Hal tersebut menyebabkan pola curah hujan Monsunal, yaitu rata-rata setiap wilayah di Provinsi Lampung memiliki satu puncak hujan dimana dicirikan dengan terjadinya puncak hujan tertinggi antara bulan Desember-Februari dan curah hujan terendah terjadi antara bulan Juni-Agustus. Khusus untuk beberapa daerah di Kabupaten Lampung Barat, curah hujan yang terjadi cenderung dipengaruhi oleh pengaruh lokal atau topografi setempat.

evaKomoditas potensial yang dimiliki oleh Provinsi Lampung sekaligus menjadi komoditas unggulan adalah tanaman padi. Analisis mengenai pola masa tanam padi yang baik di wilayah Lampung sudah dapat dilakukan pada saat kondisi bulan basah rata-rata di atas 200 mm/bulan atau pada tingkat ketersediaan air sudah cukup memenuhi, yaitu sekitar 100-200 mm/bulan. Sehingga awal bercocok tanam padi sudah dapat dilakukan penanaman pada awal bulan November hingga akhir Mei yang dapat dilakukan hampir di seluruh wilayah Lampung dengan tanpa melibatkan pengaruh faktor lain sebelumnya.

Memasuki bulan Juni sampai September akhir dianjurkan untuk tidak dilakukan penanaman padi pada daerah-daerah lahan kering khususnya untuk sebagian besar Kabupaten Tulang Bawang dan Lampung Timur serta sebagian besar Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Lampung Utara bagian utara dan timur. Potensi kerawanan pangan yang tinggi dapat terjadi di sebagian besar daerah ini. Hal ini disebabkan karena hujan yang jatuh di daerah ini rata-rata kurang dari 100 mm/bulannya. Namun, untuk beberapa daerah di Kabupaten Way Kanan, Lampung Barat dan Tanggamus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin penggunaannya untuk areal pertanian karena melihat dari segi ketersediaan airnya yang masih berada pada potensi mencukupi. Dan akan lebih baik lagi apabila sudah ditunjang dengan sistem irigasi yang sudah beroperasi dengan baik.

Kata kunci : Analisis sebaran hujan, pewilayahan tanaman padi.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Produksi pertanian terutama tanaman pangan penghasil beras memberikan kontribusi utamanya dalam upaya pemenuhan kebutuhan hajat hidup rakyat Indonesia. Seiring dengan lajunya peningkatan jumlah penduduk, tentunya hal ini akan mempengaruhi terhadap peningkatan kebutuhan makanan pokok (beras) tersebut. Oleh karena itu, Indonesia harus tetap melakukan berbagai upaya untuk melestarikan kondisi swasembada pangan yang pernah dicapainya.

Provinsi Lampung merupakan salah satu wilayah penghasil beras di Indonesia dengan julukannya sebagai daerah Lumbung Padi Nasional dan termasuk salah satu daerah sentra produksi beras di Indonesia selain wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura). Dengan demikian, segala faktor produksi yang mendukung peningkatan produksinya harus dapat dioptimalkan sedemikian rupa. Langkah yang dapat ditempuh adalah mengatasi semua faktor produksi yang dapat menghambat produksi pangan tersebut. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengatur masa tanam yang baik dan dapat menyesuaikannya terhadap pengaruh cuaca iklim yang sulit dimodifikasi.

Interaksi antara tanaman dengan lingkungannya merupakan salah satu syarat bagi peningkatan produksi pertanian. Iklim dan cuaca merupakan lingkungan fisik essensial bagi produktivitas tanaman yang sulit dimodifikasi sehingga secara langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut. Di Indonesia faktor curah hujan merupakan salah satu parameter iklim yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman pangan khususnya. Hal ini disebabkan faktor curah hujan memiliki peranan paling besar dalam menentukan kondisi musim di wilayah Indonesia.

Analisis pewilayahan tanaman padi di Provinsi Lampung dapat dikaji dari berbagai parameter iklim tentunya. Namun, dalam kajian ini hanya akan dianalisis dari parameter curah hujan yang paling mendominasi variabilitas iklim di daerah tropis Sang Bumi Ruwa Jurai ini khususnya.

