PENGARUH IKLIM/CUACA TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Drs. Bambang Nova Setyanto
Koordinator BMG Lampung

I. PENDAHULUAN

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia cenderung disebabkan oleh manusia dan didukung oleh kekeringan yang panjang sebagai akibat dari faktor rendahnya nilai curah hujan yang terjadi di beberapa daerah dalam waktu yang cukup lama.

Di Propinsi Lampung pada setiap musim kemarau hamper selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luasan daerah yang berbeda setiap tahunnya. Daerah yang mengalami kekeringan pada umumnya daerah tadah hujan atau daerah lahan kering dengan permulaan musim kemarau lebih awal dan sifat hujannya dibawah normal serta pada umumnya panjang musim kemarau lebih panjang dari musim hujannya.

Populasi hutan di Propinsi Lampung makin menipis, yang tersisa hanyalah semak belukar. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi penjalaran kebakaran adalah bahan baker, cuaca dan topografi, sedangkan asal muasal kebakaran pada umumnya akibat ulah manusia.
A. PENGARUH FAKTOR IKLIM / CUACA TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN.

A.I Suhu Bahan Bakar dan Suhu Udara

Bahan bakar merupakan bahan-bahan organic yang mudah terbakar dan merupakan salah satu factor yang menentukan bahan baker untuk terbakar dan sangat menentukan kebakaran.Suhu bahan baker dicapai melalui penyerapan radiasi matahari secara langsung serta kondisidari lingkungan termasuk udara dari sekitar bahan baker ( thoha 1998 ). Masind-masing jenis bahan baker memiliki suhu tertentu yang merupakan suhu kritis sehingga bahan tersebut akan terbakar.
Suhu udara merupakan factor yang selalu berubah dan mempengaruhi suhu bahan baker serta kemudahannya untuk terbakar. Suhu udara tergantung intensitas panas atau penyinaran matahari. Daerah dengan suhu tinggi akan menyebabkan cepat terjadinya pengeringan bahan baker dan memudahka terjadinya kebakaran. Hal ini terutama terjadi pada musim kemarau yang panjang.

A.2 Kelembaban Udara

Kelembaban udara berasal dari evaporasi dari bahan-bahan air, tanah serta transpirasi tumbuh-tumbuhan. Di dalam hutan kelembaban udara akan sangat mempengaruhi mudah tidaknya bahan baker mongering dan terbakar, hal ini terjadi karena kelembaban udara dapat menentukan jumlah kandungan air di dalam bahan bakar.

A.3 Curah Hujan

Curah hujan mempengaruhi kelembaban dan kadar air bahan bakar. Bila kadar air bahan bakar tinggi akibat curah hujan yang tinggi maka sulit untuk terjadinya kebakaran. Namun sebaliknya bila curah hujan rendah disertai suhu tinggi serta didukung oleh kemarau yang panjang menyebabkan kebakaran akan mudah berlangsung.

A.4 Angin

Angin merupakan salah satu factor yang penting dari komponen-komponen cuaca yang mempengaruhi kebakaran ( Chandler et al. 1983 ). Angin mempengaruhi kebakaran hutan melalui beberapa cara diantaranya angin membantu pengeringan bahan bakar yaitu sebagai pembawa air yang sudah diuapkan dari bahan bakar. Angin juga mendorong dan meningkatkan kemampuan dengan memasok secara terus menerus , dalam hal ini oksigen yang merupakan salah satu komponen pemicu terjadinya kebakaran, selain itu angin menentukan arah penjalaran api dan mempunyai korelasi positif terhadap kecepatan penjalarannya. Namun besar kecilnya api ditentukan kadar air bahan bakar ( Affan 2002 ). Peran angina dalam mempercepat penjalaran api dapat berlangsung dengan adanya perbedaan tekanan udara akibat perbedaan pemanasan.

B. INDEKS CUACA KEBAKARAN

Indeks cuaca kebakaran ( Fire Weather Indeks/FWI ) merupakan subsistem dari The Canadian Forest Fire Danger Rating System ( CFFDRS ) yang telah diperkenalkan sejak tahun 1970. Kegunaan dari FWI adalah untuk menghitung pengaruh cuaca terhadap bahan bakar hutan dan kebakaran hutan ( De Groot 1987 ). Kegunaan lain dari FWI yaitu untuk mengevaluasi bahaya kebakaran sebagai fungsi dari kondisi cuaca sekarang dan yang lalu.

Sistem FWI terdiri dari enam komponen yaitu tiga komponen berupa kode kelembaban bahan bakar ( FFMC/Fine Fuel moisture Code, DMC/ Drough Moisture Code dan DC/ Drough Code ) dan tiga lainnya berupa indeks perilaku kebakaran yang menggambarkan laju penyebaran, konsumsi bahan bakar dan intensitas kebakaran ( Van Wagner 1987 ).Tiap-tiap komponen memiliki ilai dengan skala masing-masing.

Sistem FWI dirancang untuk menghasilkan jumlah informasi yang maksimum dengan jumlah data harian atau antar jam yang minimum.FWI juga memiliki rancangan dimana komponen-komponennya dapat digunakan baik individu maupun dikombinasikan untuk keluaran system. Pada FWI terdapat tiga kode kelembaban dengan model bahan bakar permukaan, sub permukaan dan bagian dalam tanah dalam berbagai ukuran dan luasan. Disamping itu ada tiga indek perilaku bahan bakar yang mengindikasikan potensi tingkat penjalaran,konsumsi kebakaran dan intensitas pada tipe bahan bakar yang standar. Adapun penjelasan enam indek-indek cuaca kebakaran diatas adalah sebagai berikut :

• FFMC ( Fine Fuel Moisture Code )
Menandakan kemudahan relatif mulainya api dan terbakarnya. Kode ini berkorelasi dengan kejadian-kejadian kebakaran yang disebabkan oleh manusia.Kode ini digunakan untuk indicator potensi penyulutan api menjadi kebakaran.

• DMC ( Duff Moisture Code )
DMC adalah peringkat numeric dari kelembaban rata-rata dari lapisan tanah organic yang tidak padat dengan kedalaman sedang. Kode ini memberikan indikasi konsumsi bahan bakar pada lapisan humus sedang dan materi kayu berukuran sedang.

• DC ( Droug Code )
DC adalah peringkat numeric dari kandungan kelembaban dari lapisan tanah organic yang padat. Kode ini adalah indicator penting dari dampak kemarau musiman pada bahan bakar hutan, dan banyaknya nyala bara api dalam lapisan organic yang dalam dan bongkahan kayu besar. Kode ini digunakan sebagai indicator potensi membaranya api dalam suatu kebakaran.

• ISI ( Initial Spread Index )
ISI adalah peringkat numeric dari tingkat penyebaran api yang diharapkan. ISI menggabungkan akibat angin dan FFMC pada tingkat penyebaran tanpa pengaruhb kuantitas variable bahan bakar.Kode ini menunjukkan bagaimana kebakaran akan menjalar / merambat setelah penyulutan api.

• BUI ( Buildup Index )
BUI adalah peringkat numeric dari tingkat bahan bakar yang akan dikonsimsi dan merupakan kombinasi dari DMC dan DC.

• FWI ( Fire Weather Index )
FWI adalah peringkat numeric dari intensitas kebakaran yang merupakan kombinasi dari ISI dan BUI, indeks ini secara umum dapat disebut sebagai indeks bahaya kebakaran ditinjau dari segi cuaca dan dituangkan dalam beberapa kelas bahaya kebakaran.Bahaya kenakaran adalh indikasi umum dari semua factor yang mempengaruhi kemudahan terbakar dan tingkat kesulitan pengendalian kebakaran. Kode ini digunakan sebagai indicator prakiraan kesulitan pengendalian kebakaran.

II. EVALUASI KONDISI CUACA

II.1 Bulan Juni 2006

Sepanjang bulan Juni 2006 kondisi dinamika atmosfer di sekitar Propinsi Lampung berlangsung secara normal, yang artinya pada bulan tersebut angina passat tenggara yang bertiup dari Benua Australia sesuai dengan siklusnya maupun Suhu Muka Air Laut di barat Propinsi Lampung tidak terlalu panas ( 27 0 C – 28 0 C ) serta tidak adanya gangguan tropis di sekitar Laut Cina Selatan maupun Perairan Pasifik, sehingga wilayah Lampung mengalami musim kemarau.
Dari data curah hujan yang masuk ke BMG Lampung, pada umumnya daerah di Propinsi Lampung curah hujannya berkisar 51-100 mm, terkecuali Branti dan Metro yang curah hujannya lebih dari 100 mm, sedangkan yang kurang dari 50 mm adalah Menggala dan sekitarnya, sehingga dapat dikatakan sebagian besar wilayah sifat hujannya di bawah normal.

II.2 Bulan Juli 2006

Sampai dengan tanggal 22 Juli 2006 kondisi dinamika atmosfera di sekitar Propinsi Lampung sangat dipengaruhi oleh aktivitas gangguan tropis di Laut Cina Selatan, baik berupa Tropical Siklon maupun Low Pressure, yang berlangsung sampai tanggal 22 Juli sebanyak 4 kali, sehingga keadaan ini mempengaruhi sebaran curah hujan di beberapa wilayah di Propinsi Lampung, misalnya di Branti 103 mm, normal ( 65-88 ) mm dan dikatakan curah hujannya bersifat diatas normal. Sedangkan untuk daerah tangkapan air, dengan titik control Way Tenong, intensitas hujannya 75 mm, sedangkan normal ( 112-152 ) mm dan dapat dikatakan dibawah normal.

III. EVALUASI TITIK API

Dari infra merah citra satelit NOAA menunjukkan bahwa pada bulan Juni 2006 di Propinsi Lampung telah terjadi 6 ( enam ) titik api, di Lampung tengah 1 ( satu ) kali yang lokasinya di areal perkebunan, di Lampung Timur 1 ( satu ) kali lokasinya di areal semak belukar, dan di Tulang Bawang 2 ( dua ) kali lokasinya di areal hutan gambut dan 2 ( dua ) kali di peladangan ( www:lapan.go.id ). Sedangkan pada bulan Juli 2006 di Propinsi Lampung belum terjadi titik api.Begitupun untuk bulan Agustus belum terlihat adanya titik api.

Lebih lanjut dikatakan 1 ( satu ) titik api, dalam satu piksel NOAA yang berdimensi 1×1 km itu diduga ada api atau bara api, adapun citra satelit tersebut dapat menerima sinyal untuk menjadi titik api apabila ada sumber panas atau bara api sebesar > 320 0 K ( siang hari ) dan > 315 0 K ( malam hari ), hal ini khusus untuk bukan daerah industri atau pusat transportasi.

IV. PROSPEK KONDISI CUACA BULAN SEPTEMBER 2006

Dari perkembangan dinamika atmosfer dan series data, dapat disimpulkan bahwa bulan September 2006 merupakan puncak musim kemarau, dengan intensitas curah hujan diprakirakan < 30 mm.

V. PEMBAHASAN

V.1. Dari uraian diatas untuk bulan Juni 2006 dengan intensitas hujan dibawah normal berkorelasi dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Propinsi Lampung, sedangkan pada bulan Juli 2006 walaupun terjadi intensitas curah hujan yang bersifat diatas normal di daerah hilir,namun di daerah tangkapan hujan ( hulu ) tidak terjadi peningkatan intensitas curah hujan, sehingga aliran air ke penampungan ( waduk ) tidak mengalami kenaikan danberakibat berkurangnya pasokan air untuk daerah irigasi.

V.2.Untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan lahan diperlukan suatu managemen pengendalian kebakaran hutan ( forest fire management ), salah satu langkahnya adalah melalui pengembangan system peringatan bahaya kebakaran hutan dan lahan melalui system peringkat bahaya kebakaran ( Fire danger rating system ), FDRS merupakan suatu system manajemen kebakaran yang disesuaikan dengan pengaruh atau akibat factor-faktor bahaya kebakaran yang dinyatakan dalam satu atau lebih nilai kualitatf atau nilai indeks. FDRS membutuhkan masukan data cuaca pada saat kejadian dan data cuaca histories dari suatu tempat.

V.3 Untuk bulan September 2006 yang diprakirakan puncak musim kemarau diharapkan instansi terkait dapat mengantisipasinya, agar mengurangi kerugian yang diakibatkannya
.

About these ads

One Response to “PENGARUH IKLIM/CUACA TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN”

  1. jelas ada. Suatu pembangunan jaringan irigasi seharusnya mempelajari dahulu tipe iklim daerah tersebut. sehingga dapat menentukan daerah mana yang mendapatkan prioritas dengan keadaan Curah hujan di daerah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: