<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Welcome...well.....</title>
	<atom:link href="http://ardidafa78.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ardidafa78.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Mar 2011 04:50:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ardidafa78.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Welcome...well.....</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ardidafa78.wordpress.com/osd.xml" title="Welcome...well....." />
	<atom:link rel='hub' href='http://ardidafa78.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>DAERAH RAWAN GEMPA BUMI TEKTONIK DI INDONESIA ( KENAPA SELALU ADA KERUSAKAN ? )</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 09:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[FAUZI MSc, PhD Pusat Gempa Nasional BMG Jl Angkasa I/2 Kemayoran Jakarta 10720 Abstrak Kerugian akibat gempa bumi tidak langsung disebabkan oleh gempa bumi, namun disebabkan oleh keretakan bangunan sehingga terjadi runtuhan bangunan, kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, tsunami dan tanah longsor. Faktor kerentanan bangunan sangat erat hubungannya untuk perhitungan bencana gempa bumi di masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=208&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="text-decoration:underline;">FAUZI MSc, PhD</span></p>
<p align="center">Pusat Gempa Nasional BMG Jl Angkasa I/2 Kemayoran Jakarta 10720</p>
<p align="center">
<p style="text-align:center;">Abstrak</p>
<p><em>Kerugian akibat gempa bumi tidak langsung disebabkan oleh gempa bumi, namun disebabkan oleh keretakan bangunan sehingga terjadi runtuhan bangunan, kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, tsunami dan tanah longsor. Faktor kerentanan bangunan sangat erat hubungannya untuk perhitungan bencana gempa bumi di masa yang akan datang. Faktor gempa bumi tak dapat dielakkan tapi harus dihadapi dengan merencanakan bangunan beserta lingkungannya yang tahan terhadap gempa bumi</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Prediksi gempa bumi sampai sekarang masih dalam taraf penelitian sehingga faktor mitigasi lebih penting untuk mencegah kerugian dan bencana yang lebih besar. Untuk itu diperlukan analisa resiko yang mencakup parameter gempa bumi, bangunan dan geologi setempat dimana bangunan atau perencanaan kota berada. Analisa ini memerlukan kerjasama antara masing-masing profesional: Geofisikawan, Insinyur sipil dan Geologi.</em></p>
<p><span id="more-208"></span></p>
<ol>
<li>PENDAHULUAN</li>
</ol>
<p>Lapisan kulit bumi dengan ketebalan 100 km mempunyai temperatur relatif lebih rendah dibandingkan dengan lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi aliran konveksi di mana massa dengan temperatur tinggi mengalir ke daerah temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi tektonik. Disamping itu kita kenal juga gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan gempa buatan, Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pegunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam karena fluktuasi air dam, sedangkan gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral. Skala gempa tektonik jauh lebih besar dibandingkan dengan jenis gempa lainnya sehingga efeknya lebih banyak terhadap bangunan.</p>
<p>Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik (gambar 1). Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan pasifik di utara Irian dan Maluku Utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan <em>liquefaction</em>. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan tergantung pada beberapa hal: diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan.</p>
<p>Tulisan ini membahas beberapa aspek gempa bumi di Indonesia untuk menunjukkan daerah-daerah rawan gempa bumi berdasarkan aktifitas tektonik dan sejarah kegempaan yang pernah melanda Indonesia. Informasi ini bersifat regional karena belum menyentuh aspek lokal di sekitar bangunan yang mempengaruhi resiko bangunan terhadap getaran gempa bumi.</p>
<ol>
<li>DAERAH AKTIF GEMPA DI INDONESIA</li>
</ol>
<p>Gempa bumi terjadi di awali dengan akumulasi stress Di sekitar batas lempeng, sehingga aktifitas gempa banyak di sini. Walaupun kosentrasi akumulasi stress akibat tabrakan lempeng berada disekitar batas lempeng, akibatnya bisa sampai jauh, sampai beberapa ratus kilometer dari batas lempeng karena ada pelimpahan stress di kerak bumi, sehingga ada daerah aktif gempa di luar daerah pertemuan lempeng. Indo-Australia dengan sudut tabrakan miring terhadap garis batas (gambar 1). Kemiringan ini menyebabkan timbulnya sesar Sumatera dimana kosentrasi akumulasi stress atau pusat-pusat gempa di daerah ini.</p>
<p>Beberapa sesar aktif yang terkenal di Indonesia adalah sesar Sumatera, sesar Cimandiri di Jawa Barat, sesar Palu-Koro di Sulawesi, sesar Naik di Flores, sesar Naik di Wetar, dan sesar Geser di Sorong. Keaktifan masing-masing sesar ditandai dengan terjadinya gempa bumi. Gempa dangkal (kedalaman 0-50 Km) yang terjadi pada periode 1900-1995 dengan skala Richter 5.5 atau lebih, membuktikan lokasi-lokasi daerah aktif gempa di Indonesia. Sebagian dari gempa tersebut menimbulkan bencana, tergantung pada beberapa hal :</p>
<ul>
<li>Skala atau magnitude gempa.</li>
<li>Durasi dan kekuatan gempa.</li>
<li>Jarak sumber gempa terhadap perkotaan.</li>
<li>Kedalaman sumber gempa.</li>
<li>Kualitas tanah dan bangunan.</li>
<li>Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai.</li>
</ul>
<p>Faktor kualitas tanah dan bangunan adalah faktor yang sangat menentukan untuk pengkajian resiko gempa bumi. Kualitas tanah ditempat bangunan berdiri dinyatakan dengan percepatan tanah maksimum (<em>Peak Ground Acceleration</em>) dari catatan <em>exact accelerograph</em> sewaktu gempa besar terjadi. Hal ini sangat jarang terjadi karena periode gempa besar sangat panjang (50-100 tahun) dan karena <em>accelerograph</em> belum terpasang. Karena itu banyak cara empiris dilakukan untuk menemukan percepatan maksimum di perkotaan. Disamping itu lokasi bangunan terhadap pantai yang rentan terhadap ancaman tsunami dan lokasi bangunan terhadap perbukitan yang rentan terhadap longsoran perlu juga dimasukkan dalam pertimbangan asuransi.</p>
<ol>
<li>PEMETAAN GEMPA BUMI</li>
</ol>
<p>Pemetaan gempa bumi dapat dilakukan dengan 2 cara, pertama adalah dengan memetakan sumbernya atau hyposenter (pusat gempa) dengan skala dan kedalaman tertentu, kedua adalah dengan memetakan efeknya atau informasi makro gempa bumi. Magnitude gempa dengan magnitude 5 atau lebih dan kedalaman kecil kurang dari 50 km sering dipakai karena berpotensi untuk merusak bangunan, Informasi makro gempa bumi adalah peta dengan memakai skala <em>Modified Mercalli Intensity</em> (MMI), yaitu besarnya efek yang dirasakan oleh pengamat dimana dia berada tanpa memperhatikan sumbernya.</p>
<p>Aktifitas gempa yang pernah terjadi dari tahun 1900 sampai 1996 dengan skala magnitudo diatas 6,0 menunjukkan bahwa aktifitas gempa tersebut berada di sekitar tabrakan lempeng tektonik (<em>interplate earthquake</em>) dan di sekitar sesar (gambar.2). Ciri khas di daerah Indonesia, umumnya kekuatan gempa  yang  besar  (M &gt; 7) berada disekitar tabrakan lempeng, sedangkan gempa di dalam lempeng (<em>intraplate earthquake</em>) ukurannya relatif kecil. Namun akibatnya terhadap bangunan mungkin sama, karena gempa <em>interplate</em> berada di laut sedangkan gempa <em>intraplate</em> berada di darat yang relatif lebih dekat dengan perkotaan.</p>
<ol>
<li>BENCANA BENGKULU DAN SUKABUMI</li>
</ol>
<p>Gempa bumi pada 4 Juni 2000 dengan magnitide Mb 7.3 atau Mw 7.9 menimbulkan korban 100 orang lebih. Kerusakan terparah berturut-turut ada di pulau Enggano, Pasar Ngalam, Suharaja, Bengkulu Selatan dan di Kota Bengkulu. Laporan team survey dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menggambarkan tingkat kerusakan dengan memakai skala <em>Modified Mercally Intensity</em> (MMI) bahwa tingkat kerusakan terparah terjadi di Pulau Enggano (gambar 3). Kedalaman gempa dari USGS, CMT Harvard maupun BMG bervariasi dari 5 km sampai kedalaman 62 km. Fokal mekanisme juga bervariasi dari sesar naik denngan arah yang bervariasi atau sesar mendatar (gambar 2). Perbedaan ini pada dasarnya adalah perbedaan penggunaan data dan cara menganalisa data. Pada awalnya proses yang dilakukan operator dengan menambahkan data sesuai dengan kriteria yang diinginkan.</p>
<p>Hari rabu pagi tanggal 12 juli 2000 pada saat kantor baru saja mulai, gempa dengan kekuatan sedang mengejutkan penduduk di Jakarta, Bandung, Sukabumi dan Bogor. Pusat gempa dilaporkan dekat dengan Sukabumi. Gempa bumi melanda daerah Sukabumi untuk kesekian kalinya; tahun 1982 (M=5.5), 1973 (M=4.9), 1969 (M=4.5). Intensitas maksimum yang dirasakan di Jakarta adalah MMI III, yang berarti beberapa orang merasakannya, khususnya di bangunan bertingkat.</p>
<ol>
<li>MONITORING GEMPA SUSULAN</li>
</ol>
<p>Gempa susulan (<em>aftershock</em>) merupakan proses stabilisasi medan stress ke keseimbangan yang baru setelah pelepasan energi atau <em>stress drop</em> yang besar pada gempa utama. Setiap gempa tektonik dangkal (kira-kira&lt;100km) selalu diikuti oleh dislokasi atau patahan. Dislokasi ini mengganggu keseimbangan medium sekelilingnya, sehingga dengan sendirinya muncul gempa lainnya yang merupakan proses keseimbangan baru. Proses ini bisa berlangsung beberapa jam sampai berminggu-minggu, tergantung pada besar gempa utama dan sifat batuan. Frekuensi dan magnitude gempa susulan ini umumnya menurun secara expotensial terhadap waktu (gambar 4). Explorasi kurva frekuensi dan magnitude terhadap waktu bisa menjadi patokan prakiraan besarnya gempa susulan, sehingga bahaya dari gempa susulan ini menjadi sangat serius apabila gempa utama telah merusak struktur bangunan. Struktur bangunan yang sudah dirusak oleh gempa bisa dianggap seperti susunan dinding, batu dan pilar yang tak mempunyai daya ikat lagi satu sama lain. Sehingga gempa susulan dengan MMI IV saja sudah cukup untuk merubuhkan bangunan.</p>
<p>Untuk itu peranan peneliti gempa susulan baik dari BMG atau lainnya sangat diperlukan untuk melihat tingkat penurunan aktifitas gempa. Gempa susulan Bengkulu yang dilaporkan team survey BMG menunjukkan penurunan aktifitas secara exponensial (gambar 4). Pada hari ke empat terdapat gempa susulan dengan skala Mw 6.5. yang mengakibatkan kenaikkan aktifitas kedua setelah gempa utama.</p>
<ol>
<li>MONITORING GEMPA BUMI</li>
</ol>
<p>Kenyataan bahwa berita bencana sangat cepat menyebar di media massa, sehingga pemerintah atau lembaga lainnya sangat cepat bereaksi untuk memberikan bantuan untuk penduduk yang sedang dilanda bencana. Jika kita bisa meramalkan gempa bumi, maka bencana tentunnya tidak akan terjadi dan tidak perlu mengeluarkan dana. Namun tehnik untuk meramal gempa bumi sampai sekarang belum ada yang bisa dipertahankan secara ilmiah, sehingga kita perlu mempersiapkan diri, lingkungan dan bangunan yang tahan terhadap gempa bumi. Untuk itu diperlukan peta aktifitas gempa bumi. Untuk itu diperlukan peta aktifitas gempa bumi yang menunjukkan bahwa, aktifitas seismik (gempa) di Indonesia umumnya tinggi hampir di semua pulau. Setiap pulau mepunyai tingkat aktifitasnya masing-masing yang perlu di monitor dengan merapatkan jaringan seismograp sehingga informasi aktifitas gempa bumi bisa lebih teliti.</p>
<p>Bencana gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi adalah suatu bukti dari ketidakmampuan kerak bumi menampung akumulasi deformasi yang berasal dari proses berkesinambungan dari pergerakan tektonik lempeng atau pergerakan magma ke permukaan. Sehingga deformasi sesaat berupa gempa bumi atau letusan gunung api tak terhindarkan. Bencana gunung umumnya dapat ditanggulangi secara dini, karena gejala letusan bisa diamati, mulai dari arah letusan, arah aliran magma sampai pada luas daerah yang akan mengalami bencana dapat diperkirakan. Gunung Rabaul (Papua Nugini) contohnya meletus bulan September 1994. Persiapan evakuasi telah dilaksanakan secara bertahap 10 tahun sebelumnya, sehingga nyawa dan harta dapat diselamatkan. Hal ini menyangkut keberhasilan monitoring dan penelitian tentang tabiat pergerakan magma dan peramalannya.</p>
<p>Dua pihak antara masyarakat dan peneliti berkomunikasi dengan baik sehingga korban dapat dicegah. Karena itu interaksi antara masyarakat dan peneliti gempa bumi perlu ditingkatkan seperti halnya bencana gunung api. Korban gempa bumi disebabkan oleh runtuhan bangunan yang digoyang gempa, sedangkan korban letusan gunung api disebabkan oleh aliran lahar, magma, debu, panas atau kebakaran, dimana manusia tidak dapat bertahan ditempat kejadian dan harus mengungsi puluhan kilometer. Calon korban gempa bumi tidak perlu mengungsi asalkan bangunan dan lingkungan mereka tahan terhadap gempa bumi, karena itu sangat perlu kita sadari bersama bahwa jatuhnya korban karena runtuhan bangunan atau kejatuhan peralatan rumah tangga.</p>
<p>Resiko terhadap gempa bumi jelas ada, namun gejalanya tak sejelas bencana gempa bumi, karena itu pengertian dan pengetahuan masyarakat lebih ditekankan agar tidak membangun bencananya sendiri di tempat kediaman. Pengertian ini dapat ditingkatkan dengan penerangan dan penjelasan tentang kenyataan hidup di lokasi aktif gempa. Makin besar kesiagaan masyarakat atas bencana yang mengancam, maka makin kecil resiko yang dihadapi. Sarana yang paling efektif menurut penulis adalah pendidikan formal melalui program monitoring di sekolah atau program monitoring di daerah sekitar aktif gempa dimana pemerintah daerah langsung ikut didalamnya.</p>
<ol>
<li>PENANGGULANGN GEMPA BUMI</li>
</ol>
<p>Bencana alam terfokus pada korban manusia besarta miliknya. Peristiwa Lam extrim (tsunami sekitar 20 m misalnya) tidak masuk dalam kategori bencana alam apabila tidak menelan korban. Karena itu bencan alam bergantung pada dua faktor yang harus ada : peristiwa alam dan penduduk. Identifikasi daerah tsunami berdasarkan sejarah sudah bisa dikenali sebagai daerah bahaya tsunami yang harus diwaspadai. Apalagi untuk masa sekarang, faktor jumlah penduduk jauh lebih banyak, sehingga bencana alam bisa lebih besar dibanding 100 tahun yang lalu di tempat yang sama. Jumlah korban akibat tsunami sangat bergantung pada tinggi gelombang yang sampai di pantai. Disamping sejarah, perkiraan tinggi gelombang dapat dihitung melaui model sumber gempa, bentuk pantai dan bentuk permukaan dasar laut (<em>batimetri</em>). Sehingga pembangunan pelabuhan, perumahan di sekitar pantai dapat mempertimbangkan efek tsunami yang mengancam.</p>
<p>Selain tsunami, korban banyak juga terjadi karena runtuhan bangunan yang tak tahan terhadap percepatan gelombang gempa yang tinggi. Maksimum percepatan gelombang gempa terjadi pada saat gempa terbesar yang pernah terjadi di suatu daerah. Ini menjadi catatan yang sangat penting bagi perancang bangunan agar bisa merancang bangunan yang tahan terhadap percepatan maksimum tesebut. Namun tidak banyak data percepatan maksimum yang pernah di catat, sehingga dilakukan secara empirik dimana magnitude atau intensitas gempa dikonvermasikan ke percepatan dengan beberapa asumsi. Peranan untuk mengetahui bencana gempa bumi sangat diperlukan agar calon korban gempa bumi dapat dihindari dengan berbagai cara, namun yang paling penting menurut kami adalah ”melek” gempa untuk kesadaran kita hidup di daerah aktif gempa. Sangat analogi dengan sabuk pengaman di mobil, jika dipakai akan berguna sampai suatu kecelakaan yang fatal terjadi.</p>
<ol>
<li>PREDIKSI GEMPA BUMI</li>
</ol>
<p>Prediksi gempa bumi meliput parameter lokasi, waktu dan skala gempa bumi tersebut. Ketiga parameter tersebut harus ada, sehingga penanggulangan bencana bisa dilakukan dengan tepat dan proposional. Sayangnya sampai saat ini prediksi gempa yang tepat dan teliti belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, karena tanda-tandanya (precursot) tidak pasti. Gejala yang banyak diamati berdasarkan pada sifat-sifat batuan yang mengalami stress akibat tekanan yang ditimbulkan dari pegerakan lempeng tektonik. Gejala tersebut terlihat pada perubahan posisi satu titik relatif terhadap titik lainnya yang diamati dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Perubahan posisi tersebut dapat terlihat nyata setiap tahunnya, namun belum dapat dipakai untuk prediksi gempa. Gejala lainnya adalah perubahan muka air tanah, elektro magnetis, seismisitas, kecepatan gelombang dsb. Semuanya tetap belum dapat dipakai sebagai tanda yang jelas untuk prediksi gempa bumi.</p>
<p>Karena prediksi gempa bumi belum sempurna, Maka lebih tepat digunakan forcasting yang mencakup luasan daerah, Kisaran waktu maupun kisaran skala sebagai penanggulangan bencana ataupun analisa resiko gempa bumi. Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia dapat dibagi dalam 6 daerah aktifitas (gambar 5);</p>
<ol>
<li>Daerah sangat aktif.      Magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini, yaitu di Halmahera,      Pantai Utara Irian.</li>
<li>Daerah aktif.      Magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi. Yaitu di lepas      pantai barat Sumatera, Pantai Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Banda.</li>
<li>Daerah lipatan dan      retakan. Magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi yaitu di Pantai Barat      Sumatera, Kepulauan Suna, Sulawesi Tenggah.</li>
<li>Daerah lipatan      dengan atau tanpa retakan. Magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi yaitu      di Sumatera, Jawa Bagian Utara, Kalimantan Bagian Timur.</li>
<li>Daerah gempa      kecil. Magnitude kurang dari 5 jarang terjadi yaitu di daerah pantai timur      Sumatera, Kalimantan Tengah.</li>
<li>Daerah stabil, tak      ada catatan sejarah gempa yaitu daerah Pantai Selatan Irian, Kalimantan      Bagian barat.</li>
</ol>
<p>Pembagian daerah aktif gempa bisa juga ditinjau dari data makro atau intensitas gempa yang pernah dirasakan. Peta intensitas gempa bengkulu pada tanggal 4 Juni 2000 (gambar 4) adalah satu kasus data makro yang langsung bisa dikaitkan dengan bangunan. Beberapa kasus gempa merusak merupakan data makro yang menghasilkan peta intensitas regional seperti yang pernah dilakukan oleh J.Murjaya dan G. Ibrahim pada tahun 1998, (gambar 6). Pada peta ini, daerah yang terkena dampak gempa bumi dibagi menjadi 4 daerah;</p>
<ol>
<li>Daerah dengan      intensitas MMI IX atau lebih.</li>
<li>Daerah dengan      intensitas MMI VII – VIII.</li>
<li>Daerah denga      intensitas MMI V – VI.</li>
<li>Daerah dengan      intensitas MMI &lt; V</li>
</ol>
<p>Pembagian ini masih bersifat regional, dengan perkataan lain bahwa untuk analisa gempa pada suatu bangunan yang terletak pada suatu tempat di satu kota, memerlukan analisa mikro yang memasukkan beberapa unsur seperti lapisan tanah tempat bengunan, ketebalan lapisan, respon tanah dan bangunan terhadap getaran dsb.</p>
<ol>
<li>PERIODITS GEMPA BUMI</li>
</ol>
<p>Periode ulang gempa bumi maksudnya adalah gempa bumi dengan skala tertentu (misalnya M=8) akan terulang kembali di daerah yang sama pada kurun waktu tertentu. Perhitungan periode ulang ini memerlukan data paling tidak satu periode, lebih panjang lebih baik. Namun catatan gempa bumi dengan perelatan, baru dimulai pada awal abad 20. Karena itu untuk memperanjang periode pengamatan, dibantu dengan catatan intensitas gempa yang sudah dimulai sejak awal abad masehi. Selain itu penelitian paleoseismic juga bisa membantu memperpanjang periode pengamatan.</p>
<p>Gempa yang sama kekuatannya dengan gempa pada 4 Juni 2000 di Bengkulu pernah terjadi dua kali pada 1883, 1914. Sehingga banyak yang setuju dengan teori peramalan (forcasting) gempa dengan metode periode ulang berkisar 80 tahun. Disamping itu terdapat juga gempa yang ukurannya lebih kecil dengan periode ulang lebih pendek.</p>
<p>Perhitungan matematis periode ulang gempa bumi di Sumatera oleh peneliti BMG (Rasyidi Sulaiman dan Robert Pasaribu, 2000) menunjukkan bahwa periode ulang di Sumatera Selatan antara 8-34 tahun dengan nilai tengah 21 tahun. Gempa pada tahun 1979 di Bengkulu yang cukup besar dengan M=5.8, MMI=VIII, sedangkan gempa berikutnya adalah Juni 2000 (1979 + 21 tahun).</p>
<ol>
<li>PERANAN BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA</li>
</ol>
<p>BMG sebagai lembaga pemerintah yang bertugas untuk memonitor aktifitas gempa bumi di Indonesia sejak jaman kolonial Belanda. BMG mulai mengoperasikan stasiun pemantau gempa bumi permanen pada tahun 1908, yakni dengan memasang Seismograph Wichert komponen horisontal di Jakarta. Sedangkan komponen vertikal Seimograph tersebut dipasang pada tahun 1928 pada tempat yang sama.</p>
<p>Pada pertengahan dekade 1970, dengan disponsori oleh UNESCO, BMG mulai mengembangkan jaringan pemantau gempa bumi dengan mengoperasikan 28 stasiun Seismograph. Tiap-tiap stasiun dilengkapi dengan seismograph 1 komponen vertikal periode pendek, dan sinyal seismik direkam pada kertas seismogram. Mulai tahun 1990 sampai dengan saat ini, pada 10 stasiun seismograph dari 28 stasiun telah ditingkatkan menjadi 3 komponen periodependek.</p>
<p>Sebagai organisasi yang bertugas diantaranya melakukan pengamatan gempa bumi, BMG mempunyai 5 Balai Wilayah, Yaitu BMG Wilayah I di Medan, BMG Wilayah II di Ciputat, BMG Wilayah III di Denpasar, BMG Wilayah IV di Ujung Pandang dan BMG Wilayah V di Jayapura. Untuk pengolahan dan gempa bumi di Balai Wilayah, data gempa bumi dari stasiun Seismograph dikirim ke Balai Wilayah setiap 3 jam melalui SSB, telex, atau sarana telekominikasi lain, bersama-sama dengan data meteorologi. Sekarang ini fasilitas komunikasi sudah dilengkapi dengan sarana VSAT untuk komunikasi stasiun dengan Balai Wilayah dan dengan pusat.</p>
<p>Saat ini BMG mengoperasikan jaringan pemantau gempa bumi telemetri, yang terdiri dari 32 sensor. Sesuai dengan struktur organisasi BMG yang terdiri dari 5 Wilayah, jaringan tersebut dibagi menjadi 5 jaringan regional yang berpusat di Medan, Ciputat (Jakarta), Denpasar, Makasar dan Jayapura.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-209" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/lamp1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-209" title="lamp1" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp1.jpg?w=450&#038;h=259" alt="lamp1" width="450" height="259" /></a></p>
<p>Gambar 1. Lingkungan tektonik Indonesia terdiri dari tiga lempeng tektonik; Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia yang bergerak relatif terhadap lainnya (lihat arah panah). Batas lempeng tektonik merupakan daerah konsentrasi aktifitas gempa bumi yang diplot sebagai garis hitam dan segi tiga. Garis tebal merupakan sesar aktif, sedangkan lingkaran adalah stasiun seismograf.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-211" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/lamp2-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-211" title="lamp2" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp21.jpg?w=450&#038;h=244" alt="lamp2" width="450" height="244" /></a></p>
<p>Gambar 2. Distribusi gempa bumi yang pernah terjadi sejak tahun 1900 sampai 1996 dengan skala magnitudo &gt; 6. Kedalaman gempa dibedakan dengan symbol seperti symbol dalam box pada gambar.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-212" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/lamp3/"><img class="aligncenter size-full wp-image-212" title="lamp3" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp3.jpg?w=450&#038;h=352" alt="lamp3" width="450" height="352" /></a></p>
<p>Gambar 3. Isoseismal yang menunjukkan distribusi intensitas skala MMI (Modified Mercally Intensity) yang dilaporkan oleh team survey dari BMG.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-213" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/lamp4/"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="lamp4" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp4.jpg?w=450&#038;h=222" alt="lamp4" width="450" height="222" /></a></p>
<p>Gambar 4. Frekuensi gempa susulan yang dipantau oleh team survey BMG di Bengkulu</p>
<p><a rel="attachment wp-att-214" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/lamp5/"><img class="aligncenter size-full wp-image-214" title="lamp5" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp5.jpg?w=450&#038;h=219" alt="lamp5" width="450" height="219" /></a></p>
<p>Gambar 5. Pembagian daerah aktifitas gempa bumi (SEASEE, Vol.5, 1985) berdasarkan sejarah kegempaan.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-215" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/lamp6/"><img class="aligncenter size-full wp-image-215" title="lamp6" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp6.jpg?w=450&#038;h=275" alt="lamp6" width="450" height="275" /></a></p>
<p>Gambar 6. Klasifikasi peta gempa bumi berdasarkan data makro atau intensitas gempa di lokasi pengamat berada, (Jaya Murjaya dan Gunawan Ibrahim 1998).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=208&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/daerah-rawan-gempa-bumi-tektonik-di-indonesia-kenapa-selalu-ada-kerusakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lamp1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lamp2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lamp3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lamp4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lamp5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/lamp6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lamp6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMAHAMI IKLIM DALAM SKALA RUANG DAN WAKTU YANG BERBEDA</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/memahami-iklim-dalam-skala-ruang-dan-waktu-yang-berbeda/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/memahami-iklim-dalam-skala-ruang-dan-waktu-yang-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 08:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Tumiar Katarina Manik Staf Pengajar FAPERTA UNILA Abstraks Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya informasi iklim semakin meningkat. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan-persoalan yang diduga berkait dengan kondisi cuaca/iklim. Dalam kasus-kasus yang darurat masyarakat seringkali berharap tersedianya informasi/analisa yang cepat dan akurat dan merasa kecewa waktu mendapatkan prakiraan atau analisa yanmg dibuat oleh para ahli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=205&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Tumiar Katarina Manik</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong></strong>Staf Pengajar FAPERTA UNILA</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Abstraks</strong><em></em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya informasi iklim semakin meningkat. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan-persoalan yang diduga berkait dengan kondisi cuaca/iklim. Dalam kasus-kasus yang darurat masyarakat seringkali berharap tersedianya informasi/analisa yang cepat dan akurat dan merasa kecewa waktu mendapatkan prakiraan atau analisa yanmg dibuat oleh para ahli tidak tepat, Karena sikap ini, masyarakat lalu menganggap remeh hasil prediksi/analisa cuaca/iklim bahkan seringkali juga menganggap remeh peringatan dini yang diberikan. Satu hal penting yang belum banyak disadari adalah adanya faktor skala (baik skala luas maupun waktu) dari suatu unsur iklim. Sebuah informasi atau analisa harus diperhatikan berlaku untuk skala ruang dan waktu yang mana, juga harus dipikirkan analisa pada skala mana yang diperlukan untuk suatu masalah. Tulisan ini dimaksudkan untuk mamberikan informasi bagaimana memahami iklim dalam skala waktu dan ruang yang berbeda sehingga penggunaan informasi iklim lebih tepat, diharapkan metode analisa data juga akan disesuaikan dengan sakla ruang dan waktu yang diperlukan</em>.</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-205"></span></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Secara umum iklim dapat dikategorikan sebagi iklim global, regional, lokal dan mikro, Kategori ini juga berkaitan dengan jangka waktu: apakah kita bicara iklim dalan jangka waktu dekade, tahun, musim, bulan, hari atau jam. Semua skala ini penting bergantung pada tujuan kita dalam menganalisa data iklim. Skala ini juga menentukan metode apa yang akan digunakan dalam menganalisa data.</p>
<p>Iklim sebagai unsur alam memang bukan sesuatu yang mudah diduga atau dikontrol. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keagamannya, karena itu sulit diharapkan bahwa data-data iklim disuatu tempat dapat digunakan dengan akurat untuk tempat yang berbeda. Usaha para ahli untuk membuat klasifikasi iklim ditujukan untuk menolong kita memiliki gambaran rata-rata iklim disuatu wilayah, tetapi jangan secara oto,atis diartikan bahwa wilyah dengan klasifikasi iklim dapat menjadi dasar acuan yang menolong para pengambil keputusan untuk suatu rencana, tetapi mungkin tidak terlalu akurat bagi petani/pengusaha ketika mereka akan merealisasikan rencana tersebut secara lokal.</p>
<p>Tulisan ini akan mambahas faktor skala dalam pengamtan/analisa cuac/iklim. Diharapkan pengetahuan ini akan menolong kita memahami arti suatu analisa dan mendorong kita untuk melakukan pengamatan mandiri sehingga melengkapi keakuratan pengamatan/analisa resmi dari lembaga yang berwenang dan menjadi lebih tepat pada saat penerapannya dalam wilayah masing-masing. Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa topik bahasan yaitu : Faktor-faktor penentu iklim dalam berbagai skala, metode analisa data iklim sesuai dengan skalanya, dan satu contoh dari karagaman iklim dlam skala lokal.</p>
<ol>
<li>Faktor Penentu iklim</li>
</ol>
<p>Faktor penentu iklimsecara global</p>
<p>Faktor utama penentu iklim secara global adalah posisi bumi terhadap matahari. Faktor ini jelas mempengaruhi suhu disuatu wilayah. Dengan demikian, pembagian iklim secara global yang kita kenal sebagai daerah tropis, sub-tropis dan kutub lebih berdasarkan pada panas dinginnya suatu wilayah. Posisi bumi rehadap matahari juga mementukan panjang hari sutu wilayah. Tropis yang berada ditengah-tengah bola dunia, selau berada dalam posisi lurus dan tetap terhadap matahari, itu sebabnya daerah ini selau bersuhu tinggi dengan panjang siang dan malam yang berimbang; 12 jam terang, 12 jam gelap. Makin jauh suatu wilayah dari garis tengah. (eguator) makin besar sudut kemiringannya terhadap garis normal, sehingga jatuhnya sinar matahari tidak pernah tegak lurus. Posisi bumi yang miring  23.5 °  mengakibatkan wilayah lintang tinggi pada suatu waktu akan relatif lebih dekat ke matahari, pada waktu yang lain lebih jauh. Kondisi ini menciptakan perbedaan musim; panas dan denign, dan juga perbedaan panjang hari.</p>
<p>Oleh karena daerah tropis tidak terlalu beragam secara suhu (tinggi sepanjang tahun), kita tidak memiliki musim panas dan dingin. Sebaliknya karena berada di daerah panas yang berarti bertekanan udara rendah, wilayah tropis menjadi tempat pertemuan masa udara. Daerah dimana masa udara bertemu adalah daerah yang berpotensi memiliki curah hujan beragam, itulah sebabnya curah hujan menjadi unsur penting yang diperhatikan di wilayah tropis sehingga wilayah tropis secara umum dibagi atas tropika basah dan kering. Karena kita berada di daerah tropis maka bahasan selanjutnya lebih terpusat pada wilyah ini saja.</p>
<p>2.2 Faktor penentu iklim regional : tropis.</p>
<p>Seperti diatas, unsur iklim penentu di wilayah tropis bukan suhu tetapi curah hujan.  Curah hujan terjadi tentu saja pada wilayah berawan.  Awan banyak terbentuk di daerah yang merupakan pertemuan masa udara, sehingga terjadi pengangkatan udara; jika udara yang terangkat mengandung uap air maka awan akan terbentuk. Jelaslah bahwa arah angin dan kandungan uap airnya merupakan faktor penting untuk wilayah tropis, wilayah tropis tetap mendapat pengaruh dari perubahan musim di lintang yang lebioh tinggi.  Perubahan musim di wilayah tersebut yang berkaitan dengan perubahan suhu udara menentukan posisi</p>
<p>wilayah bertekanan rendah dan tinggi yang akhirnya menentukan perubahan arus angin dan dimana wilayah curah hujan tertinggi tergantung dimanan terjadi pertemuan arus udara.</p>
<p>Pada bulan-bulan sekitar Oktober sampai Februari wilayah bumi bagian utara mengalami musim dingin yang secara umum berarti menjadi daerah tekanan tingi (sumber masa udara) sementara wilayah selatan bermusim panas, berarti bertekanan rendah dan menjadi daerah tujuan angin. Dari wilayah utara angin melewati daratan benua yang luas (Benua Asia) sehingga angin ini tidak banyak mambawa uap air, sehingga daerah-daerah yang dilewatinya seperti India memiliki curah hujan yang rendah pada bulan-bulan seperti ini. Dengan demikian meskipun India tergolong negara tropis tetapi kondisi iklimnya berbeda dengan Indonesia. Daerah tropis di bagian barart seperti Amerika Latin mengalami hal yang mirip tetapi dengan kondisi geografis yang berbeda, maka iklim yang dihasilkan pasti berbeda juga.</p>
<p>2.3 Iklim regional : Tropis bsah-Indonesia</p>
<p>Sebelum memasuki Indonesia angin dari balahan bumi utara melewati Samudra Pasifik dan mambawa uap air yang jatuh sebagai hujan terutama di wilayah utara Indonesia, menandai musim hujan di Indonesia. Karena berasal dari arah timur laut Indonesia kita mengenalnya sebagai passat timur laut, sementara wilayah Indioa lebih mengenalnya sebagai monsoon dingin.</p>
<p>Pada bulan-bulan sekitar Maret &#8211; Agustus, wilayah bumi bagian utara berganti mengalami musim panas dan menjadi daerah tekanan rendah (daerah tujuan angin).  Sebaliknya wilayah selatan bermusim dingin yang berari bertekanan tinggi dan merupakan sumber angin. Angin ini juga melewati beberpa perairan yang meskipun tidak selelbab angin dari wilayah utar- jatuh sebagi hujan di wilayah Indonesia Timur bagian selatan, kita mengenalnya sebagi passat tenggara; pada saat ini sebagian besar Indonesia mengalami curah hujan yang berkurang.</p>
<p>Dalam skala regional kita mengatakan pada saat belahan bumi utara musim dingin, Indonesia mengalami musim hujan dan sebaliknya pada saat belahan bumi selatan musim dingin Indonesia mengalami musim kemarau. Meskipun secara umum hal ini benar tetapi tidak berarti curah hujan turun secara beragam.  Pada saat angin datang dari arah timur laut yang membawa aup air, wilayah utara Indonesia lebih dulu mendapat hujan dan semakin ke selatan semakin berkurang.  Begitu juga kalau dikatakan pada saat Indonesia musim kering beberapa wilayah di Indonesia Timur masih mendapatkan hujan.</p>
<p>Selain dipengaruhi angin yang berganti menurut musim tersebut, posisi dimana kedua arus itu bertemu juga mempengaruhi jumlah hujan yang turun. Seperti dikatakan diatas, secara umum daerah tropis adalah daerah bertekanan rendah dan menjadi tujuan angin. Baik dari utara maupun selatan angin bertemu di tropis di sepanjang wilayah yang dikenal sebagai Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ).</p>
<p>Sekalipun dua belahan dunia secara bergantian mengalami nusin panas, daerah tropis umunya tetap memeliki suhu udara lebih tinggi, sehingga secara tetap merupakan daerah bertekanan rendah. Pada saat belahan bumi utara mengalami musim panas, aliran udara dari bagian utara menuju equator lebih lemah dari pada angin dari bagian selatan. Karena dominasi angin selatanmaka garis pertemuan antara aliran udara utara-selatan berada lebih ke utara. Sebaliknya pada pergantian musim berikutnya garis pertemuan akan lebih ke selatan.  Seberapa jauh pergeseran garis pertemuan ini – jauh ke utara atau ke selatan – akan menentukan juga diwilayah mana terjadi curah hujan tertinggi.</p>
<p>Selain suhu udara, kondisi suhu air laut yang akan menentukan arah arus laut juga akan menentukan arah angin yang pada akhirnya kembali akan menentukan dimana dan seberapa besar curah hujan akan turun.</p>
<p>Dari penjelasan diatas, dapat mulai dipahami bahwa semakin kecil skala (ruang lingkup bahasan) iklim bukan berarti faktor yang berpengaruh semakin sedikit dan analisanya semakin sederhana, sebaliknya semakin banyak faktor yang berpengaruh dan semakin komplek interaksi yang terjadi sehingga analisa dan prediksi semakin sulit.</p>
<p>Dalam pengertian umum hal-hal dalam skala besar merupakan penjumlahan dari skala yang lebih kecil dengan kata lain penggabungan skala kecil akan menjadi skala besar, tetapi bukan begitu dalam iklim.  Dalam konteks pemahaman iklim, faktor-faktor dalam skala besar seperti diatas akan mengarahkan kondisi iklim dalam skala lebih kecil.  Faktor penentu iklim dalam skala besar akan dirasakan juga dalam skala yang lebih kecil tetapi dalam skala yang lebih kecil terdapat faktor-faktor tambahan lain. Dengan demikian iklim harus dipahami dalam skala besar lebih dahulu, tetapi harus diingat bahwa untuk menerapkan informasi tersebut dalam skala kecil diperlukan pengetahuan secara lokal.</p>
<p>Mengingat skala ruang yang besar (global regional) maka metode pengamatan yang dilakukan juga metode yang dapat melakukan pengamatan serentak dalam jangkauan ruang yang besar.  Selain menghimpun data dari stasiun-stasiun pengamat cuaca/iklim yang bergabung dalam suatu jaringan stasiun sinoptik, penggunaan satelit merupakan metode mutakhir yang digunakan.  Satelit bukan secara langsung mengamati berbagai unsur iklim tetapi menangkap radiasi baik yang dipancarkan bumi, dengan demikian diperlukan keahlian untuk menginterpretasikan gambar dan warna yang direkam satelit.</p>
<p>Faktor-faktor penentu iklim dalam skala global bersifat tetap misalnya : sudut kemiringan bumi terhadap matahari, sehingga daerah tropis tetap merupakan daerah yang mendapat matahari tegak lurus sepanjang tahun sehingga suhu tetap tinggi</p>
<p>dan daerah tropis tetap merupakan daerah bertekanan rendah dan menjadi tujuan angin. Faktor penentu iklim secara regional bersifat tetap sampai jangka waktu tertentu misanya dalam skala musim, kemudian berubah/berganti pada nusim berikutnya. Hubungan skala ruang dan waktu akan menentukan analisa dan informasi apa yang kita bisa peroleh.</p>
<p>Contoh informasi secara global adalah isu penipisan lapisan ozon, atau isu “global change”.  Kedua isu ini merupakan kesimpulan dari pengamatan jankga panjang, puluhan bahkan ratusan tahun dari pengamatan di banyak tempat dan dari analisa satelit.  Kita tidak akan mendapatkan bukti penipisan lapisan ozon atau “global change” dari pengamatan di satu stasiun alam jangka waktu pendek misalnya setahun.  Hal ini juga berkaitan dengan penerapannya.  Kedua isu diatas merupakan dasar pembicaraan iklim tingkat dunia, seperti dalam konvensi Geneva yang mengatur keluaran gas emisi dari berbagai negara, mengatur bagaimanan kerjasama antar negara khususnya antara negara maju dan berkembang dalam mnejaga iklim dunia.  Meskipun kedua isu itu penting, dan secara langsung/tidak langsung akan berpengaruh terhadap rakyat di berbagai negara termasuk Indonesia, informasi atau data isu tersebut tidak begitu berarti waktu kita membicarakan kapan awal musim hujan di Lampung.</p>
<p>Contoh informasi iklim secara regional adalah fenomena El-Nino/ La-Nina.  Memprediksi kedua gejala alam ini memerlukan informasi perubahan suhu laut dan arah angin di wilayah Samudra Pasifik (Tahiti-Darwin).  Catatan perubahan suhu tersebut tidak cukup diamati dalam satu dua hari tetapi paling sedikit setahun, untuk dapat melihat perubahan yang terjadi.</p>
<p>Karena Indonesia berada di wilayah yang dipengaruhi El-Nino/La-Nina, dan fenomena ini berkaitan dengan perubahan curah hujan yang penting untuk wilayah tropis, maka kita perlu mengamati fenomena ini dengan lebih cermat dibandingkan dengan isu penipisan lapisan ozon/’global change’.</p>
<p>Tingkat resiko kegagalan dan kelengkapan data dalam menganalisa/memprediksi juga berbeda dalam skala yang berbeda.  Sekali meskipun isu penipisan ozon penting, tetapi kehilangan data pengamatan satu hari atau mungkin satu bulan tidak akan berpengaruh banyak dalam tingkat global, karens data yang dimiliki adalah data puluhan bahkan ratusan tahun.  Kondisi rata-rata tahunan sudah cukup akurat untuk menjadi dasar analisa global.  Disamping itu andaikan prediksi tentang kenaikan suhu secara global akibat penipisan ozon tidak setepat analisa para ahli tidak akan menimbulkan akibat itu juga, tetapi dalam jangka panjang.</p>
<p>Dalam skala regional, resiko kegagalan prediksi dan kebutuhan akan data yang akurat semakin tinggi.  Pengamatan suhu permukaan laut/udara yang diperlukan untuk analisa El-Nino/La-Nina harus dilakukan setiap hari untuk mendapatkan rata-rata bulanan, kehilangan sekitar 30 % data sudah akan menggangu analisa.  Prediksi yang didapat dari analisapun diharapkan memiliki ketepatan tinggi; banyak perencanaan harus diubah jika terjadi perubahan waktu dan intensitas curah hujan karena kekeringan panjang dan banjir adalah masalah serius di negara-negara tropis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=205&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/memahami-iklim-dalam-skala-ruang-dan-waktu-yang-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERANAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM DALAM ANTISIPASI DAMPAK KONDISI LINGKUNGAN EKSTRIM</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/peranan-informasi-cuaca-dan-iklim-dalam-antisipasi-dampak-kondisi-lingkungan-ekstrim/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/peranan-informasi-cuaca-dan-iklim-dalam-antisipasi-dampak-kondisi-lingkungan-ekstrim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 08:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/peranan-informasi-cuaca-dan-iklim-dalam-antisipasi-dampak-kondisi-lingkungan-ekstrim/</guid>
		<description><![CDATA[1. PENDAHULUAN Cuaca dan iklim merupakan suatu kondisi udara yang terjadi di permukaan bumi akibat adanya  penyebaran pemerataan energi yang berasal dari matahari yang diterima oleh permukaan bumi.  Sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, peristiwa alam ini hingga kini belum banyak terkuak dengan rinci. Sebagai anugerah dan peristiwa alam, manusia hanya dapat mengikuti perkembangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=203&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. </strong><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Cuaca dan iklim merupakan suatu kondisi udara yang terjadi di permukaan bumi akibat adanya  penyebaran pemerataan energi yang berasal dari matahari yang diterima oleh permukaan bumi.  Sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, peristiwa alam ini hingga kini belum banyak terkuak dengan rinci.</p>
<p>Sebagai anugerah dan peristiwa alam, manusia hanya dapat mengikuti perkembangan dengan cara melakukan pengamtan secara terus menerus dengan teratur.  Tanpa adanya usaha untuk melakukan pengamatan dan pemantauan baik manual dan visual dengan peralatan inderanya (Remote sensing), kita akan mengalami kerugian baik moril dan materiil.  Apabila dengan adanya pertambahan penduduk yang tentunya mengeksploitasi bumi secara besar-besaran, sehingga kondisi ini telah memberi dampak munculnya beberapa isu mulai dari isu perubahan iklim, pemanasan global dan munculnya daerah padang pasir baru.</p>
<p><span id="more-203"></span></p>
<p>Munculnya isu tersebut yang diikuti dengan program pembangunan berkelanjutan merupakan  suatu rentetan usaha manusia dalam antisipasi kondisi alam ini untuk tidak merugikan kehidupan manusia yang tinggal dipermukaan bumi.  Seiring dengan munculnya isu ini dan didukung dengan data hasil pemantauan menunjukan hal yang sama kiranya masalah cuaca dan iklim merupakan hal yang perlu diperhatikan khususnya untuk mendukung kehidupan manusia kini dan masa mendatang.</p>
<p>Terlepas dari munculnya isu tersebut dan dengan kaitan untuk melakukan pengelolaan produksi pertanian yang sangat tergantung pada masalah kondisi cuaca dan iklim, pengelolaan cuaca dan iklim untuk menghasilkan produksi pertanian mutlak diperlukan lagi. Apabila dengan adanya</p>
<p>Variasi cuaca dan iklim sejak tahun 1991 di Indonesia yang telah terganggu usaha swasembada pangan nasional, kiranya pengelolaan maslah cuaca dan iklim sangatdiperlukan dalam kaitan dengan pengelolaan produksi pertanian.</p>
<p>Di Indonesia dengan adanya instansi penyelanggara pengelolaan iklim dan cuaca oleh Badan Meteorologi dan Geofisika, maka usaha pemerintah melaksanakan pengelolaan cuaca dan iklim untuk kepentingan pembangunan telah diupayakan. Sebagai hasil dalam pengelolaan cuac dan iklim oleh Badan Meteorologi dan Geofisika adalah beberapa produk antara lain prakiraan cuaca harian, evaluasi dan prakiraan sifat hujan dan prakiraan awal musim dan sifat sifat hujan dan prakiraan awal musim dan sifat curah hujan pada 2 musim di Indonesia. Produk atau hasil tersebut dari pengelolaan cuaca dan iklim di Indonesia diperoleh melalui pengamatan data di lapangan / di stasiun, analisis dan pengelolaan data dan penyusunan informasi diperoleh melalui usaha yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga hasil tersebut yang merupakan usaha bangsa Indonesia dalam kaitan pengelolaan cuaca untuk segala kebutuhan yang tergantung pada kondisi cuaca dan iklim.</p>
<p>Maksud penulisan dan penjelasa produk dari BMKG adalah untuk melakukan informasi sedini mungkin bagi masyarakat pengguna jasa agar dapat melakukan perencanaan dengan adanya kegiatan kondisi cuaca / iklim masa datang. Di lain pihak BMKG, tidak menggunakan istilah sirklus kejadian suatu kondisi iklim, dimana dengan cara menggunakan statistik ini kurang tepat digunakan sebagai cara prakiraan ulang kejadian dan kondisi perulangannya belum tentu benar. Catatan evaluasi musim kemarau dari tahun ke tahun sejak tahun 1960 menunjukan bahwa perkembangan kondisi musim kemarau meskipun sifat hujannya di bawah normal, tetapi secara rinci berbeda. Dengan demikian istilah ini disarankan agar dihindari dan contoh isu kemarau kering tahun 1992 setelah kemarau kering tahun 1991 ( pendapat ini berdasarkan pada perhitungan siklus 5 tahunan ) yang ternyata salah, contoh kejadian yang ada dan sempat memberikan keresahan di kalangan masyarakat tersebut perlu dihindari khususnya dalam penerapan metode statistik ( siklus kejadian perulangan ).</p>
<p>Sebagai suatu cara jalan keluar adalah memperhatikan informasi cuaca / iklim yang dikeluarkan oleh BMKG, karena BMKG dalam melakukan penyusunan informasi tersebut telah melibatkan berbagai metode dengan melihat perkembangan kondisi lingkungan yang terjadi. Oleh sebab itu untuk memperjelas segala sesuatu produk yang berkaitan dengan kegiatan pertanian terutama masalah musim, maka bahasan berikut akan membahas masalah cuaca dan iklim di Indonesia terutama yang menyangkut dengan produk jasa saat ini yang dimanfaatkan oleh kalangan pertanian. Dengan penjelasan ini diharapkan pengembangan lebih lanjut informasi untuk mendukung pertanian akan dapat dilakukan lebih lanjut.</p>
<p><strong>2.   ARTI DAN MANFAAT KLIMATOLOGI</strong></p>
<p>Sebelum menjelaskan arti dan manfaat klimatologi akan lebih baik apabila dijelaskan terlebih dahulu tentang cuaca dan iklim. Cuaca adalah kondisi fisis udara sesaat pada suatu tempat di muka bumi, sedangkan iklim adalah kondisi fisis udara rata-rata pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu (umumnya kurun waktu standar yang ditetapkan minimal 30 tahun).</p>
<p>Dari kedua definisi ini jelas antara cuaca dan iklim, dimana cuaca adalah bagian kondisi fisis udara sesaat tetapi iklim adalah rata-rata kondisi fisis udara dalam kurun waktu yang cukup panjang.</p>
<p>Sedangkan ilmu yang berkaitan dengan iklim adalah klimatologi, jadi klimatologi sebenarnya adalah ilmu yang mempelajari kondisi cuaca rata-rata dalam suatu kurun waktu tertentu. Oleh sebab itu dalam kaitannya dengan iklim terdapat istilah pada suatu tempat beriklim basah, sedang, dan kering (melihat karakteristik tingkat kebasahannya yang berkaitan dengan kondisi hujan yang akan turun) iklim tropik, subtropik,dan kutub ( melihat posisi geografis ) dan masih banyak lagi hal-hal dalam kaitanya dengan kondisi fisis lainnya.</p>
<p>Klimatologi adalah alat untuk mempelajari kondisi fisis udara pada suatu tempat misalnya curah hujan, suhu udara, angin yang bertiup, lama penyuryaan, tekanan udara, penguapan udara dan kelengasan / kelembaban udara. Dalam mampelajari kondisi iklim ini umumnya berkaitan dengan pengumpulan data pengamatan dari stasiun cuaca yang dikumpulkan mula-mula tiap-tiap jam, tiap-tiap hari, tiap-tiap bulan hingga tiap-tiap tahun. Dengan mempelajari kondisi iklim dari berbagai unsur cuaca tersebut, maka kondisi karakteristik fisi udara pada suatu tempat akan dapat diketahui.</p>
<p>Seperti diketahui dalam kaitannya dengan produksi pertanian umumnya sangat menentukan terutama hubungan antara produksi hasil pertanian dengan kondisi iklim yang bakal terjadi maupun yang telah berlangsung sebelumnya. Sehingga arti dari klimatologi dalam kaitannya dengan produksi hasil pertanian adalah sebagai alat atau tolok ukur produksi pertanian yang akan diperoleh dengan mengabaikan unsur buatan manusia atau munculnya hama, dengan kata lain klimatologi memberikan arti dalam perhitungan hasil produksi dengan kondisi rata-rata udara.</p>
<p>Misalnya kondisi tempat beriklim kering, kondisi ini akan berkaitan dengan kurang cocoknya komoditi pertanian tanaman pangan. Contoh ini cocok digunakan di Indonesia yang beriklim sedang hingga basah yang kondisi unsur hujan dan kelengasan udara sangat dominan bila dibandingkan dengan unsur lain (tekana, suhu, dan lama penyurnyaan). Unsur lain umumnya akan berguna apabila hal ini digunakan untuk kepentingan lainnya.</p>
<p>Manfaat dari klimatologi adalah untuk digunakan dalam perhitungan kondisi udara dalam suatu kurun waktu tertentu atau digunakan sebagai tolok ukur untuk menentukan kondisi udara dalam suatu kurun waktu mendatang dalam perlode lebih dati 1. bulan (bulanan, musiman dan tahunan) apakah akan berlebihan (diatas normal) dari harga rata-rata yang baku. Dengan melihat kondisi baik yang telah lalu, sedang berlangsungdan akan berlangsung, maka perhitungan hasil produksi kotor dati faktor alam dapat dihitung ..</p>
<p>Oleh sebab itu arti dan manfaat klimatologi dalam kaitan denngan produksi pertanian adalah untuk menghitung hasil produksi pertanian dari sisi kondisi alam baik yang telah berlangsung, sedang berlangsung dan akan berlangsung. Khusus untuk waktu mendatang hal ini berhubungan prakiraan produksi akan dapat ditentukan sebelumnya agar tidak terjadi kemelesetan yang sangat jauh atas kegiatan pertanian. Dilain pihak klimatologi akan dapat pula digunakan dalam penyebaran bahan pangan terutama dalam kondisi rawan pangan ataupun operasi pasar.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>ARTI DAN KEGUNAAN RAKIRAAN CUACA </strong></p>
<p>Sebagai telah didefinisikan bahwa cuaca merupakan kondisi udara sesaat yang umumnya paling lama adalah satu hari, maka prakiraan cuaea adalah suatu informasi kondisi udara yang akan terjadi untuk waktu mendatang (hari mendatang dan paling lama 5 hari untuk daerah lintang sedang dan 2 hari untuk daerah tropis). Sebagai bagian informasi kondisi udara dalam kurun waktu yang pendek maka arti prakiraan cuaca sebagai bahan untuk melihat kondisi udara dalam 2 harl mendatang dan yang paling penting kondisi hari pertamanya, sedangkan hari kedua umumnya ketepatan prakiraan akan semakin rendah). Faktor penentu kesalahan terletak pada model penyususnan prakiraan cuaca itu sendiri, masalah teknis.</p>
<p>Kegunaan prakiraan cuaca atau manfaat prakiraan cuaea umumnya berkaitan dengan segala kegiatan operasional seperti pengangkutan barang dalam suatu jarak tempuh harian, pemupukan tanaman atau pemetikan hasil atau hasil lain dengan segala kegiatan manusia dalam jangka waktu yang sangat pendek Atau antisipasi akan munculnya kondisi cuaea jangka pendek dati hasil kegiatan angin badai puting beliung, hujan badai (hujan dengan intensitas tinggi), badai guntur, suhu tinggi yang kesemuanya akan berdampak terhadap tanah longsor, banjir dan kebakaran.</p>
<p>Sehingga arti dan kegunaan prakiraan cuaca umumnya akan memberikan informasi kondisi udara untuk hari mendatang dan apabila kita sudah mengetahui informasi tersebut akan lebih baik dipersiapkan antisipasi untuk tidak menimbulkan kerugian moril maupun materil yang lebih tinggi. Khusus untuk operasional pertanian umumnya akan sangat baik untuk mendukung kegiatan penanaman tanaman baru, pemupukan, hasil panen, pengangkutan barang dan bongkar muat barang.</p>
<p><strong>4. EVALUASI MUSlM </strong></p>
<p>Sebelum dijelaskan evaluasi musim akan dijelaskan lebih dahulu tentang pengertian musim, musim atau bagian data iklim adalah kondisi rata-rata udara yang untuk kegiatan pertanian di Indonesia dihubungkan dengan kehadiran hujan atau pola curah hujannya tiap dasarian, bulanan hingga musiman.</p>
<p>Dimana kondisi musim di Indonesia terdapat 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau yang masing-masing kriterla suatu tempat dikatakan mempunyai 2 musim apabila curah hujan dalam suatu kurun waktu lebih dari 1 bulan mengalami curah hujan diatas 150 milimeter untuk kondisi musim hujan dan kurang darl 100 milimeter atau bahkan 0 milimeter untuk kondisi musim kemarau.</p>
<p>Sedangkan untuk menentukan awal musim hujan apabila pada suatu tempat dengan pola hujan tahunan seperti yang dijelaskan tersebut diatas dengan cara melihat jumlah curah hujan, apabila dalam 2 dasarian berturut-turut curah hujan yang terjadi terukur untuk tiap dasarian lebih dari 50 milimeter maka kondisi musim hujan telah mulai pada dasarian pertama ketika curah hujan terukur pertama kali, demikian sebailknya apabila da1am 2 dasarian berurutan curah hujannya kurang dari 50 milimeter kondisi awal musim kemarau telah berlangsung pada saat dasarian pertama terukur jumlah curah hujannya kurang dari 50 milimeter.</p>
<p>Berdasarkan kondisi kriteria tersebut, aka evaluasi awal musim pada suatu daerah prakiraan musim akan dapat dihitung atau dilakukan. Dengan eatatan bahwa kondisi rata­rata awal musim dari daerah yang bersangkutan perlu dihitung, demikian juga kondisi curah hujan untuk tiap dasarian, bulanan hingga musiman perlu dihitung. Hal ini dimaksudkan untuk diperbandingkan atau dievaluasi kondisi curah hujan yang berlangsung apakah kondisinya kurang dari jumlah normalnya, sama dan lebih tinggi dari jumlah normal tersebut.</p>
<p>Hasil evaluasi umumnya akan berkisar lebih awal, sama dan lebih lambat untuk kondisi awal musim dengan kondisi hujannya dalam satu musim bawah normal, normal atau diatas normal.</p>
<p>Kegunaan evaluasi musim adalah untuk mengetahui kondisi cuaca / iklim yang telah atau sedang berlangsung yang akan menentukan hasil produksi pertanian yang sedang dilakukan serta mengantisipasi apabila muncul kondisi yang berlangsung apabila meleset dari prakiraan sebelumnya, sehingga upaya-upaya meminimalkan kerugian akan dapat dilakukan.</p>
<p>Selain evaluasi yang umumnya berjangka waktu I bulan hingga I musim, evaluasi kondisi musim sebelumnya perlu dilakukan untuk</p>
<p>membantu dalam perhitungan kondisi musim baik yang sedang berlangsung maupun akan berlangsung serta akan dapat menjawab pertanyaan apabila muncul suatu gangguan pada hasil produksi pertanian. Hal ini diketengahkan sebagai antisipasi bahwa musim yang sedang dan akan berlangsung bervariasi dan tidak selamanya tetap. Sehingga data base ini sangat berguna baik bagi evaluasi yang sedang berlangsung dan perencanaan untuk waktu mendatang, dengan kata lain evaluasi musin yang sangat luas dengan melibatkan data-data untuk kurun waktu beberapa tahun ke belekang masih akan berguna untuk waktu mendatang.</p>
<p><strong>5) </strong><strong>CURAH HUJAN DAN KLASIFIKASI SIFAT HUJAN </strong></p>
<p>Curah hujan sebagai yang tercurah dari langit dan diukur oleh penakar hujan dengan luasan diameter tertentu merupakan kondisi air yang tercurah dalam suatu luasan tertentu. Dan untuk perhitungan kasar volume air yang jatuh dari langit dapar dihitung dengan mempertimbangkan luasan suatu daerah tertentu dikalikan dengan tinggi curah hujan yang terukur yang akan menghasilkan satuan volume air. Karena wilayah Indoneisa merupakan daerah tropis denfgan intensitas hujan berbeda dari satu tempat ke tempat lain meskipun jaraknya sangat dekat (satuan kilometer), maka perhitungan besarnya intensitas hujan akan ditentukan oleh banyaknya penakar hujan. Dengan perhitungan secara hidrologis yang dikenal dengan planimetri akan dapat dihitung intensitas rata-rata dalam suatu kawasan. Hitungan ini umumnya digunakan untuk menghitung volume air hujan yang tercurah dari langit untuk kepentingan pembentukan embung dam atau waduk.</p>
<p>Untuk kepentingan klasifikasi curah hujan, maka adanya hitungan rata-rata jumlah curah hujan yang terkumpul mulai dari harian, dasarian, bulanan, musiman dan tahunan Selama kurun waktu yang sangat panjang (lebih dari 30 tahun) akan digunakan dalam evaluasi atau perbandingan curah hujan yang terukur dlam kunm waktu seperti tersebut diatas yang umumnya dilakukan untuk kurun waktu dasarian hingga tahunan. Berdasarkan evaluasi atau perbandingan dari data curah hujan dalam k.urun waktu tersebut dengan data rata-rata curah hujan, maka akan dikenal tiga klasifikasi curah hujan antara lain :</p>
<p>a)       Klasifikasi sifat hujan di bawah normal, apabila curah hujan dalam kuron waktu tertentu terukur jumlah hujan sebesar kurang dati 85 % dari jumlah normal / rata­rata.</p>
<p>b)       Klasifikasi sifat hujan normal, apabila jumlah hujan dalam kurun waktu tertentu terukur antara 86 % hingga 114 % dari jumlah normal hujannya.</p>
<p>c)       Klasifikasi hujan di atas normal, apabila jumlah hujan dalam kurun waktu tertentu terukur lebih dari 115 % dari jumlah normal hujannya.</p>
<p>Dari ke tiga klasifikasi curah hujan ini, maka klasifikasi akan dapat dilakukan sekaligus sebagai usaha untuk melihat evaluasi baik kondisi daerah prakiraan musim dan non daerah prakiraan musim.</p>
<p>Dengan adanya klasifikasi sifat hujan ini akan dapat digunakan dalam perhitungan kondisi curah hujan di seluruh kawasan Indonesia.</p>
<p><strong>6. TINGKAT KETERSEDIAAN AIR </strong></p>
<p>Tingkat ketersediaan air merupakan usaha dari Badan Meteorologi dan Geofisika untuk digunakan dalam evaluasi melihat ketersediaan air bagi tanaman. Tingkat ketersediaan dihitung untuk kedalaman tanah sedalam 1 mater dan umumnya dikaitkan dengan produksi pertanian tanaman pangan. Dalam perhitungannya secara air merupakan suatu perhitungan antara curah hujan yang tercurah dikurangi dengan estimasi besarnya penguapan yang berlangsung dari suatu tempat pengamatan cuaca yang menghasilkan 3 klasifikasi tingkat ketersediaan air.</p>
<p>Adapun tingkat ketersediaan air tersebut umumnya berkaitan dengan klasifikasi sifat hujan, apabila daerah dengan klasifikasi kurang umumnya klasifikasi curah hujan bulanan di bawah normal, sedang apabila klasifikasi curah hujan berkaitam dengan kondisi hujan normal dan klasifikasi cukup apabila klasifikasi curah hujan diatas normal.</p>
<p>Berdasarkan klasifikasi tersebut, maka kegunaan informasi ini berguna bagi evaluasi kondisi lingkungan apakah tanaman pangan akan mengalami penyusutan bila ketersediaan kurang dan normal apabila ketersediaan air sedang dan cukupan normal apabila ketersediaan air sedang dan cukup perIu diantisipasi adanya banjir yang mungkin berkaitan dengan hujan bulanan di atas normal. Jadi manfaat dari informasi ini untuk melihat pertumbuhan tanaman pangan pada suatu tempat.</p>
<p><strong>7.PENUTUP </strong></p>
<p>Bahasan ini digunakan untuk menjelaskan hal­-hal yang mungkin perlu untuk diketahui antara lain :</p>
<p>Prakiraan cuaca dan iklim dihitung dengan memperhatikan kondisi peredaran global, regional dan lokal ynag umumnya dilakukan dengan hitungan statistik dan ditambah dengan memperhatikan kondisi fisis dan dinamis udara oleh sebab itu apabila hitungan secara statistik dengan menggunakan cara periode ulang umumnya tidak selamanya benar. Oleh sebab itu penyusunan prakiraan yang lebih baik apabila faktor lingkungan perIu dimasukkan seperti yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika.</p>
<p>Kondisi cuaca dan iklim akan bervariasi dan selamanya tidak tetap seperti musim kemarau kering mempunyai periodesitas. Hal ini perlu diluruskan, mengingat sumber penyebab kekeringan di Indonesia berkaitan dengan munculnya gejala alam El nino yang mempunyai periodesitas yang bervariasi ada yang 2 hingga 10 tahun. Oleh sehab itu agar tidak terjebakdalam perencanaan kegiatan produksi pertanian kondisi cuaca dan iklim akan tetap bervariasi dari waktu ke waktu untuk masa mendatang.</p>
<p>Dalam pengelolaan kegiatan pertanian disarankan untuk melakukan pengumpulan data basil produksi clan evaluasi kondisi musim terutama curah hujan bukan saja tahun yang sedang berlangsung akan tetapi beberapa tahun mundur. Kegunaan dan manfaat pengumpulan data ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan hasil produksi pertanian masa mendatang, sehingga penyusunan data base kondisi alam dan hasil produksi akan dapat digunakan dalam kesempatan masa mendatang dan mungkin pelajaran untuk menghadapi kondisi ekstrim dalam meminimisasi kerugian yang muncul. Demikian beberapa hal dalam kaitan dengan pengelolaan informasi cuaca dan iklim untuk mendukung pengelolaan produksi pertanian di Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=203&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/20/peranan-informasi-cuaca-dan-iklim-dalam-antisipasi-dampak-kondisi-lingkungan-ekstrim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMBAGIAN DAERAH TIPE IKLIM   KOTA BANDAR LAMPUNG</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 10:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[BAMBANG N. SETYANTO Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung Daerah Bandar Lampung meliputi daerah pesisir, tanah datar dan pegunungan dengan model geografi yang berbeda maka sebaran curah hujannya akan berbeda ditiap daerahnya, sehingga tipe daerah agro-klimatnya terbagi menjadi 4 (empat ) daerah. Dengan panjang musim pada umumnya 7 bulan dan sisanya musim penghujan. Permulaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=193&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAMBANG N. SETYANTO</p>
<p>Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung</p>
<p>Daerah Bandar Lampung meliputi daerah pesisir, tanah datar dan pegunungan dengan model geografi yang berbeda maka sebaran curah hujannya akan berbeda ditiap daerahnya, sehingga tipe daerah agro-klimatnya terbagi menjadi 4 (empat ) daerah. Dengan panjang musim pada umumnya 7 bulan dan sisanya musim penghujan. Permulaan musim kemarau pada pertengahan bulan April dan sebaliknya permulaan msuim hujan dimulai pada akhir Nopember.</p>
<p>I.	PENDAHULUAN<br />
<span id="more-193"></span>Curah hujan merupakan salah satu sumber daya alam yang didapatkan secara cuma-cuma, namun manfaatnya sangat besar dalam kehidupan manusia, khususnya perencanaan pola tanam pada sektor pertanian.<br />
Selain daripada itu curah hujan merupakan unsur iklim yang paling tinggi keragaman dan fluktuasinya, sehingga curah hujan merupakan unsur iklim yang sangat dominan memberikan karakteristik dan potensi sumber daya agro-kllimatnya di Indonesia.<br />
Faktor cuaca dan iklim yang berhubungan langsung dengan perencanaan agro-klimat adalah curah hujan, suhu udara dan radiasi matahari, sedangkan analisis iklim dalam hubungannya dengan resiko pertaniaan antara lain : pemodelan iklim untuk prakiraan iklim dan penyimpangannya, karakteristik dan analisis sifat hujan, intensitas curah hujan, awal musim (kemarau/hujan), panjang musim dan intensitas selama musim hujan berlangsung.</p>
<p>II.	KLASIFIKASI AGRO-KLIMAT</p>
<p>Wilayah Indonesia terletak diantara dua benua, sehingga sebagian besar mempunyai tipe iklim monsun (satu siklus satu puncak), pada daerah sekitar khatulistiwa mempunyai tipe iklim equatorial ( satu siklus mempunyai dua puncak hujan ) dan tipe lokal terjadi pada daerah sekitar kepulauan Maluku yang bercirikan kebalikan dari tipe monsun         ( pada saat monsun puncak, maka pada tipe lokal justru pada titik nadir). Monsun dapat diartikan suatu sistem cuaca di suatu wilayah tertentu. Monsun yang melewati Indonesia adalah Monsun Asia dan Australia yang bercirikan hembusan angin dari arah tertentu pada periode tertentu, sedangkan pada periode berikutnya angin tersebut berbalik arah, hal ini terjadi karena pergeseran matahari ( Bayong, 1994 ). Sedangkan untuk mempermudah dalam membuat prakiraan yang	langsung berhubungan dengan pertanian, maka dalam satu daerah administratif dibagi dalam beberapa daerah tipe agro-klimat. Menurut Thornthwaite bahwa tujuan pembagian daerah Agro-klimat untuk menetapkan secara ringkas jenis iklim yang ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif ( berpengaruh ), terutama air dan panas ( Bayong, et,al. 1999 ). Selanjutnya pada daerah tropis pembagian wilayah agro¬klimat didasarkan pada curah hujan, karena pada daerah tropis musim tanam sangat ditentukan oleh banyaknya curah hujan, hal ini untuk daerah non irigasi ( Sulistya, et, al. 2000 ). Dikarenakan hujan merupakan parameter yang sangat berpengaruh untuk menentukan pembagian daerah agro-klimat, maka menurut Oldeman wilayah agro-klimat dibedakan dalam 5 ( lima ) wilayah, masing ¬masing adalah :</p>
<p>a.	Untuk bulan basah berurutan ( agro-klimat utama )</p>
<p>Wilayah A : daerah yang mempunyai bulan basah &gt; 9 bulan berturut-turut.<br />
Wilayah B : daerah yang mempunyai bulan basah 7 &#8211; 9 bulan berturut &#8211; turut.<br />
Wilayah C : daerah yang mempunyai bulan basah 5 &#8211; 6 bulan berturut &#8211; turut.<br />
Wilayah D : daerah yang mempunyai bulan basah 3 &#8211; 4 bulan berturut &#8211; turut.<br />
Wilayah E: daerah yang mempunyai bulan basah &lt; 3 bulan berturut &#8211; turut.</p>
<p>b.	Untuk bulan kering berturutan              ( stratifikasi kedua )</p>
<p>1.	daerah yang mempunyai bulan kering &lt; 2 bulan berturut-turut.<br />
2.	daerah yang mempunyai bulan kering 2 &#8211; 4 bulan berturut-turut.<br />
3.	daerah yang mempunyai bulan kering 5 &#8211; 6 bulan berturut-turut.<br />
4.	daerah yang mempunyai bulan kering &gt; 6 bulan berturut-turut.</p>
<p>c.	Kriteria bulan basah dan bulan kering.</p>
<p>Dikatakan bulan basah jika curah hujan bulanan &gt; 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan &lt; 100 mm, sedangkan curah hujan antara 100 &#8211; 200 mm merupakan musim tanam.</p>
<p>Menurut Oldeman hubungan antara tipe daerah Agro-klimat dengan pertanian, sebagai berikut :</p>
<p>A : Sesuai untuk padi terus menerus tetapi produksinya kurang karena pada umumnya intensitas radiasi matahari rendah sepanjang tahun.<br />
B1: Sesuai untuk padi terus menerus, perlu direncanakan mulai tanamnya. Produksi tanaman akan tinggi bila panen jatuh pada musim kering.<br />
C1 :Satu kali tanam padi dan palawija dapat ditanam dua kali dalam setahun.<br />
C2 : Hanya dapat ditanam padi satu kali,<br />
palawija yang kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering.<br />
D1 : Dapat ditanam padi dengan varietas genjah ( umur pendek ), produksi tinggi karena intensitas radiasi matahari tinggi, waktu untuk menanam palawija cukup.<br />
D2 :  Hanya mungkin satu kali ditanam padi dan satu kali ditanam palawija, tergantung pada adanya persediaan air irigasi.<br />
E :  Daerah ini pada umumnya selalu kering, mungkin hanya dapat satu kali ditanam palawija dan tergantung adanya hujan.</p>
<p>Setelah dianalisis dari data curah hujan bulanan daerah Kemiling, Sumur Putri, Sumur batu, Sukarame, Pahoman yang merupakan milik PU. Pengairan dan Bergen (BMG) selama 20 tahun (1987-2005), maka dapat diambil kesimpulan untuk daerah Kota Bandar Lampung terbagi menjadi 4 daerah tipe agro-klimat, sebagai berikut :<br />
1.	Tipe C1<br />
Daerah Rajabasa, Kedaton dan sebagian Way Halim.</p>
<p>2.	Tipe D2<br />
Daerah Tanjung Karang Pusat, Kemiling dan Tanjung Karang Barat</p>
<p>3.	Tipe D3<br />
Sebagian Way Halim, Sukarame dan Tanjung Karang Timur dan Panjang.</p>
<p>4.	Tipe E<br />
Daerah Sumur Putri, Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Selatan.</p>
<p>III. Normal Musim</p>
<p>Untuk membedakan antara musim kemarau dan musim hujan, secara kuantitatif Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMG ) menggunakan kriteria, sebagai berikut :<br />
a.	Permulaan musim hujan ditandai dengan jumlah curah hujan selama satu dasarian ( sepuluh hari ) sama atau lebih dari 50 mm dan diikuti oleh dasarian berikutnya dengan curah hujan yang sama atau lebih dari 50 mm.<br />
b.	Permulaan musim kemarau ditandai dengan jumlah curah hujan selama satu dasarian ( sepuluh hari ) kurang dari 50 mm dan diikuti oleh dasarian berikutnya dengan jumlah curah hujan yang kurang dari 50 mm, sehingga musim kemarau masih dimungkinkan adanya curah hujan.</p>
<p>c.	Dikatakan musim kemarau basah apabila curah hujan berkisar antara 30 &#8211; 50 mm per dasarian atau berkisar antara 100 &#8211; 150 mm per bulan.</p>
<p>Berdasarkan daerah agro-klimat, kriteria musim, analisa time series data, maka dapat disimpulkan bahwa permulaan musim dan intensitasnya untuk daerah Bandar Lampung sebagai berikut:<br />
<a rel="attachment wp-att-195" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/11/"></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-195" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/11/"></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-195" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/11/"></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-195" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/11/"></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-195" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/11/"></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-195" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/11/"></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-197" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/12/"><img class="aligncenter size-full wp-image-197" title="12" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/12.jpg?w=450&#038;h=191" alt="12" width="450" height="191" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-198" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/22/"><img class="aligncenter size-full wp-image-198" title="22" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/22.jpg?w=450&#038;h=201" alt="22" width="450" height="201" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-199" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/attachment/31/"><img class="aligncenter size-full wp-image-199" title="31" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/31.jpg?w=450&#038;h=458" alt="31" width="450" height="458" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=193&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pembagian-daerah-tipe-iklim-kota-bandar-lampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/22.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/31.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">31</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANCAMAN AWAN KONVEKTIF TERHADAP PENERBANGAN</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/ancaman-awan-konvektif-terhadap-penerbangan/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/ancaman-awan-konvektif-terhadap-penerbangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 10:06:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[SAWARDI dan BAMBANG N SETYANTO Staf Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung Abstrak Permulaan musim (hujan ke kemarau), selalu ditandai dengan periode peralihan (panca roba) dengan selang waktu 1-3 dasarian, pada saat masa peralihan ditandai dengan adanya cuaca buruk, seperti : angin kencang, hujan lebat dengan periode pendek dan badai guntur, hal ini terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=191&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SAWARDI dan BAMBANG N SETYANTO<br />
Staf Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung</p>
<p>Abstrak</p>
<p>Permulaan musim (hujan ke kemarau), selalu ditandai dengan periode peralihan (panca roba) dengan selang waktu 1-3 dasarian, pada saat masa peralihan ditandai dengan adanya cuaca buruk, seperti : angin kencang, hujan lebat dengan periode pendek dan badai guntur, hal ini terjadi dikarenakan adanya aktifitas awan konvektif.<br />
Awan konvektif terjadi dikarenakan adanya pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan selatan pada paras bawah (850 mb) dari sirkulasi meridional yang merupakan daerah pumpunan (convergence), pada daerah ini memiliki peranan dalam pemindahan kearah vertical dari momentum, panas dan kelembaban, dan daerah ini dikenal dengan daerah pumpun antartropis atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ).Posisi ITCZ berubah-ubah sepanjang tahun sesuai dengan factor yang mempengaruhi diantaranya angin monsoon dan ada tidaknya seruak dingin dari utara katulistiwa.<br />
Sedangkan usaha pencegahan pada pesawat yang sedang terbang adalah dengan menghindari awan konvektif dan pemasangan beberapa anemometer di ujung landasan pacu untuk keselamatan pesawat  lepas landas.<br />
<span id="more-191"></span></p>
<p>I.	Pendahuluan</p>
<p>Musim hujan di Indonesia bersamaan dengan monsun Asia musim dingin, yang ditandai dengan adanya angin timur laut di Indonesia sebelah utara equator dan di sekitar equator angin tersebut membelok, sehingga di bagian selatan equator mengalami angin barat laut. Angin barat tersebut mempunyai momentum yang besar dan bersifat labil sehingga Indonesia, terutama sebelah selatan equator mengalami golakan udara yang kuat dan sebagai akibatnya terjadi pertumbuhan awan yang cukup banyak dan berpeluang terjadi cuaca buruk.</p>
<p>Wilayah Indonesia terletak antara dua benua, yaitu benua Asia dan Australia, sehingga sebagian besar wilayah Indonesia beriklim monsun, yang bercirikan oleh perbedaan musim kemarau dan musim hujan yang cukup jelas dan umumnya terdapat satu puncak curah hujan per tahun.</p>
<p>Monsun adalah suatu sistem cuaca di wilayah tertentu, seperti halnya monsun Asia yang merupakan salah satu sistem cuaca di wilayah tropis, monsun ditandai oleh angin umum (prevailing wind) yang bertiup dari arah tertentu pada periode tertentu, sedangkan pada periode berikutnya angin umum tersebut berbalik arah. Keadaan tersebut disebabkan oleh gerak matahari yang mengakibatkan perbedaan suhu pada dua daerah yang berbeda, selanjutnya terjadi perbedaan kerapatan udara dan tekanan udara, sehingga terjadi aliran udara antar dua tempat tersebut.</p>
<p>Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, permulaan musim hujan ditandai dengan jumlah curah hujan selama satu dasarian sama atau lebih<br />
besar dari 50 mm dan diikuti oleh dasarian berikutnya, juga dengan jumlah curah hujan yang sama atau lebih dari 50 mm.</p>
<p>2. Tinjauan Pustaka</p>
<p>Sirkulasi umum merupakan system peredaran atmosfer yang sangat berperan dalam transportasi energi dari suatu wilayah ke wilayah yang lain, istilah peredaran umum mempunyai dua arti, yakni system peredaran pada suatu saat yang diturunkan dari persamaan gerak dalam skala bumi dan rata-rata sebaran berbagai nilai unsur cuaca seluruh dunia. Dari istilah yang pertama peredaran atmosfer lebih terlihat dari aliran meridional (utara-selatan) dan zonal (timur-barat) dibanding gerak vertikal.</p>
<p>Teori tentang aliran meridional yang sampai saat ini yang masih dipandang mendekati adalah teori Hadley, dasar teori ini menganggap bahwa permukaan bumi homogen dan hanya faktor energi matahari yang mengambil peranan pada system tersebut, namun pada kenyataannya banyak unsur yang berpengaruh diantaranya adanya benua dan lautan serta profil permukaan bumi yang berlainan, sehingga teori sel Hadley tersebut terdapat perbedaan. Posisi sirkulasi Hadley tidaklah persis sama sepanjang tahun, sebagaimana daerah lain yang berbeda di wilayah tropis, wilayah Indonesia juga dipengaruhi oleh peredaran atmosfer yang berubah secara musiman, perubahan musiman yang terkenal adalah monsun, sehingga untuk wilayah ini sel Hadley sangat dipengaruhi oleh monsun, baik monsun dari Asia maupun Australia.<br />
Jika di belahan bumi utara sedang musim dingin maka tekanan tinggi di Asia dapat mencapai 1050 mb, dengan suhu yang rendah. Karena tekanan kuat kearah timur dan selatan, maka timbul angin kearah timur dan selatan yang cukup besar, sedangkan adanya perputaran bumi dari barat ke timur menimbulkan gaya coriolis yang menyebabkan adanya angin timur laut di atas Laut Cina Selatan yang disebut angin monsun dingin. Pengaruh angin dingin ini dapat diamati dengan adanya seruak dingin yang dikenali dalam bentuk suatu harga indeks yang disebut Indeks Seruak Dingin dan dapat diamati secara langsung dirasakan di wilayah selatan ekuator  dan memerlukan waktu penjalaran antara 72 jam atau 3 hari. Kejadian seruak dingin ini datangnya  dibarengi adanya vorteks akibat adanya dua massa udara yang berbeda rapat dan suhunya (Wirjohamidjojo,1980), pergerakan vorteks mengikuti gerak front yang bersamaan dengan datangnya gelombang dingin dan bergerak ke selatan, sehingga mempengaruhi pola sirkulasi Hadley pada wilayah tersebut.<br />
Daerah pertemuan antara massa udara dari belahan utara dan selatan pada paras bawah (850 mb) dari sirkulasi meridional merupakan daerah pumpunan (convergence), daerah ini jika dilihat dari citra satelit akan tampak seperti pita yang sempit membujur arah timur-barat dan sebenarnya merupakan deretan awan konvektiv yang cukup besar. Wilayah ini selanjutnya dikenal sebagai daerah Pumpun Antartropis atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ).</p>
<p>Disamping sirkulasi Hadley, aliran zonal yang masih diperhitungkan adalah peredaran sirkulasi Walker, yang umumnya disebabkan oleh interaksi antara laut dan udara sekitarnya. Sirkulasi Walker merupakan sirkulasi yang mempunyai pengaruh besar terhadap hujan di Indonesia, bila sirkulasi ini aktif. Di Equator, tekanan udara cukup rendah, sehingga banyak terjadi hujan dan terdapat pelepasan panas laten maksimum serta golakan yang besar, sedangkan pada daerah yang kurang hujan terjadi golakan yang kecil meskipun terjadi pelepasan panas laten, model inilah yang disebut sebagai sirkulasi Walker.</p>
<p>Memperhatikan kedua sirkulasi tersebut maka Indonesia dapat dikatakan sebagai daerah pertemuan sirkulasi utara-selatan (Hadley) dengan sirkulasi timur-barat (Walker) serta letak geografis yang berada disekitar ekuator dan kaya radiasi matahari sepanjang tahun, keadaan topografi dan kondisi lingkungan (kontinen maritime banyak mengandung air), sewajarnya Indonesia merupakan daerah banyak awan konvektif (Cumulonimbus) yang dapat membangkitkan terjadinya petir yang disertai badai guntur (thunderstorm), hujan lebat, microburst (sentakan angin terjun) serta wind shear (irisan angin).</p>
<p>Petir adalah fenomena alam akibat terjadinya lompatan listrik pada awan yang bermuatan positih (+) dengan sebagaian awan yang bermuatan negative (-), atau antara bumi yang bermuatan negative (-) dengan awan yang bermuatan positif (+). Guntur didefinisikan sebagai bunyi yang diikuti dengan cahaya kilat, hal ini disebabkan adanya pemanasan secara mendadak yang berkembang di sepanjang jalur lintasan kilat, sedangkan badai guntur didefinisikan sebagai peristiwa satu atau lebih pelepasan listrik udara secara mendadak, hal ini sebagai perwujudan dari cahaya kilat (lightning) dan disertai adanya suaru gemuruh yang sangat keras. Struktur listrik pada awan Cumulonimbus yang biasa menimbulkan badai guntur hasil pengamatan menunjukkan bahwa muatan positif (+) terdapat di puncak awan yang banyak terdapat kristal es, diantara puncak dan dasar awan yaitu pada daerah kisaran suhu &lt; 0oC sampai dengan &lt; -20oC banyak terdapat muatan negative (-). Sedangkan pada dasar awan yang berada pada daerah yang mengandung tetes hujan dan disekitar daerah terjadi udara naik banyak terdapat muatan positif dan sebagian lagi pada dasar awan umumnya bermuatan negative (gambar 1)</p>
<p>Sentakan angin terjun (Microburst) merupakan suatu proses yang terjadi pada awan cumulonimbus dan dapat dijelaskan sebagai berikut, kristal-kristal es pada awan cumulonimbus yang bercampur dengan tetes-tetes hujan akan turun karena gaya beratnya, udara disekitar awan umumnya lebih panas daripada dalam awan, maka sebagian kristal es akan menguap. Proses penguapan akan mendinginkan udara sekitarnya, sehingga udara sekeliling awan akan menjadi lebih berat dari udara di luarnya, sehingga udara tersebut akan turun dengan deras disebut dengan angin terjun (downdraft). Apabila kecepatanannya lebih dari 200 km/jam dan waktu yang singkat  maka disebut dengan microburst (sentakan angin terjun), hal ini sangat berbahaya bagi penerbangan. Angin terjun apabila mencapai tanah akan menyebar ke semua arah, sehingga daerah dibawah awan cumulonimbus yang matang mengalami angin yang berlainan arah,atau irisan angin (wind shear) dan didefinisikan sebagai angin dengan arah atau kecepatan berbeda-beda di beberapa titik pada suatu daerah yang terbatas, irisan ini akan berbahaya bagi penerbangan apabila terjadi di dekat  landasan pacu.(gambar 2).</p>
<p>3. Data</p>
<p>Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data hari guntur dari Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar lampung dari tahun 2000 – 2005, dengan operasional stasiun selama 24 jam.</p>
<p>4. Analisis</p>
<p>Dengan menggunakan data thunderstorm dari tahun 2000-2005 Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung diperoleh hasil analisis sebagai berikut :</p>
<p>Harga rata-rata hari guntur selama kurun waktu 6 (enam) tahun berdasarkan data tahun 2000-Oktober 2005 kejadian terbanyak terjadi pada bulan Januari 2002 yaitu 22 kali kejadian dan kejadian paling sedikit terjadi pada bulan Agustus 2003 dan 2004 yaitu tidak terjadi atau 0(nol) kali kejadian.</p>
<p>Pada bulan Mei sampai dengan Oktober merupakan bulan-bulan dengan intensitas rata-rata hari guntur kurang dari 6 (enam) kali kejadian, sebaliknya mulai bulan Nopember sampai dengan bulan April merupakan bulan dengan intensitas rata-rata hari guntur lebih dari 8 (delapan) kali kejadian dengan puncak rata-rata terjadi pada bulan Januari dengan rata-rata 14  kali kejadian. Sedangkan akumulasi rata-rata tahunan terjadi 84  kali kejadian dan kejadian terbanyak pada tahun 2004 yaitu 99 kali kejadian dan yang paling sedikit 63 kali kejadian yaitu pada tahun 2003.</p>
<p>Secara rinci karakteristik rata-rata hari guntur di stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung untuk bulan Januari-Desember dapat dijelaskan sebagai berikut :</p>
<p>4.1. Bulan Januari</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 8-22 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2002, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 14 kali kejadian.</p>
<p>4.2. Bulan Februari</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 4-15 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2005, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 9 kali kejadian.</p>
<p>4.3. Bulan Maret</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 5-18 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2005, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 11 kali kejadian.</p>
<p>4.4. Bulan April</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 2-16 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2002, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 8 kali kejadian.</p>
<p>4.5. Bulan Mei</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 3-9 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2001, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 6 kali kejadian.</p>
<p>4.6. Bulan Juni</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 1-8 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2000, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 4 kali kejadian.</p>
<p>4.7. Bulan Juli</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 1-10 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2002, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 5 kali kejadian.</p>
<p>4.8. Bulan Agustus</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 0-3 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2005, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 2 kali kejadian.</p>
<p>4.9. Bulan September</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 2-7 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2001, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 4 kali kejadian.</p>
<p>4.10. Bulan Oktober</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 1-10 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2000, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 6 kali kejadian.</p>
<p>4.11. Bulan Nopember</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 6-12 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2000, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 8 kali kejadian.</p>
<p>4.12. Bulan Desember</p>
<p>Distribusi hari guntur berkisar antara 6-16 kali kejadian dengan kejadian terbanyak pada tahun 2004, rata-rata kejadian pada bulan ini adalah 10 kali kejadian.</p>
<p>Selanjutnya rata-rata tahunan karakteristik dan hari guntur di Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung dapat dilihat pada gambar 3.</p>
<p>5. Pembahasan</p>
<p>Untuk mengetahui proses fisis terjadinya thunderstorm dan petir terlebih dahulu harus memahami proses fisis terbentuknya awan cumulus atau cumulonimbus yang didalamnya banyak mengandung muatan listrik positif (+) terutama pada puncak awan yang banyak mengadung kristal es, sebagian lagi mengandung muatan listrik positif (+) pada daerah yang terdapat tetes air, dan muatan negative (-) umumnya pada dasar awan. Akibat bertemunya kedua muatan (+) dan (-) tersebut menimbulkan petir dan biasanya disertai badai guntur yang menimbulkan suara yang cukup  keras. Disamping itu petir dapat juga terjadi karena ada loncatan muatan listrik positif dari awan dan berinteraksi dengan muatan listrik negative dari permukaan bumi.<br />
Terjadinya petir terdapat pada awan-awan yang menjulang tinggi yang lazim disebut awan cumulonimbus (Cb), dimana pada tahap matang awan tersebut terdapat angin naik (up-draft) sedangkan pada bagian lain terdapat angin turun (down-draft) biasanya disertai dengan hujan yang relative lebat dalam waktu yang relative singkat.</p>
<p>Jika ditinjau dari skala waktu (tahunan) pembentukkan awan cumulus dan cumulonimbus biasanya disertai dengan terjadinya petir dan sering muncul pada permulaan musim hujan hingga pada musim hujan itu sendiri. Bila ditinjau dalam skala waktu harian daerah daratan umumnya terjadi thunderstorm berlangsung pada sore hari dan di daerah lautan berlangsung pada malam hingga pagi hari, keadaan yang demikian ini berkaitan erat dengan proses fisis pembentukan awan. Dikarenakan daerah Lampung tipe iklimnya merupakan tipe iklim monsunal maka pada bulan Oktober – Maret umumnya banyak terjadi thunderstrorm, sebaliknya pada bulan April – September sedikit terjadi thunderstorm.</p>
<p>Syarat terjadinya thunderstorm dan petir bila pada daerah tersebut terdapat awan jenis cumulonimbus, salah satu cara untuk mendiagnosa pertumbuhan awan disuatu wilayah dengan radius antara 150-200 kilometer dapat digunakan data radiosonde, selama ini untuk mendiagnosa pertumbuhan awan dan sekaligus dapat digunakan untuk memprakirakan terjadinya thunderstorm digunakan radiosonde, namun dengan berkembangnya IPTEK dapat digunakan data radar atau satelit atau kedua-duanya agar lebih akurat. Sedangkan cara yang paling sederhana untuk pengamatan thunderstorm, seperti yang dilakukan oleh BMG sekarang ini adalah dengan cara manual, sehingga untuk mengetahui keakuratan data thunderstorm dapat dilakukan dengan membandingkan data thunderstorm antara satu stasiun dengan stasiun terdekat lainnya. Sedangkan untuk mengetahui apakah hujan yang ditimbulkan dari jenis awan Cumulonimbus atau dari jenis awan lainnya dapat dibandingkan antara data thunderstorm dengan hari hujan yang terjadi di daerah tersebut.</p>
<p>Dengan menggunakan data thunderstorm dari tahun 2000-Oktober 2005 Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung dan selanjutnya dirajah per tahunnya untuk didapatkan prosentase rata-rata bulanan  seperti tersaji pada gambar 4 diperoleh hasil pada bulan Januari 16,8 % sebagai bulan tertinggi terjadi petir dan bulan Agustus 2,2 % sebagai bulan paling sedikit terjadi petir, pada bulan peralihan dari musim hujan ke kemarau (April-Mei) terjadi penurunan intensitas aktivitas awan cumulonimbus dan sebaliknya pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan (Oktober-Nopember) terjadi kenaikkan intensitas aktivitas awan Cumulonimbus. Dalam pengamatan kejadian thunderstorm apabila dalam 1(satu) hari terjadi lebih dari 1 (satu) kali thunderstorm maka hanya dihitung 1 (satu) kali kejadian, sebagaimana diketahui bahwa adanya thunderstorm selalu diawali dengan adanya peristiwa petir. Thunderstrom yang kita dengar intensitasnya berkaitan erat dengan jarak dan intensitas petir yang ditimbulkannya, untuk itu bila musim hujan tiba yang biasa disertai petir dan thunderstorm sebaiknya pada saat terjadi thunderstorm berhenti sejenak untuk tidak menggunakan alat-alat elektronik atau mematikan aliran listrik untuk sementara. Disamping itu bila memiliki alat-alat yang sangat vital dan harganya relative mahal sebaiknya disertai dengan alat penangkal petir.</p>
<p>Untuk keselamatan penerbangan data atau informasi cuaca yang diperlukan antara lain : arah dan kecepatan angina permukaan, penglihatan mendatar, kondisi cuaca pada saat itu , keadaan perawanan, suhu dan kelembaban serta tekanan udara baik di laut maupun di permukaan landasan hal itu digunakan untuk keperluan pesawat  lepas landas maupun tinggal landas.Sedangkan untuk saat terbang informasi cuaca yang dibutuhkan antara lain : suhu udara, kelembaban, arah kecepatan angin serta keadaan perawanan pada lapisan-lapisan udara tertentu.</p>
<p>Dari hal-hal tersebut diatas yang perlu mendapat perhatian pada penulisan ini adalah pada saat lepas landas dan tinggal landas yaitu kondisi perawanan, dari gambar 1 dan 2, bahwa aktivitas awan cumulonimbus dapat mengakibatkan terganggunya gerakan pesawat. Aktivitas tersebut berupa angina haluan (head wind) yang akan mendorong pesawat naik, namun pada ketinggian tertentu pesawat didorong lebih kuat untuk turun kembali, kemudian pesaat udara ditiup oleh angina buritan (tail wind) sehingga pesawat akan kehilangan daya angkat dan akhirnya pesawat tidak terkendali dan terjadilah kecelakaan pesawat udara. Perbedaan angin-angin yang terjadi akibat adanya irisan angin (wind shear) yang berasal dari sentakan angina terjun (microburst) yang mempunyai kecepatan tinggi dan mendadak.</p>
<p>Untuk keselamatan penerbangan pada bulan-bulan Nopember hingga April untuk secara terus-menerus meminta informasi cuaca terkini ke Stasiun Meteorologi terdekat guna mengetahui adanya awan Cumulonimbus dan wind shear di sepanjang landasan pacu.</p>
<p>6. Kesimpulan</p>
<p>Berdasarkan analisis dan pembahasan tersebut diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :</p>
<p>6.1. Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar lampung terletak pada dataran rendah sehingga pola hujannya mempunyai tipe monsunal, thunderstorm dominant terjadi pada musim penghujan (Nopember-Mei) dibanding musim kemarau (Juni-Oktober)</p>
<p>6.2. Berdasarkan data 6 tahun terakhir menunjukkan bahwa bulan Januari merupakan bulan dengan intensitas thunderstorm terbanyak.</p>
<p>6.3. Untuk keselamatan penerbangan disarankan pada musim penghujan  para pilot pesawat terbang agar menghindari awan cumulonimbus, untuk menghindari thunderstorm dan wind share.</p>
<p>7. Acuan</p>
<p>Achmad Sasmito, M.Husni dan Gunawan Ibrahim.2002. Karakteristik Hari Guntur di Wilayah Indonesia. Bul.Met.Geo,vol.3.No.4 :1-14</p>
<p>A.Kusbagio dkk.1999. Tinjauan Cuaca bulan Januari dan Februari 1999 di Pulau bali dan Sekitarnya. Bul.Met.Geo.vol.1 No.1.:33-42.</p>
<p>……………….1999.Pengaruh Monsun Asia Dingin terhadap Musim di Indonesia.Bul.Met.vol.1 No.2:26-45</p>
<p>Trewartha,Glenn T. 1980. An Introduction to climate, fith Edition, MC Graw-hill Internasional Book Company</p>
<p>Tjasyono.B.1999.Klimatologi Umum: Penerbit ITB.</p>
<p>Gambar 1. Struktur Listrik Awan Cumulunimbus</p>
<p>Gambar 2. Ilustrasi Pesawat Lepas Landas terhadap Awan  Cumulunimbus</p>
<p>Gambar 3. Prosentase Rata-rata Bulanan Hari Guntur  .</p>
<p>Gambar 4. Prosentase Akumulasi Tahunan Hari Guntur</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=191&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/ancaman-awan-konvektif-terhadap-penerbangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGARUH IKLIM/CUACA TERHADAP   KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pengaruh-iklimcuaca-terhadap-kebakaran-hutan-dan-lahan/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pengaruh-iklimcuaca-terhadap-kebakaran-hutan-dan-lahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 10:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Drs. Bambang Nova Setyanto Koordinator BMG Lampung I. PENDAHULUAN Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia cenderung disebabkan oleh manusia dan didukung oleh kekeringan yang panjang sebagai akibat dari faktor rendahnya nilai curah hujan yang terjadi di beberapa daerah dalam waktu yang cukup lama. Di Propinsi Lampung pada setiap musim kemarau hamper selalu terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=189&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Drs. Bambang Nova Setyanto<br />
Koordinator BMG Lampung</p>
<p>I.   PENDAHULUAN</p>
<p>Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia cenderung disebabkan oleh manusia dan didukung oleh kekeringan yang panjang sebagai akibat dari faktor rendahnya nilai curah hujan yang terjadi di beberapa daerah dalam waktu yang cukup lama.</p>
<p>Di Propinsi Lampung pada setiap musim kemarau hamper selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luasan daerah yang berbeda setiap tahunnya. Daerah yang mengalami kekeringan pada umumnya daerah tadah hujan atau daerah lahan kering dengan permulaan musim kemarau lebih awal dan sifat hujannya dibawah normal serta pada umumnya panjang musim kemarau lebih panjang dari musim hujannya.</p>
<p>Populasi hutan di Propinsi Lampung makin menipis, yang tersisa hanyalah semak belukar. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi penjalaran kebakaran adalah bahan baker, cuaca dan topografi, sedangkan asal muasal kebakaran pada umumnya akibat ulah manusia.<br />
<span id="more-189"></span>A.	PENGARUH FAKTOR IKLIM / CUACA TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN.</p>
<p>A.I   Suhu Bahan Bakar dan Suhu Udara</p>
<p>Bahan  bakar merupakan bahan-bahan organic yang mudah terbakar dan merupakan salah satu factor yang menentukan bahan baker untuk terbakar dan sangat menentukan kebakaran.Suhu bahan baker dicapai melalui penyerapan radiasi matahari secara langsung serta kondisidari lingkungan termasuk udara dari sekitar bahan baker ( thoha 1998 ). Masind-masing jenis bahan baker memiliki suhu tertentu yang merupakan suhu kritis sehingga bahan tersebut akan terbakar.<br />
Suhu udara merupakan factor yang selalu berubah dan mempengaruhi suhu bahan baker serta kemudahannya untuk terbakar. Suhu udara tergantung intensitas panas atau penyinaran matahari. Daerah dengan suhu tinggi akan menyebabkan cepat terjadinya pengeringan bahan baker dan memudahka terjadinya kebakaran. Hal ini terutama terjadi pada musim kemarau yang panjang.</p>
<p>A.2   Kelembaban Udara</p>
<p>Kelembaban udara berasal dari evaporasi dari bahan-bahan air, tanah serta transpirasi tumbuh-tumbuhan. Di dalam hutan kelembaban udara akan sangat mempengaruhi mudah tidaknya bahan baker mongering dan terbakar, hal ini terjadi karena kelembaban udara dapat menentukan jumlah kandungan air di dalam bahan bakar.</p>
<p>A.3  Curah Hujan</p>
<p>Curah hujan mempengaruhi kelembaban dan kadar air bahan bakar. Bila kadar air bahan bakar tinggi akibat curah hujan yang tinggi maka sulit untuk terjadinya kebakaran. Namun sebaliknya bila curah hujan rendah disertai suhu tinggi serta didukung oleh kemarau yang panjang menyebabkan kebakaran akan mudah berlangsung.</p>
<p>A.4  Angin</p>
<p>Angin merupakan salah satu factor yang penting dari komponen-komponen cuaca yang mempengaruhi kebakaran ( Chandler et al. 1983 ). Angin mempengaruhi kebakaran hutan melalui beberapa cara diantaranya angin membantu pengeringan bahan bakar yaitu sebagai pembawa air yang sudah diuapkan dari bahan bakar. Angin juga mendorong dan meningkatkan kemampuan dengan memasok secara terus menerus , dalam hal ini oksigen yang merupakan salah satu komponen pemicu terjadinya kebakaran, selain itu angin menentukan arah penjalaran api dan mempunyai korelasi positif terhadap kecepatan penjalarannya. Namun besar kecilnya api ditentukan kadar air bahan bakar ( Affan 2002 ). Peran angina dalam mempercepat penjalaran api dapat berlangsung dengan adanya perbedaan tekanan udara akibat perbedaan pemanasan.</p>
<p>B.	  INDEKS CUACA KEBAKARAN</p>
<p>Indeks cuaca kebakaran ( Fire Weather Indeks/FWI ) merupakan subsistem dari The Canadian Forest Fire Danger Rating System ( CFFDRS )  yang telah diperkenalkan sejak tahun 1970. Kegunaan dari FWI adalah untuk menghitung pengaruh cuaca terhadap bahan bakar hutan dan kebakaran hutan ( De Groot 1987 ). Kegunaan lain dari FWI yaitu untuk mengevaluasi bahaya kebakaran sebagai fungsi dari kondisi cuaca sekarang dan yang lalu.</p>
<p>Sistem FWI terdiri dari enam komponen yaitu tiga komponen berupa kode kelembaban bahan bakar ( FFMC/Fine Fuel moisture Code, DMC/ Drough Moisture Code dan DC/ Drough Code ) dan tiga lainnya berupa indeks perilaku kebakaran yang menggambarkan laju penyebaran, konsumsi bahan bakar dan intensitas kebakaran ( Van Wagner 1987 ).Tiap-tiap komponen memiliki ilai dengan skala masing-masing.</p>
<p>Sistem FWI dirancang untuk menghasilkan jumlah informasi yang maksimum dengan jumlah data harian atau antar jam yang minimum.FWI juga memiliki rancangan dimana komponen-komponennya dapat digunakan baik individu maupun dikombinasikan untuk keluaran system. Pada FWI terdapat tiga kode kelembaban dengan model bahan bakar permukaan, sub permukaan dan bagian dalam tanah dalam berbagai ukuran dan luasan. Disamping itu ada tiga indek perilaku bahan bakar yang mengindikasikan potensi tingkat penjalaran,konsumsi kebakaran dan intensitas pada tipe bahan bakar yang standar. Adapun penjelasan enam indek-indek cuaca kebakaran diatas adalah sebagai berikut :</p>
<p>•	FFMC ( Fine Fuel Moisture Code )<br />
Menandakan kemudahan relatif mulainya api dan terbakarnya. Kode ini berkorelasi dengan kejadian-kejadian kebakaran yang disebabkan oleh manusia.Kode ini digunakan untuk indicator potensi penyulutan api menjadi kebakaran.</p>
<p>•	DMC ( Duff Moisture Code )<br />
DMC adalah peringkat numeric dari kelembaban rata-rata dari lapisan tanah organic yang tidak padat dengan kedalaman sedang. Kode ini memberikan indikasi konsumsi bahan bakar pada lapisan humus sedang dan materi kayu berukuran sedang.</p>
<p>•	DC ( Droug Code )<br />
DC adalah peringkat numeric dari kandungan kelembaban dari lapisan tanah organic yang padat. Kode ini adalah indicator penting dari dampak kemarau musiman pada bahan bakar hutan, dan banyaknya nyala bara api dalam lapisan organic yang dalam dan bongkahan kayu besar. Kode ini digunakan sebagai indicator potensi membaranya api dalam suatu kebakaran.</p>
<p>•	ISI ( Initial Spread Index )<br />
ISI adalah peringkat numeric dari tingkat penyebaran api yang diharapkan. ISI menggabungkan akibat angin dan FFMC pada tingkat penyebaran tanpa pengaruhb kuantitas variable bahan bakar.Kode ini menunjukkan bagaimana kebakaran akan menjalar / merambat setelah penyulutan api.</p>
<p>•	BUI ( Buildup Index )<br />
BUI adalah peringkat numeric dari tingkat bahan bakar yang akan dikonsimsi dan merupakan kombinasi dari DMC dan DC.</p>
<p>•	FWI ( Fire Weather Index )<br />
FWI adalah peringkat numeric dari intensitas kebakaran yang merupakan kombinasi dari ISI dan BUI, indeks ini secara umum dapat disebut sebagai indeks bahaya kebakaran ditinjau dari segi cuaca dan dituangkan dalam beberapa kelas bahaya kebakaran.Bahaya kenakaran adalh indikasi umum dari semua factor yang mempengaruhi kemudahan terbakar dan tingkat kesulitan pengendalian kebakaran. Kode ini digunakan sebagai indicator prakiraan kesulitan pengendalian kebakaran.</p>
<p>II. EVALUASI KONDISI CUACA</p>
<p>II.1  Bulan Juni 2006</p>
<p>Sepanjang bulan Juni 2006 kondisi dinamika atmosfer di sekitar Propinsi Lampung berlangsung secara normal, yang artinya pada bulan tersebut angina passat tenggara yang bertiup dari Benua Australia sesuai dengan siklusnya maupun Suhu Muka Air Laut di barat Propinsi Lampung tidak terlalu panas ( 27 0 C – 28 0 C ) serta tidak adanya gangguan tropis di sekitar Laut Cina Selatan maupun Perairan Pasifik, sehingga wilayah Lampung mengalami musim kemarau.<br />
Dari data curah hujan yang masuk ke BMG Lampung, pada umumnya daerah di Propinsi Lampung curah hujannya berkisar 51-100 mm, terkecuali Branti dan Metro yang curah hujannya lebih dari 100 mm, sedangkan yang kurang dari 50 mm adalah Menggala dan sekitarnya, sehingga dapat dikatakan sebagian besar wilayah sifat hujannya di bawah normal.</p>
<p>II.2 Bulan Juli 2006</p>
<p>Sampai dengan tanggal 22 Juli 2006 kondisi dinamika atmosfera di sekitar Propinsi Lampung sangat dipengaruhi oleh aktivitas gangguan tropis di Laut Cina Selatan, baik berupa Tropical Siklon maupun Low Pressure, yang berlangsung sampai tanggal 22 Juli sebanyak 4 kali, sehingga keadaan ini mempengaruhi sebaran curah hujan di beberapa wilayah di Propinsi Lampung, misalnya di Branti 103 mm, normal ( 65-88 ) mm dan dikatakan curah hujannya bersifat diatas normal. Sedangkan untuk daerah tangkapan air, dengan titik control Way Tenong, intensitas hujannya 75 mm, sedangkan normal ( 112-152 ) mm dan dapat dikatakan dibawah normal.</p>
<p>III. EVALUASI TITIK API</p>
<p>Dari infra merah citra satelit NOAA menunjukkan bahwa pada bulan Juni 2006 di Propinsi Lampung telah terjadi 6 ( enam ) titik api, di Lampung tengah 1 ( satu ) kali yang lokasinya di areal perkebunan, di Lampung Timur 1 ( satu ) kali lokasinya di areal semak belukar, dan di Tulang Bawang 2 ( dua ) kali lokasinya di areal hutan gambut dan 2 ( dua ) kali di peladangan ( www:lapan.go.id ). Sedangkan pada bulan Juli 2006 di Propinsi Lampung belum terjadi titik api.Begitupun untuk bulan Agustus belum terlihat adanya titik api.</p>
<p>Lebih lanjut dikatakan 1 ( satu ) titik api, dalam satu piksel NOAA yang berdimensi 1&#215;1 km itu diduga ada api atau bara api, adapun citra satelit tersebut dapat menerima sinyal untuk menjadi titik api apabila ada sumber panas atau bara api sebesar &gt; 320 0 K ( siang hari ) dan &gt; 315 0 K ( malam hari ), hal ini khusus untuk bukan daerah industri atau pusat transportasi.</p>
<p>IV. PROSPEK KONDISI CUACA BULAN SEPTEMBER 2006</p>
<p>Dari perkembangan dinamika atmosfer dan series data, dapat disimpulkan bahwa bulan September 2006 merupakan puncak musim kemarau, dengan intensitas curah hujan diprakirakan &lt; 30 mm.</p>
<p>V. PEMBAHASAN</p>
<p>V.1. Dari uraian diatas untuk bulan Juni 2006 dengan intensitas hujan dibawah normal berkorelasi dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Propinsi Lampung, sedangkan pada bulan Juli 2006 walaupun terjadi intensitas curah hujan yang bersifat diatas normal di daerah hilir,namun di daerah tangkapan hujan ( hulu ) tidak terjadi peningkatan intensitas curah hujan, sehingga aliran air ke penampungan ( waduk ) tidak mengalami kenaikan danberakibat berkurangnya pasokan air untuk daerah irigasi.</p>
<p>V.2.Untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan lahan diperlukan suatu managemen pengendalian kebakaran hutan ( forest fire management ), salah satu langkahnya adalah melalui pengembangan system peringatan bahaya kebakaran hutan dan lahan melalui system peringkat bahaya kebakaran ( Fire danger rating system ), FDRS merupakan suatu system manajemen kebakaran yang disesuaikan dengan pengaruh atau akibat factor-faktor bahaya kebakaran yang dinyatakan dalam satu atau lebih nilai kualitatf atau nilai indeks. FDRS membutuhkan masukan data cuaca pada saat kejadian dan data cuaca histories dari suatu tempat.</p>
<p>V.3  Untuk bulan September 2006 yang diprakirakan puncak musim kemarau diharapkan instansi terkait dapat mengantisipasinya, agar mengurangi kerugian yang diakibatkannya<br />
.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=189&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/pengaruh-iklimcuaca-terhadap-kebakaran-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KARAKTERISTIK HARI GUNTUR DI WILAYAH INDONESIA</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/karakteristik-hari-guntur-di-wilayah-indonesia/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/karakteristik-hari-guntur-di-wilayah-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 10:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Achmad Sasmito, Muhamad Husni, Gunawan Ibrahim Badan Meteorologi dan Geofisika ABSTRACT Indonesia is a maritime continent and is located in the tropical region. Most of the region are abundance of cloud development causing rainfall through out the year. This region is also notorius with lightning and thunderstorm occurrences. Lightning accompanied by thunderstorm can generally be [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=185&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Achmad Sasmito, Muhamad Husni, Gunawan Ibrahim</p>
<p style="text-align:left;">Badan Meteorologi dan Geofisika</p>
<p>ABSTRACT</p>
<p>Indonesia is a maritime continent and is located in the tropical region. Most of the region are abundance of cloud development causing rainfall through out the year. This region is also notorius with lightning and thunderstorm occurrences.</p>
<p>Lightning accompanied by thunderstorm can generally be seen coming from cumulonimbus cloud. Actually, lightning is very useful especially for plantation because it is able to fertilizer the soil in relation to the N2 development as essential substances, yet lightning is able to disturb us, even inflicts the environment because it causes damages especially for electronic instruments.</p>
<p>Result of thunderstorm analysis during 1991-2000 showed that Cilik Riwut Palangkaraya Meteorological Station ( Central Kalimantan ) experiented 300 thunderstorm days during a year. This value was becoming the highest occurrences taken from 50 thunderstorm observation station in Indonesia. Generally, location around the equator could be known as a rich source of thunderstorm. This condition rainfall through out the year and having twice maximum rainfall occurrences around april and October.</p>
<p>1.	PENDAHULUAN<br />
Wilayah Indonesia berada di antara dua benua asia dan Australia, dua samudera Hindia dan Pasifik. Letaknya membentang di sepanjang daerah katulistiwa, sebagai wilayah maritim kontinen hampir 2/3 bagian wilayahnya merupakan lautan dan sebagaian lagi terdiri dari kepulauan besar dan kecil yang jumlahnya kurang lebih 17.000 kepulauan. Terkadang dipengaruhi adanya gangguan siklon tropis, disamping itu wilayah Indonesia memiliki banyak gunung baik yang masih aktif maupun yang telah mati. Memperhatikan letak geografis, topografi, dan lingkungan tersebut pembentukan cuaca dan iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh deklinasi matahari, mosun, lokal, gangguan siklon tropis, dan couple yaitu interaksi antara laut dan atmosfer.</p>
<p><span id="more-185"></span> Berdasarkan hal tersebut diatas dari hasil analisis Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMG ) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia kaya hujan dengan tipe iklimnya dibedakan paling tidak menjadi tiga yaitu tipe Equatorial, Monsun dan Lokal.<br />
Daerah yang memiliki tipe iklim monsun ditandai dengan dua musim dalam setahun, yaitu pada bulan oktober-Maret biasanya berlangsung musim hujan dan pada bulan berikutnya April – September biasa berlangsung musim kemarau yang ditandai dengan curah hujan relatif sedikit.<br />
Memperhatikan keadaan iklim di wilayah Indonesia yang banyak hujan tersebut, sekaligus memberikan arti bahwa di wilayah Indonesia banyak tumbuh awan, termasuk jenis awan cumulonimbus (Cb) yang biasanya juga banyak menerbitkan thunderstorm. Peristiwa alam yang diterbitkan dari awan Cb dan pengaruhnya cukup ekstrim terhadap kehidupan, salah satu di antaranya adalah petir / kilat ( lightning, simbol ), biasanya disertai adanya guntur ( thunder, simbol T ) atau badai guntur ( thunderstorm, simbol  ) Petir adalah penomena alam akibat terjadinya lompatan listrik pada awan yang bemuatan positf (+), dengan sebagian awan yang  bermuatan  negatif (-), dapat juga terjadi antara awan dan udara, atau antara bumi yang bermuatan negatif (-) dengan awan yang bermuatan positif (+).<br />
Guntur didefinisikan sebagai bunyi yang diikuti cahaya kilat. Hal ini disebabkan adanya pemanasan secara mendadak yang berkembang disepanjang jalur lintasan kilat tersebut. Sedangkan badai guntur didefinisikan sebagai peristiwa satu atau lebih pelepasan listrik udara secara mendadak, hal ini sebagai perwujudan dari cahaya kilat dan disertai adanya suara gemuruh yang sangat keras.<br />
Berkah listrik udara yang diciptakan oleh Tuhan berdasarkan hasil penelitian dapat menyuburkan tanah karena terbentunya unsur harga (N2). Namun di sisi yang lain akibat terjadinya badai guntur justru mengganggu dan bahkan terkadang menimbulkan bencana yaitu terjadinya kerusakan pada alat-alat elektronik yang dilalui listrik tersebut. Sebagai contoh seperti yang terjadi di kota Banjarmasin pada tanggal 05 Nopember 2000 pukul 17.00 WITA yang mengakibatkan jaringan telphone di wilayah pusat kota. Bahkan pada keadaan cuaca yang ekstrim dapat menimbulkan kebakaran, seperti yang terjadi di daerah Cilacap ( Jawa Tenggah ) yaitu petir yang disertai badai guntur menyambar kilang penyimpanan minyak milik Pertamina. Padamnya listrik wilayah Kalimantan Selatan karena isolator pada jaringan SUTT dan saluran gardu induk Cempaka disambar petir. Bahkan beberapa media juga melaporkan ada pejabat saat bermain golf meninggal akibat disambar petir.<br />
Untuk mengetahui karakteristik badai guntur dan sekaligus sebagai gambaran umum keadaan listrik udara di wilayah Indonesia dalam penelitian ini digunakan analisis data hari guntur (thunderstorm day ) dari stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang tersebar diseluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke tahun 1991 – 2000 yang berjumlah 50 stasiun.<br />
Oleh karena thunderstorm dan petir dihasilkan oleh awan jenis Cb, maka dalam tulisan ini juga disampai sekilas teori mengukur kelistrikan pada awan dan mendiagnosa pembentukan awan yang dikaitkam dengan kemungkinan terjadinya thunderstorm dengan menganalisisi radiosonde.<br />
2.	TINJAUAN  TEORI<br />
Guntur adalah bunyi yang diikuti dengan cahaya kilat, hal ini disebabkan adanya pemanasan secara mendadak yang berkembang disepanjang lintasan kilat tersebut. Munculnya guntur diawali dengan adanya pelepasan muata listrik positip (+) ke medan listrik yang bermuatan negatif (-) dari awan-awan konvektif yang disertai dengan adanya cahaya kilat (ligtning). Sumber terjadinya kilat berasal dari lompatan bunga api listrik yang terjadi antar medan muatan listrik dari awan dengan awan (intra / inter cloud), awan dengan massa udara (cloud and air mass), dan terjadi antara awan dengan permukaan bumi (cloud and ground).<br />
Sedangakan badai guntur didefinisikan sebagai peristiwa satu atau lebih pelepasan listrik udara secara mendadak. Hal ini sebagai perwujudan dari cahaya kilat dan disertai adanya suara gemuruh yang sangat keras (sumber Geneva, World Meteorological Organization, International cloud atlas, Vol 1 Geneva WMO, 1956. p. 76).<br />
Guntur biasanya dapat terdenngar pada jarak lebih dari 10 miles sampai kiara-kira 40 miles, akibat adanya refraksi gelombang suara pada atmosfer lapisan bawah. Terkadang guntur tidak dapat didengar pada jarak kurang dari 10 miles, khususnya ketika terjadi kilat yang berasal dari awan ke awan (inter cloud).<br />
Struktur listrik pada awan cumulonimbus yang biasa menimbulkan badai guntur hasil pengamatan menunjukkan bahwa, muatan positif (+) terjadi di puncak awan yang banyak terdapat kristal es, diantara pucak dan dasar awan yaitu pada daerah kisaran suhu &lt; 0o C s/d &lt; &#8211; 20o C banyak terdapat muatan negatif (-), Sedangkan pada dasar awan yang berada pada daerah yang mengandung tetes hujan dan disekitar daerah dimana terjadi udara naik banyak terdapat muatan (+), dan sebagian lagi pada dasar awan umumnya bermuatan (-).<br />
Sedangkan gambaran umum mengenai kelistrikan di atmosfer dianalogikan sebagaai rangkaian sirkit tertutup. Tegangan listrik terjadi karena adanya perbedaan potensial sebasar VT antar lapisan ionosfer denga permukaan bumi, adanya gas-gas di atmosfer harga potensial tersebut akan berkurang sebesar i. R1 antara permukaan bumi dengan puncak – puncak awan. Besarnya penurunan tersebut yaitu Vt – i.R1 = 36.000 Volt. Sementara itu besarnya tahanan antara lapiasan konduksi dengan permukaan bumi R2 harganya 200 Ohm, dan kapasititansi (C) untuk atmosfer pada cuaca cerah yaitu 0.25 farrad.<br />
Untuk menghitung harga arus listrik (i) dihitung dengan persamaan sbb :<br />
I = j x 4.∏.R2   &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (1)<br />
= 1800 Ampere<br />
Dengan j = 3.5 x 10-16 amp/cm2 ( harga rata – rata kerapatan arus konduksi di seluruh permukaan bumi ) dan R = radius bumi.<br />
Jika jumlah perbedaan potensial berharga 0 dan didifinisikan perpindahan arus mengalir dalam tahanan, sehingga beda potensial dapat dituliskan sbb :<br />
V + 1/C ∫t i.dt  &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (2)<br />
Jika harga potensial pada rangkaian tersebut berharga 0, maka dapat dituliskan persamaan sbb:<br />
i.R2 + 1/C ∫t i.dt  = 0 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (3)<br />
untuk R = R2, maka solusi persamaan (3) dapat ditulis sbb :<br />
i = V/R.e (-t/RC)    &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. (4)<br />
Harga V/R di atmosfer sebanding dengan arus konduksi yang harganya = 1800 A. Harga RC disebut konstanta waktu dalam rangkaian tersebut. Untuk harga t/RC = 1, maka besarnya i akan meluruh sebesar 1800/e Ampere, untuk harga awal peluruhan tersebut yaitu 36.5 %. Jika diambil t = 4.6 RC, maka dapat ditulis sbb:<br />
t           = 4.6 RC<br />
= 4.6 (R(z) / 4.∏.R2 (R2/Z)<br />
= (4.6 / 4∏). (R(Z)/Z) &#8230;&#8230;&#8230;.. (5)<br />
Dimana R adalah besarnya harga tahanan atmosfe, C adalah kapasitansi, R(Z) adalah besarnya tahanan dalam suatu kolom udara (satuan dalan esu), Z tinggi lapisan atmosfer, dan R adalah radius bumi. Berdasarkan hasil pengamatan kew observatory di London (Inggris) harga R(z) = 4&#215;10 Ohm/cm = 4,45&#215;10 esu/cm, dan z = 18 kilometer.<br />
Untuk menghitung besarnya kapasitansi diantara dua permukaan bola dapat dituliskan sebagai berikut :<br />
C          = 1/( 1/R1-1/R2)<br />
= ( R2/Z) esu<br />
= (R / (9&#215;10) z farad<br />
Dimana R1 dan R2 adalah radius permukaan bumi dan radius lapisan konduksi harganya dalam sentimeter, z = R2 – R1 adalah tinggi efektif lapisan konduksi.<br />
Berdasarkan penelitian diperkirakan bahwa pada saat yang bersamaan dipermukaan bumi ini terjadi thunderstorm berkisar antara 1800 &#8211; 6000 yang menghasilkan arus listrik sebesar 1800 Ampere tersebut. Penelitian yang dilakukan C.E.P. Brooks memperkirakan bahwa dipermukaan bumi ini terjadi thunderstorm yaitu sekitar 44.000 per hari.<br />
Perlu untuk diketahui bahwa arus listrik yang dihasilkan dari thunderstorm berkisar antara 0,3 – 1 Ampere. Sedangkan berdasarkan survey yang dilakukan oleh Gish dan Wait ( 1950) menunjukan bahwa thunderstorm menghasilkan arus berkisar antara 0 – 6,5 Ampere dan harga rata-rata yaitu 0,6 Ampere berdasarkan sample pengukuran 24 thunderstorm.<br />
Setelah mengetahui gambaran umum distribusi kelistrikan di atmosfer, selanjutnya akan dipelajari prinsip dasar menghitung kelistrikan pada awan Cumulonimbus. Secara singkat dapat dijelaskan seperti pada gambar 3. Dari gambar tersebut bila posisi O dinyatakan sebagai detector untuk mengukur medan listrik dengan muatan Q1 dan Q2 yang berada pada titik tinggi Z1, dan Z2. Sedangkan x menyatakan jarak mendatar antara detector dengan proyeksi dasar awan, maka besarnya  medan listrik sesuai hukum Coulomb dinyatakan sebagai berikut :<br />
∂V / ∂r	= Er<br />
= 4∏σ<br />
= Q/r2 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..(6)<br />
Dengan :<br />
σ	= Q/A<br />
A	= 4.∏. r<br />
Dari gambar tersebut kontribusi medan listrik terhadap bumi dapat ditulis sebagai berikut :<br />
Ez	= 2 Er.sin(α)<br />
= 2 ( Q / r ) sin (α) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. (7)<br />
r 2 = x 2 + z 2<br />
Dan<br />
sin (α) = Z /( x 2 + z 2)1/2<br />
E1	= -2 Q1 z1 /(x2+(z1)2 )1/2 &#8230;. (8)<br />
E2	= 2 Q2 z2 /(x2+(z2)2 )1/2 &#8230;. (9)</p>
<p>Dalam kenyataannya harga Q1 berharga negatif, sedngkan Q2 berharga positif, total penjumlahannya dapat dituliskan sebagi berikut :<br />
E = E1 + E2<br />
= 2.Q1.z2 / (x2+(z2)2)1/2 &#8211; 2.Q1.z1 / (x2+(z2)2 )1/2   &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..(10)<br />
Jika harga Q1 = Q2 dan z2 – z1 = 1 kilometer ( 1 km &lt; z2 – z1 &lt; 4 km ), dan ditetapkan harga E = 0, pada x = 3 kilometer, dan E = 25 Volt/cm pada x = 5 kilometer. Bila kondisi tersebut diatas disubtitusikan ke dalam persamaan (5), maka diperoleh harga z1 = 1.7 kilometer, z2 = 2.7 kilometer, dan Q1 = Q2 = 43 Coulomb, pada contoh ini harga x &gt; 8 kilometer.<br />
Oleh karena awan Cumulus mempunyai pertumbuhan yang sangat beragam di berbagai tempat, hasil pengukuran muatan listrik pada partikel air hujan diberbagai titik tinggi ( 5.000 – 20.000 feet) yang dilakukan oleh “ R. Gunn “  tanggal 24 Juli 1945 disekitar awan Cumulus yang aktif membangkitkan thunderstorm diperoleh hasil yang beragam. Selanjutnya untuk menentukan total muatan listrik pada suatu volume V dan luas permukaan A dapat dituliskan sebagai berikut :<br />
Q	= ∫ A . dA<br />
= ∫V q.dV &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. (11).<br />
Bila radius tetes adalah r dan memiliki kerapatan muatan q yang serba sama atau mempunyai kerapatan muatan permukaan sehingga persamaan (11) dapat dituliskan sebagai berikut :<br />
σ ∫ 4∏r2 d ( 4.π.r2) = q ∫4∏r3   d(4πr3 )<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. (12)<br />
= (4/3).π.r3.q/(4πr2)<br />
= rq/3 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (13)<br />
Sedangkan kerapatan medan listrik sesuai dengan persamaan (1) dapat dinyatakan sebagai berikut :<br />
Er	= (4/3). π.r.q         &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (14)<br />
Sesuai dengan hasil pengukuran yang dilakukan oleh R. Gunn dimana harga r adalah 1 kilometer dan harga q rata –rata pada titik tinggi 5000 – 12000 feet diperoleh harga 3,7 x 10-5. Bila kedua besaran tersebut dimasukkan dalam persamaan di atas maka diperoleh kerapatan medan listrik yaitu :<br />
Er	= (4/3.π x 105 x 3,7 x 10-5<br />
= 15,5 statvolt/cm<br />
= 4650 volt/cm<br />
Jika diasumsikan harga q adalah 3,7 x 10 esu/cm, sehingga besarnya muatan Q dapat dihitung sebagai berikut :<br />
Q	= 4/3 π.r3.q<br />
= 4/3. (.(105 ) 3 x 3.7 x 10-5<br />
= 15.5. 1010 stat Coulomb<br />
= 52 coulomb<br />
Hasil tersebut mendekati harga yang dilakukan pengukuran secara langsung dengan menggunakan pesawat yang dilakukan oleh Gish dan Wait yaitu -39 coulomb pada titik tinggi 5000 feet dan +39 Coulomb pada tinggi 20.000 feet.<br />
Setelah memahami gambaran umum tentang listrik udara, cara mengukur kelistrikan pada awan &#8211; awan Cumulonimbus, selanjutnya perihal lain yang harus difahami yaitu bagaimana cara mendiagnosa bakal tumbuhnya awan yang dapat membangkitkan petir yang disertai thunderstorm.<br />
Sebagaimana diketahui dalam pengamatan cuaca (synop) salah satu unsur klimatologi yang diamati yaitu thundestorm. Selama ini pemantauan yang dilakukan oleh BMG umumnya dengan cara manual (terdengar bunyi adannya badai guntur) dengan kesepakatan bahwa bila dalam sehari terdapat berkali-kali terjadi badai guntur dianggap sebagai satu hari adai guntur dianggap sebagai satu hari badai guntur (thunderstorm, day). Namun dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan tehnologi, akhir-akhir ini BMG juga telah mengembangkan pemantauan petir dengan alat “lightning detector”. Alat ini dapat merekam frekwensi, posisi lintang dan bujur), dan jarak terhadap kedudukan alat perekam terjadinya guntur/petir.<br />
Sedangkan untuk mendiagnosa di suatu wilayah apakah bakal tumbuh awan-awan, Cumulus atau Cumulusnimbus yang memungkinkan terjadinya thunderstrom dapat digunakan alat radiosonde. Alat tersebut tediri dari dua bagian utama yatu penerima (reciever) dan sensor yang diterbangkan dengan balon udara yang terdiri dari sensor tekanan udara (P), temperatur (T), dan kelembaban udara (RH). Pada saat operasional alat tersebut dapat merekam secara langsung sinyal sensor (P, T, RH), dan sekaligusmerekam kedudukan azimut dan elevasipada berbagai paras tersebut dapat ditung arah dan kecepatan angin. Untuk menganalisis data rason tersebut dapat memprakirakan tinggi dasar dan puncak awan, labilitas, gerak vertikal, tinggi lapisan adukan (mixing depth), dan kandungan uap air di udara.<br />
Sebagaimana diketahui bahea mekanisme pembentukan awan dapat terjadi karena beberaopa hal diantaranya yaitu karena turblensi mekanis, gerak konveksi, orografi, dan gerakan udara naik dalam skala yang luas (front, palung, ITCZ, atau adanya gangguan siklon tropis).<br />
Dengan menganalisis data radiosonde dapat digunakan untuk mendiagnosa pembentukan awan konveksi di suatu wilayah yang selanjutnya dapat diprakirakan apakah bakal tumbuh thunderstorm di tempat tersebut. Model yang lazim digunakan untuk mendiagnosa pembentukan awan dapat digunakan dengan 3 metode yaitu :<br />
2.1. Metode Parcel<br />
Model ini diasumsikan bahwa udara yang naik melaui proses adiabatis yaitu tidak ada energi yang keluar atau masuk dalam parcel tersebut. Selama gerak vertikal tersebut gaya grafitasi sangat berperan. Secara matematis percepatan gerak vertikal dapat dituliska sbb :<br />
dw/dt = &#8211; ( T – T’ ) .g/T &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. (15)<br />
Dengan :<br />
dw/dt  = percepatan gerak vertikal<br />
T = temperatur udara parcel<br />
T’ = temperatur udara lingkungan.<br />
2.2. Metode slice<br />
Dalam model ini diasumsikan terdapat kompensasi udara yang naik keatas dari massa udara di sekitarnya, sehingga terjadi difussi temperatur udara yang naik dengan uadara disekitarnya. Secara matematis proses pencampuran temparatur udara tersebut dapat dituliskan sbb:<br />
Tc – Te  = ((V’ ( Γ – Γj )) – ( V (Γ – Γk)).Δt)<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; ( 16 )<br />
Dengan : Γ  Lapserate lingkungan<br />
Γj = Lapserate adiabat jenuh<br />
Γk = lapserate adiabat kering<br />
Δt = Interval waktu<br />
2.3. Metode Entrinment<br />
Dalam metode ini diasumsikan bahwa massa udara yang ada di sekitarnya terjadi percampuran dengan massa udara yang naik. Sehingga di sini berlaku hukum kekekalan energi maupun kekekalan momentum. Secara matematis proses pencampuran tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :<br />
T = L / ( Cp (q” – qs )) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; (17)<br />
Dengan :<br />
L = Panas yang dilepaskan kondensasi<br />
Cp = Panas spesifik pada tekanan tetap<br />
q’ = Spesifik humidity pada massa m’<br />
qs = Spesifik humidity saturated (jenuh)<br />
3.	DATA<br />
Untuk mengetahui karakteristik hari guntur di wilayah Indonesia digunakan data thundestrom dari tahun 1991 – 2000 yang diamati di stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Oleh karena kegiata operasional stasiuntersebut beragam, maka dalam analisis inikhusus hamnya digunakan stasiun yang beroperasi 24 jam saja, sedangkan stasiun yang beroperasi &lt; 24 jam tidak digunakan. Disamping iu data yang keakuratannya diragukan juga tidak diikut setakan dalam kajian ini.<br />
Berdasarkan hasil laporan Stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di daerah mulai dari Sabang sampai Merauke dapat terkumpul data thundestorm dari 67 stasiun. Dengan memperhatikan berbagai pertimbangan tersebut diatas dalam analisis ini hanya mengunakan data dari 50 stasiun saja.<br />
4.	ANALISIS<br />
Dengan menggunakan data thunderstorm dari 1991 – 2000, dari 50 stasiun terpilih diperoleh hasil analisis sbb :<br />
Harga rata – rata dari guntur selama kurun waktu setahun berasarkan data  1991 – 2000 maksimim terjadi di stasiun Palangkaraya yaitu 300 kali kejadian, dan harga minimum yaitu 68 terjadi di stasiun Denpasar, Bali.<br />
Daerah di sekitar equator meliputi Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Barat dan Tenggah, Kepala Burung Irian Jaya, dan daerah Jawa barat ditenggrai daerah yang kaya hari badai guntur sepanjang tahun &lt; 150 hari badai guntur ( 50 % dalam setahun). Sedangkan daerah yang berada disebelah selatan equator meliputi Lampung, Jawa Tenggah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, daerah sekitar Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Selatan hari guntur relatif lebih rendah dari pada daerah di sekitar equator.<br />
Secara rinci karakteristik rata – rata guntur di wilayah Indonesia untuk bulan januari – desember dapt dijelaskan sbb :<br />
4.1 Bulan Januari<br />
Distribusi hari guntur berkisar antara 5 – 20 wilayah paling banyak terjadi thunderstorm yaitu kalimantan Tenggah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat dan Tenggah bagian Utara. Secara umum dapat dikatakan bahwa daerah disebelah selatan equator umumnya banyak terjadi thunderstorm dibanding dengan daerah di utara equaor.<br />
4.2. Bulan Februari<br />
Distribusi terjadinya thunderstorm bulan pebuari sama polanya menyerupai bulan Januari, yaitu daerah di sebelah selatan equator umumnya banyak terjadi thundestorm di banding disebelah utara equator. Wilayah paling banyak terjadi thunderstorm yaitu di wilayah Kalimantan Tenggah.<br />
4.3. Bulan Maret<br />
Distribusi bulan maret Pola masih menyerupai bulan pebuari maupun bulan januari, dimana daerah disebelah selatan equator umumnya banyak terjadi thundestorm dibandingkan dengan daerah di utara equator. Wilayah paling banyak terjadi thunderstorm berada disekitar Kalimantan Tenggah. Kalimantan Selatan, Jawa Barat dan Tenggah bagian Utara, dan daerah sekitar Sumatera Barat dan Bengkulu.<br />
4.4. Bulan April<br />
Sebagian besar wilayah Indonesia banyak terdapat thunderstorm, kecuali daerah disekitas Nusa Tenggara Timur relatif sedikit. Wilayah yang sering terjadi thunderstorm yaitu berada di kalimantan Barat, Kalimantan Tenggah, Kalimantan selatan, sebagian besar wilayah Sumatera meliputi daerah Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan wilayah DKI Jakarta.<br />
4.5. Bulan Mei<br />
Pada umumnya pola distibusi thundestorm bulan mei nampak sangat berbeda dibanding bulan sebelumnya yaitu bulan januari – april, dimana daerah disebelah selatan equator umumnya lebih sedikit terjadi thunderstorm dibandingkan dengan daerah disekitar equator maupun disebelah utara equator. Wilayah yang paling banyak terjadi thunderstorm masih tetap berada di sekitar Kalimantan Tenggah. Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.<br />
4.6. Bulan Juni<br />
Pada umumnya bulan juni terjadinya thunderstorm relatif sedikit dibandingkan bulan sebelumnya yaitu mulai januari – mei. Daerah paling banyak terjadi thundestorm di sekitar kalimantan Tenggah, Sumatera Utara, dan daerah paling sedikit terjadi thunderstorm barada di wilayah Nusatenggara timur.<br />
4.7. Bulan Juli<br />
Pola distribusi thundetstrom bulan juli menyerupai pola bulan juni, daerah paling banyak terjadi thunderstrom masih berada disekitar kalimantan Tenggah dan sumatera Utara.<br />
4.8. Bulan Agustus<br />
Distribusi thunderstrom bulan agustus Polanya masih seperti bulan juni maupun juli, dimana daerah paling banyak terjadi thunderstrom tetap berada disekitar Kalimantan Tenggah dan Sumatera Utara.<br />
4.9. Bulan September<br />
Distribusi thunderstrom bulan september Polanya masih seperti bulan juni – agustus, dimana daerah paling banyak terjadi thunderstorm tetap berada di sekitar Kalimantan Tenggah dan Sumatera Utara.<br />
4.10. bulan Oktober<br />
Distribusi thunderstorm bulan oktober daerah utara dan sekitar equator umumnya lebih banyak dibandingkan denga  daerah diselatan equator. Daerah paling sedikit terjadi thunderstorm berada di sekitar Nusa Tenggara timur.<br />
4.11. Bulan Nopember<br />
Sebagian besar wilayah Indonesia banyak terdapat thunderstorm harnya berkisar antara 15 – 25 hari, dan daerah paling sedikit terjadi thunderstorm berada di sekitar Nusa Tenggara Timur.<br />
4.12. Bulan Desember<br />
Distribusi thundestorm bulan desember polanya menyerupai seperti pada bulan nopember sebagian besar wilayah Indonesia banyak thuderstorm yaitu bekisar antara 15 – 25 hari. Daerah paling banyak terjadi thunderstorm berada disekitar Kalimantan Tenggah dan kawasan bagian Utara.<br />
5.	PEMBAHASAN<br />
Untuk mengetahui proses fisis terjadinya tunderstorm dan petir (listrik udara) terlebih dahulu harus mamahami proses fisis terbentuknya awan cumulus atau cumulonimbus yang didalamnya banyak mengandung muatan listrik positip (+) terutama pada puncak awan yang banyak mengandung kristal es, sebagian lagi mengandung muatan listri positip (+) pada daerah yang tedapat tetes air, dan muatan negatip (-) umunya pada dasar awan. Akibat bertemuya dua muatan (+) dan (-) tersebut menimbulkan petir dan biasanya disertai badai guntur yang menimbulkan suara yang cukup keras. Disamping itu petir dapat juga terjadi karena ada loncatan muatan listrik positip dari awan dan beriteraksi dengan muatan listrik negatif dari permukaan bumi.<br />
Terjadinya petir terdapat pada awan-awan yang menjulang tinggi yang lazim disebut awan cumulonimbus (Cb), dimana pada tahap matang awan tersebut terdapat angin naik (up draff) sedangkan pada bagian lain terdapat angin turun (down draff) biasanya disertai denga hujan yang relatif lebat dan dalam waktu yang relatif singkat.<br />
Memperhatiakn letak geografis Indonesia yang barada disekitar equator dan kaya radiasi surya sepanjang tahun, keadaan topografi banyak gunung, dan kondisi lingkungan yaitu merupakan daerah kontinen maritim banyak mengandung uap air, serta merupakan daerah pertemuan sirkulasi utara selatan (Hadley) dengan sirkulasi timur-barat (Walker), sewajarnya indonesia merupakan daerah banyak awan (cumulonimbus) yang membangkitkan terjadinya petir yang disertai thunderstorm, dan sekaligus daerah yang kaya hujan.<br />
Jika ditinjau dari skala waktu (tahunan) pembentukan awan cumulus / cumulonimbus biasanya disetai dengan terjadinya petir sering muncul menjelang musim hujan hingga musim hujan itu sendiri (tipe Monsun). Sedangkan daerah yang memiliki tipe equatorial pembentukan cumulus / cumulusnimbus dapat berlangsung sepanjang tahun, dan puncak kejadiannya berlangsung sekitar bulan april dan oktober.<br />
Bila ditinjau dalam skala waktu harian daerah daratan umumnya terjadi thunderstorm berlangsung pada sore hari dan di daerah lautan berlangsung pada malam hingga pagi hari. Keadaan yang demikian ini berkaitan erat dengan proses fisis pembentukan awan. Berdasarkan hasil pengamatan di Indonesia bila ditinjau dalam skala waktu bulan / tahunan tipe ekuatorial umumnya memliki banyak thunderstorm sepanjang tahun. Sedangkan daerah mosun pada bulan Oktober – Maret umunya banyak thunderstorm.<br />
Akan tetapi jika ditinjau dalam skala ruang wilayah Indonesia sekitar ekuator yang membentang dari barat ke timur yang sekaligus memiliki tipe ilim ekuatorial merupakan daerah yang ditenggarai banyak thunderstorm hampir sepanjang tahun. Sedangkan pada daerah yang memiliki tipe iklim monsun (sebagian sumatera, Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara) umumnya pada musim hujan banyak thunderstorm, sebaliknya pada musim kemarau sedikit thunderstorm. Namun di antara daerah monsun itu sendiri terjadinya thundestorm cukup bervariasi ada sebagian daerah hampir selama enam bulan musim hujan relatif cukup banyakt thundestorm sepeti di sebagian besar Sumatera dan Jawa. Namun ada daerah tipe mosun yang hanya beberapa bulan saja (sekitar 3 bulan) banyak thunderstorm sepeti di daerah Nusa Tenggara Timur pada umumnya.<br />
Syarat terjadinya thunderstorm dan petir bila pada daerah tersebut terdapat awan jenis Cumulonimbus. Salah satu cara untuk mendiagnosa pertumbuhan awan di suatu wilayah dengan radius antara 150 – 200 kilometer dapat digunakan data radiosonde. Berdasarkan ketetapan WMO pelepasan balon radiosonde sehari diperlukan 4 kali, namun karena terbatasnya dana operasional sejak tahun 1998 BMG hanya melepas 3 kali sehari. Bahkan ada stasiun yang hanya melepas 1 kali dalam sehari.<br />
Selama ini untuk mendiagnosa pertumbuhan awan dan sekaligus dapat digunakan untuk memprakirakan  terjadinya thunderstorm digunakan data radar atau satelit, untuk lebih akurat dapat di dombinasikan keduanya.<br />
Oleh karena pengamatan thundestorm yang dilakukan oleh BMG umumnya masih dilakukan secara manual, maka cara yang paling sederhana untuk mengetahui keakuratan data thunderstorm dapat dilakukan dengan membandingkan data thundestorm antara satu stasiun dengan stasiun terdekat lainnya. Sedangkan untuk mengetahui apakah hujan yang ditimbulkan dari jenis awan lainnya dapat dibandingkan antara data thunderstorm dengan hari hujan yang terjadi di daerah tersebut.<br />
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa data thunderstorm yang akan dianalis di seluruh wilayah Indonesia berjumlah 67 stasiun. Namun setelah dilakukan pengujian secara langsung dengan memperhatikan jam operasional stasiun dan dihubungkan dengan data sekitarnya ataupun tipe iklimnya. Maka setelah dilakukan “quality control” terdapat beberapa data yang data yang tidak digunakan, sehingga dalam analisis ini hanya digunakan data dari 50 stasiun. Sedangkan data thunderstorm dari 17 stasiun lainnya tidak disertakan dalam analisis ini.<br />
Dengan menggunakan data thunderstorm dari 50 stasiun yang tersebar di indonesia sejak 1991 – 2000 dan selanjutnya dibuatkan isoplet untuk masing – masing bulan. Untuk daerah sekitar ekuator (tipe Ekuatorial) pada umumnya lebih sering terjadi thunderstorm ketimbang daerah lainnya (tipe monsun maupun tipe lokal). Sedangkan daerah tipe monsun / lokal dominan terjadi thunderstorm berlangsung pada saat musim hujan yaitu pada oktober – maret. Berdasarkan data Thunderstorm tahun 1886-1941 daerah Bogor dan sekitarnya dinyatakan sebagai daerah terkaya thunderstorm diseluruh dunia. Namun berdasarkan data 1991 – 2000 justru didaerah Kalimantan Tengah merupakan daerah paling banyak terjadi thunderstorm. Hal ini cukup menarik perhatian di kalangan meteorologi apakah memang di daerah Bogor dan sekitarnya telah terjadi perubahan lingkungan, sehingga telah mempengaruhi proses fisis dalam pembentukan awan-awan cumulonimbus yang biasa membangkitkan thunderstorm . Atau mungkin terjadi kesalahan pengamatan sehingga data yang disampaikan ke BMG pusat kurang akurat. Berkaitan dengan hal tersebut BMG diharapkan segera melakukan penelitian lebih lanjut mengenai fenomena thunderstorm ini.<br />
Sebagaimana diketahui bahwa adanya thunderstorm selalu diawali dengan adanya peristiwa petir. Thunderstorm yang kita dengan intensitasnya berkaitan erat dengan jarak dan intensitas petir yang ditimbulkannya. Untuk itu bila musim hujan tiba yang biasa disertai petir dan thunderstorm sebaiknya pada saat terjadi thunderstorm berhenti sejenak untuk tidak menggunakan alat-alat elektronik. Hal ini dikawatirkan terjadinya sambaran petir yang dapat merugikan semua pihak. Disamping itu bila memiliki alat-alat yang sangat vital, harganya relatif mahal dan pemasangannya berada di luar   (Out Door) sebaiknya alat tersebut disertai dengan alat penangkal petir.<br />
Mengingat pentingnya data thunderstorm untuk perencanaan pembangunan proyek yang sangat vital, memerlukan dana yang relatif cukup besar dan bila terjadi bencana efeknya dapat merugikan semua pihak , seperti rencana pembangunan Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara Jawa Tengah, pemasangan saluran udara tegangan ekstra tinggi ( SUTT / SUTET ) yang  dilaksanakan  oleh PT. ( Persero) PLN dan beberapa instansi lain yang memasang repeater untuk komunikasi. Informasi meteorologi, thunderstorm dan petir merupakan salah satu  data dukung strategis yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan dan mendukung kelancaran aperasional.<br />
Untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pemantauan petir, thunderstorm atau unsur meteorologi lainnya yang selama ini juga dilakukan oleh berbagai institusi di luar BMG, hendaknya dilakukan secara koordinasi yang baik dengan BMG. Karena BMG ditunjuk oleh pemerintah Indonesia sebagai wakil tetap World Meteorological Organization (WMO)  ( sebagai Permanent Representative  dari WMO ). Dengan demikian dalam sidang tahunan WMO di Genewa, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (KBMG) bertanggung jawab untuk membuat laporan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan meteorologi di Indonesia. Mengingat selama ini BMG belum dapat menghimpun dengan baik kegiatan meteorologi, kualitas udara dan geofisika yang dilakukan oleh instansi lain di luar BMG, sehingga informnasi yang dilaporkan ke WMO masih belum lengkap.<br />
Disamping hal tersebut di atas, akibat kurangnya pemahaman betapa pentingnya data dan informasi meteorologi di berbagai sektor, mengakibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia justru semakin tertinggal jauh dari negara maju.<br />
Untuk mendukung peran BMG di WMO pemerintah telah mengeluarkan Keppres 53 tahu 1986 yang mengatur koordinasi penyelenggaraan dan pemanfaatan jasa meteorologi dan geofiska oleh karena BMG berada dibawah Depatemen Perhubungan terkadang usulan yang disampaikan kalah prioritas, sehingga kucuran dana yang ada sangat terbatas dan kegiatan koordinasi lintas sektoral tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.<br />
Selanjunya dalam era reformasi terbit Peraturan Pemerintah Republik Indonesia ( PP ) No.25 tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi, dimana di dalamnya terdapat tiga ( 3) butir kewenangan BMG yaitu :<br />
1.	Penetapan standar teknis peralatan serta pelayanan meteorologi penerbangan dan maritim.<br />
2.	Pengaturan sistem jaringan pengamatan meteorologi dan klimatologi.<br />
3.	Pemberian jasa meteorologi dan klimatologi.</p>
<p>Munculnya PP. NO.25 tahun 2000 bersamaan dengan kondisi keuangan negara belum pulih dari krisis moneter, sehingga PP tersebut belum sempat disosialisasikan oleh BMG.<br />
Mengingat peranan Meteorologi dan Geofisika dipandang sangat strategis untuk mendukung berbagai kebijakan, disamping secara pribadi perhatian dan cintanya Ibu Megawati terhadap meteorologi, maka dengan berbagai pertimbangan yang cukup arif yang digagas oleh Presiden Ibu Megawati akhirnya muncul Keppres No. 45, 46, 47 dan 48 tentang kedudukan BMG yang selama ini berada di lingkungan Departemen Perhubungan, dan sejak tanggal 1 Juli tahun 2002 telah berubah menjadi Lembaga Pemerintahan Non Departemen ( LPND) dimana tugas, fungsi dan kewenangan semakin jelas. Hal ini sekaligus menandai hirarki usulan anggaran tahunan program kerja kegiatan meteorologi, Klimatologi, kualitas udara dan geofisika lebih pendek dan mendiri. Adanya perubahan organisasi tersebut diharapkan kegiatan meteorologi dan geofiska  semakin berkembang dan dapat mengimbangi kemajuan negara lainnya minimal dilingkungan ASEAN.</p>
<p>6.	KESIMPULAN<br />
Berdasarkan analisis dan pembahasan tersebut diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :<br />
6.1. Wilayah Indonesia yang memiliki tiga<br />
(3) tipe iklim yaitu Ekuatorial, Monsun dan lokal ternyata menyerupai pola distribusi terjadinya thunderstorm di Indonesia. Dimana daerah tipe Ekuatorial umumnya mempunyai hari badai guntur lebih banyak dibandingkan dengan daerah tipe Monsun ataupun tipe lokal. Untuk daerah tipe Ekuatorial thunderstorm terdistribusi hampir merata sepanjang tahun. Sedangkan tipe monsun maupun Lokal thunderstorm dominan terjadi pada musim hujan ( oktober – maret ) ketimbang musim kemarau ( april – september).<br />
6.2. Berdasarkan data 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa stasiun Palangkaraya justru sering terjadi thunderstorm dengan kejadian 300 kali dalam setahun. Sedangakan bedasarkan tahun 1886 – 1941 justru daerah Bogor dikenal sebagi daerah terkaya petir diseluruh dunia.<br />
6.3. Untuk perencanaan pembangaunan proyek yang sangat vital dan memerlukan dana yang relatif cukup besar informasi thunderstorm dan petir merupakan data dukung stratgis yang dapat digunakan untuk megambil keputusan dan mendukung kelancaran operasional.<br />
6.4. Dalam rangka mendukung IPTEK sitiap institusi yang menyelenggara kan kegiatan meteorologi, klimatologi kualitas udara dan geofisika hendaknya bersinergi dengan BMG sebagai wakil tetap WMO di Indonesia, dan setiap tahun diwajibkan melaporkan kegiatan meteorologi di Indonesia.<br />
7. SARAN<br />
7.1. Pada umumnya stasiun yang dikelola oleh BMG hanya memantau hari guntur yang dilakukan secara manual, dan hanya beberapa stasiun yang memantau frekwensi terjadinya petir, di masa mendatang diharapkan kebijakan BMG selain memantau hari guntur sekaligus juga petir.<br />
7.2. Dalam rangka mendukung pembangunan di Indonesia pemetaan berbagai unsur meteorologi / klimatologi, kualitas uadara dan geofisika kiranya perlu segera diterbitkan oleh BMG, termasuk peta hari guntur.<br />
7.3. Agar supaya diperoleh informasi meteorologi dan geofisika denngan baik dan benar agar semua instansi di luar BMG yang menyelenggarakan kegiatan meteorologi, klimatologi kualitas udara dan geofisika untuk segara bersinergi dengan BMG, serhingga akan diperoleh informasi yang lebih baik dan akurat.<br />
8. ACUAN<br />
John C. Johson, 1955. “physical Meteorology” The MIT Press, Massachusetts institute Of Technology. Cambridge, Massachusetts<br />
Byers, J.R. “ &#8230;&#8230;.. Element of Cloud Physics”. The university Of Chichago press.<br />
A.H. Hooper, WMO. “Instrument and Observing Method”. Report No.21 Algorithms For Automatic Aerological Soundings, November 1996.<br />
C.S. Ramage, 1971. “Monsoon Meteorology”, University of Hawai, Honolulu Hawai.<br />
Meteorology Glosary, 1963 Compiled By D.H. Mc Inntosh.<br />
Achmad sasmito. 1998 “ Characteristic Sea Surface Temperatur In The Eastern Indonesian Region To Detec El-Nino Phenomenon”<br />
Disadur dari JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA Vol3. No.4 Oktober – Desember 2002.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=185&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/06/karakteristik-hari-guntur-di-wilayah-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KERAGAMAN RUANG DAN WAKTU CURAH HUJAN DI SUMBER JAYA, LAMPUNG BARAT</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 03:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Tumiar Katarina Manik Tim Ahli TICIG Lampung Wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumber Jaya, Lampung Barat dengan ketinggian pada umumnya diatas 1500 m merupakan salah satu wilayah yang merupakan sumber air bagi Provinsi Lampung yang dalam klasifikasi iklim Oldeman bertipe B1. Penelitian difakukan sejak tahun 2005 dengan maksud untuk mempelajari jarak antar penakar hujan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=176&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Tumiar Katarina Manik</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong>Tim Ahli TICIG Lampung</p>
<p><em>Wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumber Jaya, Lampung Barat dengan ketinggian pada umumnya diatas 1500 </em><em>m merupakan salah satu wilayah yang merupakan sumber air bagi Provinsi Lampung yang dalam klasifikasi iklim Oldeman bertipe B1. </em></p>
<p><em>Penelitian difakukan sejak tahun 2005 dengan maksud untuk mempelajari jarak antar penakar hujan yang memberikan nilai korelsi tertinggi sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran tentang distribusi ruang dan waktu dari intensitas curah hujan di daerah Sumber Jaya dengan menggunakan metode analisa distribusi ruang dan waktu. </em></p>
<p><em>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim hujan dan musim kemarau, hujan turun dalam periode hampir sama, dengan pergeseran sekitar 30 menit dan pola distribusi hujan berkorelasi sedang (r = 0.5 – 0.7 ), </em> <em>yang berarti menunjukkan adanya distribusi curah hujan secara waktu homogen. </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span id="more-176"></span><br />
</strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Curah hujan adalah unsur iklim yang terpenting di wilayah Tropis. Curah hujan sebagai komponen dari siklus hidrologi bersifat sensitif terhadap hal-hal yang menyebabkan keragaman iklim, baik itu yang terjadi secara alamiah maupun yang buatan manusia. Karena itu acap kali sulit memprediksi pola distribusinya secara ruang atau waktu.</p>
<p>Kesulitan ini bertambah karena jurang tersedianya data yang akurat dan dalam jangka waktu yang panjang.</p>
<p>Ada dua cara pengamatan curah hujan yang dikenal yaitu melalui penakar hujan dan melalui satelit. Penelitian yang didasarkan data penakar hujan biasanya menekankan pada keragaman waktu pada skala waktu tertentu tetapi pada lokasi yang terbatas. Sementara resolusi tinggi dari data satelit biasanya digunakan untuk keragaman ruang pada skala waktu yang terbatas. Persoalannya data dari instrumen yang berbeda sering kali tidak dapat disandingkan. Pengukuran pada titik-titik pengamatan melalui penakar hujan tidak selalu dapat dibandingkan dengan pengukuran rata-rata wilayah dari satelit (Gershunov dan Michaelsen, 1996).</p>
<p>Wilayah DAS Sumber Jaya, Lampung Barat merupakan salah satu wilayah yang merupakan sumber air bagi Propinsi Lampung. Berdasarkan data harian seperti yang dianalisa BMG, Lampung Barat dalam klasifikasi Oldeman bertipe iklim A dan B1 yang berarti relatif lebih basah dibandingkan wilayah lain di Propinsi Lampung. Sepeti juga titik-titik pengamatan hujan pada umumnya, penakar hujan di wilayah ini juga tersebar dengan jarak yang cukup jauh dan merupakan pengamatan harian. Padahal sebagai daerah pegunungan keragaman curah hujan didaerah ini diperkirakan cukup tinggi.</p>
<p>Meskipun keragaman ruang dan waktu dari daerah pegunungan umumnya tinggi, tetapi jika hujan yang terjadi terbentuk dari sistem iklim skala besar, misalnya sinoptik maka hujan akan turun dengan lebih merata sehingga hujan di wilayah ini dapat dianggap homogen. Dengan demikian mengetahui keragaman distribusi hujan secara ruang dan waktu akan membantu pemahaman tentang proses pembentukan awan dan sifat hujan suatu wilayah.</p>
<p>Dari penelitian sejak 2005 bekerja-sama dengan ICRAF telah dipasang 16 penakar hujan otomatik di beberapa titik puncak bukitjgunung yang mengitari DAS Sumber Jaya. Penakar hujan juga dipasang pada titik rendah dan pada sebuah &#8216;catchment&#8217; kecil untuk mempelajari jarak antar penakar hujan yang memberikan nilai korelasi tertinggi. Hasil yang didapat masih merupakan data jangka pendek (Juli- Desember 2005) namun diharapkan dapat memberikan gambaran tentang distribusi ruang dan waktu dari curah hujan di Sumber Jaya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Data dan Metoda </strong></p>
<ol>
<li>Lokasi Pengamatan</li>
</ol>
<p>Pengamtan dilakukan di Sumber Jaya, Lampung Barat Juli – Desember 2005. Sumber Jaya terletak pada 4<sup>0</sup>55’ – 5<sup>0</sup>10’ LS dan 104<sup>0</sup>19’ – 104<sup>0</sup>34’ BT, dengan ketinggian 700 – 1878 m dpl, dan dengan ketinggian dengan ketinggian 700 &#8211; 1878 m dpl, dan dikitari oleh rangkaian pegunungan. Di sebelah utara terdapat Bukit Benatan (1625 m), di bagian barat Gunung. Sekincau (1718 m) and Bukit Subhanallah (1623 m) di sebelah Timur Laut Gunung Tangkit Begelung (1272 m) dan Gunung. Tangkit Tebak (1878 m) dan Bukit Rigis (1400 m) pada bagian tengah DAS (Koleksi peta ICRAF dan Dinata, 2000).</p>
<ol>
<li>Metode
<ol>
<li>Metode pengamatan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>pengamatan dilakukan dengan menggunakan penakar hujan otomatis tipe &#8216;typing bucket&#8217; yang dihubungkan dengan pencatat data yang mencatat data setiap 2 menit. Penakar di pasang pada sebuah catdlment seluas 100 ha yang terletak di antara desa Bodong dan Sukaraja. Terdapat 7 lokasi penakar hujan : C1 &#8211; C5 berada pada satu catchment sedangkan AF, FR berada pada lokasi hutan di bagian central DAS Sumber Jaya. Penakar hujan juga dipasang pada bukit-bukit yang mengitari DAS Sumber Jaya.</p>
<ol>
<li>Metode analisa :</li>
</ol>
<p align="left"><span style="text-decoration:underline;">Distribusi ruanq </span></p>
<p>Data dari masing-masing penakar di plot bersama. Distribusi ruang diperkirakan dengan menghitung nilai korelasi antar penakar hujan. Dengan memperkirakan jarak antar penakar dapat diketahui jauhnya jarak dengan korelasi antar penaRar yang masih nyata (dalam hal ini r&gt; 0.7).</p>
<p align="left"><span style="text-decoration:underline;">Disbibusi waktu </span></p>
<p>Perhitungan kuantitatif waktu dapat dilakukan dengan menghitung autokorelatif dari masing-masing penakar hujan. Nilai autokorelatif yang memiliki nilai yang sama dengan nilai korelasi akan menggambarkan berapa lama waktu yang dibutuhkan dari suatu penakar untuk memiliki distribusi hujan yang sama.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Hasil </strong><strong>Perhitungan</strong><strong>: </strong></p>
<p>Data curah hujan dari 7 penakar diplotkan bersama :</p>
<p><a rel="attachment wp-att-177" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/attachment/1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-177" title="1" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/1.jpg?w=450&#038;h=300" alt="1" width="450" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-178" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/attachment/2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-178" title="2" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/2.jpg?w=450&#038;h=466" alt="2" width="450" height="466" /></a></p>
<p>Gambar 1. Distribusi waktu dari serangkaian penakar hujan pada DAS Sumber Jaya</p>
<p><a rel="attachment wp-att-179" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/attachment/3/"><img class="aligncenter size-full wp-image-179" title="3" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/3.jpg?w=450" alt="3"   /></a>Gambar 2. Perbandingan jumlah hujan antar penakar hujan</p>
<p><a rel="attachment wp-att-180" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/attachment/4/"><img class="aligncenter size-full wp-image-180" title="4" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/4.jpg?w=450&#038;h=641" alt="4" width="450" height="641" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-181" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/attachment/6/"><img class="aligncenter size-full wp-image-181" title="6" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/6.jpg?w=450" alt="6"   /></a><a rel="attachment wp-att-182" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/attachment/7/"><img class="aligncenter size-full wp-image-182" title="7" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/7.jpg?w=450&#038;h=295" alt="7" width="450" height="295" /></a></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pembahasan dan Kesimpulan: </strong></p>
<p>Gambar dan tabel diatas diambil dari beberapa kejadian hujan yang dianggap mewakili musim kering, awal musim hujan dan musim hujan, meskipun pada Bulan Desember belum terjadi puncak musim hujan. Seluruh penakar hujan menunjukkan bahwa hujan masih turun dalam waktu (jam) yang sama, pergeseran hanya terjadi dalam hitungan menit (sekitar 30 menit). Hal ini dapat dipahami karena seluruh penakar hujan ini berada pada luasan sekitar 100 ha. Tetapi pola distribusi hujan (setiap 2 menit) menunjukkan keragaman, hal ini ditunjukkan dari nilai korelasi yang sedang (r = 0.5 &#8211; 0.7) pada sebagian besar kejadian hujan, meskipun pada wilayah yang sempit. Tetapi umumnya pola hujan cukup diamati dalam selang waktu jam.</p>
<p>Dalam selang waktu ini diperkirakan pola distribusi hujan secara waktu akan homogen. Jumlah hujan (2 menit) yang dicatat tiap penakar juga dapat dikatakan homogen.</p>
<p>Secara sederhana dapat dikatakan luasan 100 ha dapat dianggap sebagai satuan terkeci/ dimana hujan masih homogen. Dalam keterbatasan ketersediaan alat 1 penakar mewakili 100 ha masih dimungkinkan meskipun Sumber Jaya bertopografi bukit-bukit.</p>
<p>Penelitian keragaman hujan lebih lanjut perlu dilakukan pada wilayah yang lebih luas dengan memperhatikan perbedaan ketinggian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=176&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/keragaman-ruang-dan-waktu-curah-hujan-di-sumber-jaya-lampung-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANALISIS KESESUAIAN IKLIM UNTUK TANAMAN KOPI  DI PROVINSI LAMPUNG</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 03:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Bambang N. Setyanto Ketua TICIG Lampung Dodo Gunawan Ramalan Jasa Klimatologi BMG Faktor Iklim memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan suatu komunitas, sejak penentuan lokasi tanam sampai pasca panen. Peta kesesuaian iklim untuk tanaman kopi diperlukan untuk menentukan daerah daerah yang cocok untuk jenis tanaman tersebut, dari sisi iklim, pada jenis kopi tertentu diperlukan curah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=160&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">Bambang N. Setyanto </span></p>
<p style="text-align:center;">Ketua TICIG Lampung</p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">Dodo Gunawan </span></p>
<p style="text-align:center;">Ramalan Jasa Klimatologi BMG</p>
<p><em>Faktor Iklim memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan suatu komunitas, sejak penentuan lokasi tanam sampai pasca panen. Peta kesesuaian iklim untuk tanaman kopi diperlukan untuk menentukan daerah daerah yang cocok untuk jenis tanaman tersebut, dari sisi iklim, pada jenis kopi tertentu diperlukan curah hujan rata-rata </em><em>2000 &#8211; 3000 mm pertahun dan adanya paruh kering beberapa waktu. </em></p>
<p><em>Untuk daerah propinsi Lampung yang ideal untuk tanaman kopi jenis Robusta dan Arabika </em><em>(dari sisi klimatalogi) adalah daerah Kabupaten Lampung Barat, Way Kanan, Tulang Bawang, Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Timur dan Tanggamus bagian barat.</em></p>
<p><em><span id="more-160"></span><br />
</em></p>
<p><strong>I. </strong><strong>PENDAHULUAN </strong></p>
<p>Kopi adalah salah satu komoditi ekspor andalan non migas yang cukup besar kontribusinya terhadap devisa negara, disamping sebagai bahan untuk konsumsi dalam Negeri. Negara-negara, tujuan ekspor kopi adalah Eropa dan Amerika, sementara produsennya adalah negara-negara di benua Afrika, Amerika Latin dan Asia termasuk Indonesia. Untuk memperebutkan pasaran ekspor, faktor kualitas memegang peranan penting disamping faktor promosi dan kontinuitas.</p>
<p>Di bidang agribisnis, faktor iklim memegang peranan penting terhadap keberhasilan suatu jenis komoditi sejak penentuan lokasi untuk komoditi yang akan dikembangkan, selama proses budidaya, dan pada waktu pasca panen, yang kesemuanya berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas komoditi tersebut.</p>
<p>Faktor iklim yang paling dominan di daerah tropik seperti Indonesia adalah curah hujan. Faktor iklim ini variasinya sangat besar terhadap tempat dan waktu. Dalam penentuan kesesuaian iklim untuk suatu jenis komoditi maka faktor curah hujan dijadikan dasar dalam penentuan persyaratan komoditi tertentu di suatu wilayah tertentu yang hasilnya disajikan berupa peta kesesuaian iklim untuk suatu jenis komoditi (peta Agroklimat). Bagi pengusaha bidang agribisnis yang hanya bergerak pada lini paling hilir (hasil), maka peta kesesuaian iklim suatu jenis komoditi akan sangat membantu dalam memburu komoditi yang menjadi andalan usahanya. Mengapa peta tersebut sangat membantu, karena dengan sesuainya komoditi untuk wilayah tertentu, maka faktor waktu berburu selama masa panen dapat terlihat waktu terjadinya sehingga faktor kontinuitas terjamin dan diharapkan dengan sesuainya komoditi tersebut maka faktor kualitas dan kuantitas juga akan terpenuhi.</p>
<p>Tujuan tulisan ini adalah membuat peta kesesuaian iklim untuk komoditi kopi di propinsi Lampung.</p>
<p><strong>II. </strong><strong>METODA </strong></p>
<p>Pembuatan peta kesesuaian iklim komoditi kopi di propinsi Lampung didasarkan kepada dua hal yaitu faktor agronomi dalam hal ini kebutuhan air (persyaratan tumbuh) tanaman kopi selama setahun dan faktor iklim dalam hal ini distribusi dan jumlah curah hujan di Propinsi Lampung, data yang digunakan untuk analisis ini selama 20 yahun ( 1976 &#8211; 1995 ).</p>
<p>1. Faktor Agronomi</p>
<p>Hujan merupakan faktor yang paiing penting bagi persyaratan tumbuh tanaman kopi setelah faktor ketinggian tempat . Jumlah curah hujan berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan air yang diperlukan tanaman sedangkan waktu hujan atau distribusi hujan selama setahun berpengaruh terhadap proses pembungaan dan pembuahan. Kopi jenis robusa dan arabika sangat peka terhadap kedua faktor tersebut. Kopi umumnya tumbuh secara optimal di daerah yang mempunyai curah hujan 2000 &#8211; 3000 mmjtahun. Namun tanaman kopi masih dapat tumbuh pada daerah daerah dengan curah hujan tahunan 1300 &#8211; 2000 mm. Bahkan di daerah dengan curah hujan antara 1000 &#8211; 1300 mm/tahun kopi masih dapat tumbuh asalkan dibantu pengairannya melalui irigasi, serta penutupan tanah dengan musla untuk mengurangi penguapan. Dengan demikian budidaya tanaman kopi di daerah dengan curah hujan pada kisaran terakhir kurang ekonomis.</p>
<p>Hubungan curah hujan dengan proses pembungaan dan pembentukan buah dapat diuraikan sebagai berikut : pada saat menjelang akhir musim hujan, cabang-cabang primer menghasilkan kuncup bunga. Mula-mula pada ketiak daun tampak adanya kuncup kecil yang diselubungi sepasang daun penumpu (daun pelindung). Pada tiap-tiap kuncup kemudian tumbuh beberapa dasar bunga berwarna hijau yang kemudian berubah menjadi warna putih.</p>
<p>Setelah tahap tersebut biasanya proses pembungaan istirahat.</p>
<p>Kuncup yang istirahat akan tumbuh kembali setelah ada hujan dan akan menjadi bunga dewasa setelah 7-8 hari. Sila hujan tidak datang calon bunga tidak akan tumbuh dan mekar menjadi bunga dewasa sehingga tanaman akan gagal menghasilkan buah. Bila pada fase ini tidak ada hujan, tanaman kopi perlu diberikan pengairan. tambahan (disiram).</p>
<p>Setelah dewasa, bunga akan segera mekar untuk melakukan penyerbukan untuk melakukan penyerbukan dan bila berhasil akan tumbuh menjadi buah. Pada saat mekar, bunga memerlukan cuaca kering dan tidak ada hujan kurang lebih satu bulan. Bila terjadi hujan biasanya tepung sari akan menggumpal dan bunga menjadi rusak sehingga gagal menjadi buah. Dengan adanya pola pembungaan seperti tersebut diatas, maka daerah-daerah yang optimum untuk pertumbuhan tanaman kopi robusa dan arabika adalah daerah yang mempunyai pola hujan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Jumlah curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 2000 ­3000 mm.</li>
<li>Mempunyai bulan kering/agak kering (curah hujan kurang dari 100 mmjbulan) selama 3-4 bulan. Selama bulan kering tersebut ada pasokan airjhujan dan ada periode kering sama sekali (tidak ada hujan) selama 2 sampai 6 minggu.</li>
</ol>
<p>2. Faktor Iklim</p>
<p>Distribusi curah hujan yang berbeda disetiap tempat dan waktu memungkinkan kita untuk mengelompokan daerah-daerah kedalam kelompok yang mempunyai pola curah hujan yang sama/mirip sama yang menghasilkan daerah tipe hujan dan curah hujan setahun dengan jumlah tertentu yang menghasilkan isohyet tahunan. Penentuan pola hujan dimulai dengan membuat grafik curah hujan bulanan dari pos-pos pengarnat curah hujan. Graflk tersebut secara visual dibandingkan kesamaannya. pola yang sama dikelompokan menjadi satu yang dinamakan tipe hujan. Dari beberapa pola yang ada maka propinsi Lampung terbagi menjadi 5 daerah tipe hujan.</p>
<p>Untuk membuat isohyet tahunan, curah hujan bulanan tiap daerah tipe dijumlahkan, dan dari jumlah tersebut dibuat distribusi dengan interval 500 mm. Hasil pembagian daerah tipe dan isohyet tahunan disajikan pada peta I.</p>
<p><strong>III. </strong><strong>ANALISIS </strong><strong></strong></p>
<p>Hasil analisis curah hujan bulanan rata-rata untuk setiap daerah     tipe menunjukan bahwa curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus di daerah tipe V dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari di daerah tipe II. Keadaan curah hujan selengkapnya untuk setiap daerah tipe hujan dapat dilihat pada table 1.</p>
<p>Tabel 1.  Nilai Distribusi Curah Hujan Rata-rata Bulanan di setiap Daerah Tipe Hujan Propinsi Lampung.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-162" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/1-tabel11/"><img class="aligncenter size-full wp-image-162" title="1-tabel11" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/1-tabel11.jpg?w=450&#038;h=218" alt="1-tabel11" width="450" height="218" /></a></p>
<p>Bulan &#8211; bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm umumnya sebanyak 3-4 bulan kecuali daerah tipe I tidak terdapat bulan dengan curah hujan kurang 100 mm (periksa Sheet 2). Secara umum keadaan curah hujan persyaratan tumbuh yang diperlukan tanaman kopi.</p>
<p>Curah Hujan tahunan di Propinsi Lampung berkisar antara 1800 mm (di daerah tipe V) sampai 2500 mm (di daerah tipe II). bila kita membandingkan dengan peryaratan seperti tersebut sangat sesuai dengan persyaratan tumbuh yang diperlukan tanaman kopi.</p>
<p>Curah Hujan tahunan di Propinsi Lampung berkisar antara 1800 mm (di daerah tipe V) sampai 2500 mm (di daerah tipe II). Bila kita membandingkan dengan peryaratan tumbuh tanaman kopi sebagaimana diuraikan pada bagian 2.1., maka hampir seluruh daerah Lampung jumlah curah hujan setahun berada pada kisaran jumlah curah hujan yang diperlukan oleh tanaman kopi, kecuali untuk tipe V curah hujan setahun kurang dari 2000 mm.</p>
<p>Untuk melihat persyaratan lain yang diperlukan tanaman kopi yaitu waktu antara 10 sampai 45 hari dengan keadaan curah hujan yang kering (kurang dari 30 mmjsepuiuh hari) maka dapat dilihat dari hasil analisa curah hujan sepuluh harian untuk setiap daerah tipe hujan (periksa Sheet 3). Dari Grafik tersebut terlihat bahwa curah hujan kurang dari 30 mm/bulan pada daerah tipe I dan II terjadi pada sepuluh hari kedua bulan Juni, daerah tipe In terjadi pada sepuluh hari ketiga bulan Juli sampai sepuluh hari ketiga bulan Agustus, daerah tipe IV pada sepuluh hari ketiga bulan Juni sampai sepuluh hari ketiga bulan Agustus dan didaerah tipe V pada sepuluh hari pertama bulan Juni sampai sepuluh hari ketiga bulan Agustus. Jnilah waktu yang tepat untuk berburu kopi karena saat tersebut adalah waktu terbaik untuk panen kopi.</p>
<p><strong>III. </strong><strong>KESIMPULAN </strong></p>
<p>Dari hasil analisis data hujan di propinsi Lampung maka dapat disimpulkan hal­-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Terdapat lima daerah tipe hujan yang menunjukan distribusi hujan bulanan dan jumlah hujan setahun yang berbeda. Dari kelima daerah tersebut dilihat dari jumlah curah hujan tahunan, empat daerah sangat sesuai untuk tanaman kopi dan satu daerah (daerah tipe V) dengan mempertimbangkan jumlah curah hujan kurang dari 2000 mm/tahun dapat dikategorikan sesuai.</li>
<li>Ditinjau dari distribusi curah hujan bulanan, maka daerah tipe I distribusi curah hujan agak merata dan tidak ada bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm/bulan. Hal ini mengurangi persyaratan bulan kering kurang dari 100 mm yang dipertukan tanaman kopi untuk fase pembungaan sampai pembentukan buah. Namun secara tahunan curah hujannya sesuai untuk syarat tumbuh kopi. Kemungkinan dampaknya adalah terhadap kualitas kopi.</li>
</ol>
<p>Dari analisis data sepuluh harian, dapat disimpulkan bahwa waktu­-waktu terbaik untuk panen kopi di daerah tipe I dan tipe II adalah pada bulan Juni, di daerah tipe III dan tipe IV pada bulan Agustus, dan di daerah tipe V pada bulan Juli.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-163" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/2-peta/"><img class="aligncenter size-full wp-image-163" title="2-peta" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/2-peta.jpg?w=450&#038;h=497" alt="2-peta" width="450" height="497" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-166" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/3-grafik1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-166" title="3-grafik1" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/3-grafik1.jpg?w=450&#038;h=509" alt="3-grafik1" width="450" height="509" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-167" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/4-grafik2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-167" title="4-grafik2" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/4-grafik2.jpg?w=450&#038;h=482" alt="4-grafik2" width="450" height="482" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=160&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/04/analisis-kesesuaian-iklim-untuk-tanaman-kopi-di-provinsi-lampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/1-tabel11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1-tabel11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/2-peta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2-peta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/3-grafik1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">3-grafik1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/4-grafik2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">4-grafik2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petir</title>
		<link>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/01/petir/</link>
		<comments>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/01/petir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 04:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardidafa78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Mei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardidafa78.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Petir itu ? Suatu fenomena alam yang pembentukkannya berasal dari terpisahnya muatan didalam awan Cumulunimbus ( Cb ). Terbentuk akibat adanya pergerakan udara keatas akibat panas dari permukaan laut serta adanya udara yang lembab Awan bermuatan dapat terbentuk : Jika suatu daerah terdapat udara yang lembab Pergerakkan udara keatas akibat pemanasan permukaan bumi oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=154&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Petir itu ?</p>
<p>Suatu fenomena alam yang pembentukkannya berasal dari terpisahnya muatan didalam awan Cumulunimbus ( Cb ). Terbentuk akibat adanya pergerakan udara keatas akibat panas dari permukaan laut serta adanya udara yang lembab</p>
<p>Awan bermuatan dapat terbentuk :</p>
<ol>
<li>Jika      suatu daerah terdapat udara yang lembab</li>
<li>Pergerakkan      udara keatas akibat pemanasan permukaan bumi oleh sinar matahari.</li>
<li>Terdapat      inti higroskopis</li>
</ol>
<p>Bagaimana Proses terjadinya petir ?</p>
<p><span id="more-154"></span></p>
<p>Umumnya  muatan negatif ( &#8211; )  terkumpul dibagian bawah ( temperatur +10º C )  dan</p>
<p>ini  akan  menyebabkan  terinduksinya muatan positif (+) diatas permukaan tanah</p>
<p>sehingga membentuk medan listrik antara awan dan tanah.Jika muatan listrik cukup</p>
<p>besar dan kuat medan listrik udara dilampaui, maka terjadi pelepasan muatan berupa petir.</p>
<p>Bahaya Sambaran Petir :</p>
<ul>
<li>Kematian pada manusia</li>
<li>Kerusakan pada perangkat elektronik, komputer, jaringan, kilang minyak dan sebagainya, yang disebabkan oleh sambaran petir baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu melalui radiasi, konduksi dan induksi gelombang eletromagnetik petir.</li>
</ul>
<p>Antisipasi bahaya sambaran petir</p>
<ul>
<li>Hindari daerah/area terbuka : persawahan,tanah lapang.</li>
<li>Jangan berteduh dibawah pohon besar</li>
<li>Matikan peralatan elektronik : Tv,radio, dan lain-lain.</li>
<li>Jangan memakai telepon, handphone dan peralatan komunikasi lainnya.</li>
<li>Jika memakai payung usahakan tidak memakai bahan logam dan lancip.</li>
</ul>
<p>Mengapa di Indonesia banyak terjadi Petir ?</p>
<p>Indonesia  adalah kontinen maritim yang terletak  di  daerah  Katulistiwa yang panas</p>
<p>dan  lembab mengakibatkan terjadinya hari guruh ( IKL ) yang sangat tinggi dibanding</p>
<p>daerah lainnya.Cibinong sempat tercatat pada Quines Book Of Record 1988 dengan jumlah petir 322  Petir pertahun.</p>
<p>IKL ( Iso Keraunic Level )</p>
<p>Garis yang menghubungkan daerah-daerah dengan jumlah hari guruh yang sama.</p>
<p>Didalam hal ini,jika ada minimum satu hari guruh terdengar oleh pengamat dalam satu</p>
<p>hari, maka disebut satu hari guruh (thunderstorm day).</p>
<p>Jenis – jenis Petir :</p>
<ul>
<li>Petir didalam awan ( DA )</li>
<li>Petir awan ke awan ( AA )</li>
<li>Petir awan ke tanah ( AT )</li>
<li>Petir tanah ke awan ( TA )</li>
</ul>
<p>Kedua petir yang pertama disebut petir Awan ( Inter/IntraCloud ).</p>
<p>Kedua petir yang kedua disebut juga petir Awan-tanah ( Cloud to Ground )</p>
<p><a rel="attachment wp-att-155" href="http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/01/petir/ikl/"><img class="alignleft size-medium wp-image-155" title="ikl" src="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/ikl.gif?w=300&#038;h=225" alt="ikl" width="300" height="225" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardidafa78.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardidafa78.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardidafa78.wordpress.com&amp;blog=5983634&amp;post=154&amp;subd=ardidafa78&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardidafa78.wordpress.com/2009/05/01/petir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96b8e04191aebdfa880daa6802d01b25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ardidafa78</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardidafa78.files.wordpress.com/2009/05/ikl.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ikl</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