B. Tujuan

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sebaran curah hujan akumulasi rata-rata bulanan dalam bentuk data isohyet sebaran titik secara kontinyu menggunakan pemodelan spasial Sistem Informasi Geografis (SIG) serta menduga potensi pewilayahan agroklimat untuk tanaman padi di Provinsi Lampung.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Padi

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun yang menghasilkan produk beras. Pusat penanaman padi di Indonesia adalah di Pulau Jawa (Karawang dan Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi dan Kalimantan (Suparyono & Setyono, 1994).

Suparyono & Setyono (1994) mengemukakan syarat pertumbuhan yang berkaitan dengan iklim pertanian untuk tanaman padi harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Tumbuh di daerah tropis/subtropis (45oLU – 45oLS) dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.
  2. Curah hujan optimum sebesar 200 mm/bulan atau 1500 – 2000 mm/tahun.
  3. Dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0 – 650 mdpl dengan temperatur 22 – 27 oC, sedangkan di dataran tinggi 650 – 1500 mdpl dengan temperatur 19 – 23 oC.
  4. Padi dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah. Reaksi tanah (pH) berkisar antara 4.5 – 8.2 dan optimum berkisar antara 5.5 – 7.5 (Deptan, 2003).

Di Indonesia, padi ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1300 mdpl. Pada ketinggian di atas 1300 mdpl, pada umumnya tanaman padi sudah tidak diusahakan orang lagi, karena pertumbuhannya terlalu lambat dan hasilnya rendah (Gahara, 1989).

B. Pemodelan Spasial Menggunakan Sistem Informasi Geografis

Pemodelan spasial terdiri atas sekumpulan proses yang dilakukan pada data spasial untuk menghasilkan suatu informasi umumnya dalam bentuk peta. Sehingga, kita dapat menggunakan informasi tersebut untuk pembuatan keputusan, kajian ilmiah atau sebagai informasi umum (Nuarsa, 2005). Geographic Information System (GIS) merupakan suatu bidang kajian ilmu yang relatif baru yang dapat digunakan oleh berbagai bidang disiplin ilmu sehingga berkembang dengan sangat cepat. Secara umum, satu fungsi dari GIS yang sangat penting adalah kemampuan untuk menganalisis data, terutama data spasial yang kemudian menyajikannya dalam bentuk suatu informasi spasial berikut data atributnya (Imantho. 2004).

Berbagai macam fungsi analisis dapat dilakukan dengan menggunakan software ArcView GIS 3.3, termasuk diantaranya spasial analisis, 3D analisis, network analisis dan sebagainya. Dalam studi kajian ini proses dan modeling dilakukan dengan pendekatan rasterisasi (grid) dalam pemodelan spasial analisis. Spasial analisis mempunyai fungsi untuk menghitung suatu kerapatan dengan membuat grid bersifat kontinyu dimana setiap selnya mengandung informasi jumlah per satuan luas.

Komponen utama dalam analisis spasial adalah theme grid dimana layer geografis yang ditampilkan kenampakan objek dalam bentuk segi empat (sel) pada view. Setiap sel (piksel) menyimpan nilai numerik yang mengekspresikan informasi geografis yang diwakili. Theme grid yang menyimpan nilai integer tersebut dapat dihubungkan dengan tabel. Sel yang mempunyai nilai sama akan memiliki nilai atribut yang sama (Nuarsa, 2005).

Untuk membuat theme grid kontinyu dari data titik shapefile terdapat fasilitas interpolasi grid. Proses interpolasi adalah mengisi kekosongan data dengan menggunakan metoda tertentu dari satu kumpulan data untuk menghasilkan sebaran yang kontinyu. Sebuah interpolasi data hujan di masing-masing stasiun digunakan untuk memperoleh grid kontinyu data curah hujan yang selanjutnya dapat dibuat peta isohyet, dan sebagainya.

III. BAHAN DAN METODE

· Wilayah Kajian

Wilayah kajian diambil Provinsi Lampung dari beberapa titik pos hujan sebagai berikut :011

· Alat dan Bahan

02

· Metodologi

1. Klasifikasi Tipe Iklim Oldeman

Kriteria dalam klasifikasi tipe iklim Oldeman didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB) dan bulan kering (BK), yaitu sebagai berikut :

03

2. Interpolasi Spasial

Proses interpolasi adalah mengisi kekosongan data dengan metoda tertentu dari suatu kumpulan data untuk menghasilkan sebaran yang kontinyu. Dalam kajian ini, digunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW) yang mengasumsikan bahwa tiap titik input memiliki pengaruh yang bersifat lokal dan berkurang terhadap jarak. Hasil dari inetrpolasi akan diperoleh peta isohyet atau peta sebaran spasial curah hujan.

04

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Umum Kondisi Fisik Wilayah Lampung

Provinsi Lampung secara geografis terletak antara 3o45′ – 6o45′ LS dan 103o40′ – 105o50′ BT dengan areal seluas 35.288,35 km2 atau 3.528.835 ha termasuk pulau-pulau yang terletak pada bagian sebelah paling ujung tenggara pulau Sumatera. Batas wilayah Provinsi Lampung di sebelah Utara dibatasi oleh Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, di sebelah Selatan dibatasi oleh Selat Sunda, di sebelah Timur dibatasi oleh Laut Jawa dan sebelah Barat dibatasi oleh Samudra Indonesia. Pada tahun 1999 wilayah Provinsi Lampung dimekarkan menjadi 7 kabupaten/kota, kemudian dengan diundangkannya UU No.12 Tahun 1999 dimekarkan lagi menjadi 10 kabupaten/kota, yang terdiri dari Kab. Lampung Barat, Kab. Tanggamus, Kab. Lampung Selatan, Kab. Lampung Timur, Kab. Lampung Tengah, Kab. Lampung Utara, Kab. Way Kanan, Kab. Tulang Bawang, Kota Bandar Lampung dan Kota Metro.

Secara topografi, Provinsi Lampung dapat dibagi dalam 5 (lima) unit topografi yaitu daerah topografis berbukit sampai bergunung, daerah topografis berombak sampai bergelombang, daerah dataran alluvial, daerah dataran rawa pasang surut dan daerah River Basin. Kawasan bagian barat Provinsi Lampung merupakan daerah pegunungan sebagai rangkaian dari Bukit Barisan. Tercatat tiga buah gunung yang tingginya lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut, yaitu Gunung Pesagi di Kabupaten Lampung Barat dengan ketinggian 2.239 meter, Gunung Tanggamus dengan tinggi 2.102 meter terletak di Kabupaten Tanggamus dan Gunung Tangkit Tebak dengan tinggi 2.115 meter terletak di Kabupaten Lampung Utara.

Iklim di daerah Lampung termasuk beriklim tropis-humid dengan angin laut lembah yang bertiup dari Samudra Indonesia dengan dua musim angin setiap tahunnya. Dua musim dimaksud adalah pada bulan Nopember s/d Maret angin bertiup dari arah Barat dan Barat Laut, sedangkan pada bulan Juli s/d Agustus angin bertiup dari arah Timur dan Tenggara. Kecepatan angin rata-rata sebesar 5,83 km/jam. Suhu udara di wilayah Lampung pada daerah daratan dengan ketinggian 30 – 60 meter di atas permukaan laut rata-rata berkisar antara 26oC-28oC. Suhu udara maksimum mencapai 33,4oC dan juga suhu udara minimum mencapai 21,7oC. Kelembaban udara rata-rata sekitar 75% – 95%, dimana kondisi kelembaban udara akan cenderung meningkat pada daerah dengan topografi yang lebih tinggi.

B. Analisis Faktor Iklim di Wilayah Lampung Berdasarkan Klasifikasi Tipe Iklim Oldeman

Untuk Agroklimat Tanaman Padi

Fluktuasi curah hujan di setiap daerah wilayah Lampung bebeda-beda berdasarkan karakteristik tipe iklim yang dimilikinya. Berdasarkan hal tersebut telah dilakukan analisis tipe iklim menurut Oldeman yang ditentukan oleh besarnya kisaran curah hujan bulanan yang jatuh pada suatu areal pertanian. Dalam hal ini digunakan asumsi penggunaan lahan sawah tadah hujan pada umumnya tanpa melihat faktor irigasi sebelumnya.

Secara umum, hasil kajian menunjukkan bahwa pembagian daerah tipe iklim di Provinsi Lampung berdasarkan klasifikasi tipe iklim Oldeman selama periode tahun 1984-2003 cukup memberikan keheterogenannya dalam variasi tipe iklim. Hal ini ditunjukkan dengan sebaran curah hujan yang terjadi di sebagian besar daerah Lampung Barat memiliki tipe iklim A1 dan B1. Karakteristik tipe iklim ini memiliki BB (Bulan Basah) berturut-turut lebih dari 9 bulan dengan BK (Bulan Kering) yang terjadi kurang dari 2 bulan berturut-turut. Kondisi curah hujan di wilayah ini penyebarannya cukup merata sepanjang tahun pada kisaran curah hujan bulanan rata-rata di atas 200 mm. Wilayah ini dapat dimanfaatkan secara baik untuk kegiatan penanaman padi varietas umur pendek yang dapat dilakukan secara terus menerus atau minimal dua kali dalam setahun dengan perencanaan awal musim tanam yang baik, tetapi tingkat produktivitasnya cenderung rendah karena pada umumnya penerimaan radiasi rendah sepanjang tahun di wilayah ini. Adapun produktivitas akan tinggi apabila pemanenan dilakukan pada saat musim kemarau. Hal ini tentunya juga sangat diperlukan analisis tingkat lanjut mengenai kondisi topografi setempat.

Adapun sebagian besar wilayah Lampung Timur, Lampung Tengah dan Way Kanan yang memiliki karakteristik curah hujan yang jatuh berturut-turut 5-6 BB dan 2-3 BK, sehingga termasuk kedalam tipe iklim C2. Penanaman padi hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun tergantung banyaknya air hujan yang jatuh di wilayah tersebut. Untuk sebagian besar wilayah Lampung Selatan, Lampung Utara dan Tulang Bawang yang berkarakteristik tipe iklim C3 memiliki curah hujan berturut-turut 5-6 BB dan 4-6 Bk. Penanaman padi di wilayah ini dapat dilakukan sekali dalam setahun tergantung banyaknya persediaan air dan dianjurkan tidak dilakukan penanaman pada saat bulan kering.

Untuk sebagian besar wilayah bertipe iklim D1 seperti Lampung Selatan, khususnya daerah Ketapang dan sekitarnya yang berkarakteristik BB berturut-turut 3-4 bulan dan BK kurang dari 2 bulan dapat ditanami padi umur pendek satu kali dalam setahun. Biasanya produksi padi tinggi karena kerapatan fluks radiasi mataharinya tinggi pula. Hal ini akan berpengaruh terhadap proses Akumulasi Heat Unit (AHU) tanaman padi menjadi lebih cepat, sehingga proses metabolisme dan pematangan pun singkat serta umur padi menjadi lebih pendek. Sedangkan untuk wilayah yang memiliki tipe iklim D2 dan D3 di Kabupaten Lampung Selatan dan Bandar Lampung hanya mungkin satu kali penanaman padi dalam setahun dan hal itupun tergantung pada adanya persediaan air irigasi. Hal ini dapat dikaji dari banyaknya BB berturut-turut 3-4 bulan dan BK berturut-turut 4-6 bulan. Untuk sebagian kecil daerah di Kabupaten Tanggamus khususnya daerah Pringsewu yang bertipe E3 dimana daerah ini umumnya sangat kering dengan BB berturut-turut kurang dari 3 bulan dan BK berturut-turut 4-6 bulan, sehingga mungkin dapat dilakukan penanaman palawija saja, serta itupun tergantung akan adanya hujan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.

05

Berdasarkan hasil di atas, dapat dibuatkan pemetaan spasialnya berupa peta sebaran spasial tipe ilklim Oldeman dan sebaran akumulasi rata-rata curah hujan bulanan di Provinsi Lampung (1984-2003). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar peta di bawah ini.

06

C. Analisis Sebaran Hujan Untuk Pewilayahan Tanaman Padi di Provinsi Lampung

Tanaman padi merupakan salah satu tanaman pangan utama yang sangat diusahakan oleh para petani Indonesia, demikian halnya untuk wilayah Provinsi Lampung. Walaupun prospek lahan perkebunan cukup terbuka luas di wilayah ini, namun sektor pertaniannya cukup memberikan hasil dalam upaya ikut mewujudkan pembangunan pertanian di Indonesia salah satunya. Areal persawahan di Provinsi Lampung terdiri dari luas baku seluas 246.618 ha, luas yang telah dimanfaatkan dengan penanaman padi seluas 199.036,55 ha, luas panen dengan tiga kali penanaman per tahun seluas 388.383 ha serta produksi total per tahun mencapai 1.682.337 ton [BPS Provinsi Lampung, 2007]. Berikut laju produksi padi di Provinsi Lampung dari tahun 1997 – 2006 adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Produktivitas padi (ton/tahun) di Provinsi Lampung

07

Pada umumnya total produksi padi (ton/tahun) di wilayah Lampung selama periode 1997-2006 terakhir rata-rata mengalami laju kenaikan. Salah satu faktor produksi pertanian di daerah tropis yang ikut memberikan implikasinya terhadap hasil produksi adalah faktor iklim, khususnya faktor curah hujan. Sehingga dengan mengkaji sebaran hujan di Provinsi Lampung akan memberikan gambaran mengenai hal tersebut, walaupun fakta di lapangan tentunya masih banyak faktor lain yang memberikan pengaruhnya, antara lain sistem pengelolaan pertanian yang sudah baik (panca usaha tani), karakteristik tipe tanah, topografi lahan, landuse change atau lahan alih fungsi untuk pertanian (intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian), varietas tanaman dan tentunya faktor iklim pendukung lainnya. Berikut ini disajikan grafik akumulasi rata-rata curah hujan bulanan di Provinsi Lampung (1984-2003) sebagai berikut.

081


Berdasarkan analisis hasil kajian menunjukkan bahwa sebaran hujan di wilayah Lampung selama 20 tahun terakhir (1984-2003) termasuk kedalam pola curah hujan Monsunal, yaitu rata-rata setiap daerah di Provinsi Lampung memiliki satu puncak hujan dimana dicirikan dengan terjadinya puncak hujan tertinggi antara bulan Desember-Februari dan curah hujan terendah terjadi antara bulan Juni-Agustus. Nilai curah hujan tahunan di wilayah Lampung rata-rata sebesar 2408 mm dengan rata-rata curah hujan bulanan sebesar 201 mm. Demikian pula dengan rata-rata curah hujan maksimum bulanannya terjadi pada bulan Januari (333 mm) serta minimum pada bulan Agustus (112 mm).

Pembagian iklim berdasarkan kondisi musim di wilayah Lampung yang memiliki pola curah hujan Monsunal, yaitu pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF) atau disebut bulan-bulan basah serta bulan Juni, Juli dan Agustus (JJA) atau disebut bulan-bulan kering masih cukup memberikan trend iklim bulanan yang nyata terhadap distribusi curah hujan pada saat kondisi sekarang ini. Walaupun dalam kenyataannya sudah cukup dirasakan adanya laju penurunan curah hujan di musim kemarau dari nilai rata-rata normalnya serta terjadi laju peningkatan curah hujan di musim penghujan dari rata-rata normalnya. Namun demikian, hal tersebut belum memberikan implikasinya yang begitu nyata dalam memicu isu global climate change khususnya di wilayah Lampung saat ini.

Analisis lebih lanjut mengenai pola masa tanam padi yang baik di wilayah Lampung sudah dapat dilakukan pada saat kondisi bulan basah rata-rata di atas 200 mm/bulan atau pada tingkat ketersediaan air sudah cukup memenuhi, yaitu sekitar 100-200 mm/bulan. Sehingga awal bercocok tanam padi sudah dapat dilakukan penanaman pada awal bulan November hingga akhir Mei yang dapat dilakukan hampir di seluruh wilayah Lampung dengan tanpa melibatkan pengaruh faktor lain sebelumnya. Namun, menurut Suparyono & Setyono (1994) mengemukakan syarat pertumbuhan untuk kondisi optimum tanaman padi dapat tumbuh dengan baik, yaitu pada curah hujan optimum sebesar 200 mm/bulan atau 1500 – 2000 mm/tahun. Kondisi ini tercapai pada saat memasuki bulan Desember hingga awal April. Dengan demikian, secara umum hal ini menunjukkan adanya gambaran potensi yang baik untuk pewilayahan tanaman padi pada saat bulan-bulan basah, terutama khususnya untuk daerah-daerah lahan kering antara lain Kecamatan Panengahan, Palas, Kalianda, Katibung, Jabung, Way Jepara, Sukadana, Bantul, Natar, Kedongdong, Padang Cermin, Cukuh Balak, Terbanggi Besar, Pagelaran, Padang Ratu, Seputih Mataram, Menggala, Tulang Bawang Tengah hingga Mesuji Lampung. Kondisi favourable ini juga tentunya harus didukung oleh beberapa parameter iklim lainnya sehingga kondisi optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi menjadi semakin baik.

Memasuki bulan Juni sampai September akhir dianjurkan untuk tidak dilakukan penanaman padi pada daerah-daerah lahan kering khususnya untuk sebagian besar Kabupaten Tulang Bawang dan Lampung Timur serta sebagian besar Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Lampung Utara bagian utara dan timur. Potensi kerawanan pangan yang tinggi dapat terjadi di sebagian besar daerah ini. Hal ini disebabkan karena hujan yang jatuh di daerah ini rata-rata kurang dari 100 mm/bulannya. Namun, untuk beberapa daerah di Kabupaten Way Kanan, Lampung Barat dan Tanggamus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin penggunaannya untuk areal pertanian karena melihat dari segi ketersediaan airnya yang masih berada pada potensi mencukupi. Dan akan lebih baik lagi apabila sudah ditunjang dengan sistem irigasi yang sudah beroperasi dengan baik.

Khusus untuk beberapa daerah seperti di Kabupaten Lampung Barat, curah hujan yang terjadi cenderung dipengaruhi oleh pengaruh lokal karena topografi setempat. Karena wilayah ini tepat berada di belakang daerah bertopografi tinggi, yaitu berupa Pegunungan Bukit Barisan. Pengaruh dataran tinggi pada peningkatan curah hujan terutama adalah memberikan dorongan (paksaan) udara naik, sehingga akan memicu awal ketidakstabilan atmosfer setempat. Dorongan naik oleh dataran tinggi membawa udara lembab tersebut sampai ke aras kondensasi. Setelah itu terjadi penambahan panas hasil kondensasi membuat udara menjadi tidak stabil dan terus naik dan terjadilah yang di sebut hujan orografik. Nilai curah hujan tahunan di daerah ini rata-rata sebesar 2891 mm dengan rata-rata curah hujan bulanan sebesar 241 mm. Sedangkan rata-rata curah hujan maksimum bulanannya terjadi pada bulan November (345 mm) serta minimum pada bulan Agustus (142 mm). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar peta berikut ini.

09

Peningkatan dan penurunan produktivitas pangan, khususnya produksi padi secara otomatis akan berdampak pada perekonomian nasional. Oleh sebab itu, upaya pengendaliannya didasarkan pada perhitungan ekonomi, yaitu dengan mengupayakan biaya hasil yang dapat diselamatkan seminimalnya dapat sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Setidaknya dengan mengetahui kondisi fisik iklim yang sulit dimodifikasi oleh tangan manusia, khususnya faktor iklim curah hujan, hal ini tentunya akan memberikan gambaran upaya kewaspadaan dalam bentuk sistem peramalan (forecasting) maupun adanya sistem peringatan dini (Early Warning System). Sehingga hal ini diharapkan dapat menjadi suatu sistem pengambilan keputusan dalam kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pangan nasional pada umumnya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Komoditas potensial yang dimiliki oleh Provinsi Lampung sekaligus menjadi komoditas unggulan adalah tanaman padi. Areal penanaman padi sawah dan padi ladang tersebar pada seluruh kabupaten dan kota dengan produksi tidak hanya sanggup untuk memenuhi kebutuhan penduduk di provinsi ini saja bahkan mampu dikirim ke daerah-daerah lainnya sehingga Lampung dikenal sebagai Lumbung Padi Nasional. Kondisi ini didukung oleh mayoritas sumber mata pencaharian masyarakat Lampung pada sektor pertanian khususnya tanaman padi.

Analisis mengenai pola masa tanam padi yang baik di wilayah Lampung sudah dapat dilakukan pada saat kondisi bulan basah rata-rata di atas 200 mm/bulan atau pada tingkat ketersediaan air sudah cukup memenuhi, yaitu sekitar 100-200 mm/bulan. Sehingga awal bercocok tanam padi sudah dapat dilakukan penanaman pada awal bulan November hingga akhir Mei yang dapat dilakukan hampir di seluruh wilayah Lampung dengan tanpa melibatkan pengaruh faktor lain sebelumnya. Dengan demikian, secara umum hal ini menunjukkan adanya gambaran potensi yang baik untuk pewilayahan tanaman padi pada saat bulan-bulan basah, terutama khususnya untuk daerah-daerah lahan kering antara lain Kecamatan Panengahan, Palas, Kalianda, Katibung, Jabung, Way Jepara, Sukadana, Bantul, Natar, Kedongdong, Padang Cermin, Cukuh Balak, Terbanggi Besar, Pagelaran, Padang Ratu, Seputih Mataram, Menggala, Tulang Bawang Tengah hingga Mesuji Lampung.

Memasuki bulan Juni sampai September akhir dianjurkan untuk tidak dilakukan penanaman padi pada daerah-daerah lahan kering khususnya untuk sebagian besar Kabupaten Tulang Bawang dan Lampung Timur serta sebagian besar Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Lampung Utara bagian utara dan timur. Potensi kerawanan pangan yang tinggi dapat terjadi di sebagian besar daerah ini. Hal ini disebabkan karena hujan yang jatuh di daerah ini rata-rata kurang dari 100 mm/bulannya. Namun, untuk beberapa daerah di Kabupaten Way Kanan, Lampung Barat dan Tanggamus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin penggunaannya untuk areal pertanian karena melihat dari segi ketersediaan airnya yang masih berada pada potensi mencukupi. Dan akan lebih baik lagi apabila sudah ditunjang dengan sistem irigasi yang sudah beroperasi dengan baik.

2. Saran

· Verifikasi dan validasi langsung ke lapangan (tinjauan lapang) sangat diperlukan untuk pengujian hasil lebih lanjut sehingga dapat dimanfaatkan data maupun informasi yang lebih valid dan akurat.

· Untuk tingkat akurasi spasial yang lebih tinggi dan lebih bagus, dibutuhkan data input cuaca/iklim yang lebih banyak dan timeseries data yang lebih lama.

· Harus diketahui dan dilakukan tinjauan khusus serta kajian data validasi untuk faktor-faktor iklim pendukung lainnya serta faktor diluar faktor iklim (jika diperlukan) yang lebih mendukung terhadap laju produktivitas padi di wilayah Lampung dengan menggunakan hubungan keeratan setiap variabel iklim yang dilibatkan terhadap laju peningkatan produksi padi (metode regresi dan korelasi).

VI. DAFTAR PUSTAKA

[BPS]. Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2007. Lampung Dalam Angka Tahun 2007.

[Deptan]. Departemen Pertanian. 2003. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Padi. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Handoko. 1995. Klasifikasi Iklim. Di dalam : Handoko, editor. Edisi Kedua. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Imantho, H. 2004. Materi Diklat dalam Pelatihan Dosen Tentang Teknologi Informasi Untuk Manajemen Sumber Daya Alam. Bogor, 9-21 Agustus 2004.

Kartasapoetra, A.G. 2004. Klimatologi : Pengaruh Iklim terhadap Tanah dan Tanaman. Edisi Revisi. Bumi Aksara, Jakarta.

Nuarsa, I.W. 2005. Menganalisis Data Spasial dengan ArcView GIS 3.3 Untuk Pemula. Gramedia. Jakarta.

Suparyono, Dr dan Agus Setyono, Dr. 1994. Padi. Penebar Swadaya. Jakarta.

About these ads

3 Responses to “ANALISIS SEBARAN HUJAN DI PROVINSI LAMPUNG UNTUK PEWILAYAHAN TANAMAN PADI”

  1. Selamat sore, Bisakah bantu saya sore ini juga untuk mendapatkan data temperatur, curah hujan dan kelembaban prop. lampung dari tahun 1998-2008.

    • kalo mbak novie membutuhkan data tersebut dapat menghubungi Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung. saya tidak mempunyai data tsb.
      terima kasih..

  2. ooke de………….h

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: