ANALISIS CUACA PADA SAAT PUTING BELIUNG DI BANDAR LAMPUNG

(studi kasus peristiwa puting beliung 2 Nopember 2006)

ADI SAPUTRA

Akademi Meteorologi dan Geofisika Jakarta

FAHRIZAL

Stasiun Metorologi Radin Inten II Bandar Lampung

ABSTRAK

Pada tanggal 2 Nopember 2006 terjadi cuaca buruk di Kota Bandar Lampung. Angin puting beliung yang cukup kuat menghantam tiga kecamatan yakni Tanjungkarang Timur, Tanjungkarang Pusat, dan Tanjungkarang Barat menyebabkan kerusakan di berbagai tempat. Tulisan ini berupa analisa bagaimana kejadian tersebut berdasarkan data-data meteorologi yang diperoleh dari stasiun yang terdekat dengan tempat kejadian. Indikasi adanya gusty, tercapainya suhu konvektif dan ketidakstabilan atmosfer dapat dilihat dari analisa aero diagram radiosonde Stasiun Meteorologi Cengkareng Tengerang. Beberapa indikator untuk memungkinkan terjadinya puting beliung dapat ditemukan. Walaupun kejadian puting beliung jarang terjadi di Lampung, kejadian kali ini penting pula untuk diinvestigasi, agar hasilnya dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran kedepan bila ada kejadian serupa.


1. PENDAHULUAN

Pada tanggal 2 Nopember 2006 pukul 14.15 WIB masyarakat di tiga kecamatan Kota Bandar Lampung yakni Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Tanjungkarang Barat, dan Tanjungkarang Timur dikejutkan oleh datangnya angin puting beliung disertai hujan dan petir. Angin puting beliung yang bergerak dari arah tenggara mengakibatkan tumbang nya sejumlah pohon, merusak sejumlah rumah, dan memutuskan beberapa jaringan telekomunikasi. Hujan lebat yang terjadi selama lebih kurang 45 menit mengakibatkan kawasan Kota Bandar Lampung terendam air. Air tergenang di sekitar pasar kangkung dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kelurahan Kangkung Telukbetung Selatan mencapai paha orang dewasa (Lampung Post, 3 Nopember 2006).

Belum ada investigasi tentang seberapa luas area yang terkena hempasan angin puting beliung tersebut, berapa panjang jalur yang telah di tempuh, dan berapa radius puting beliung tersebut. Yang terungkap dari kejadian tersebut hanyalah bekas kerusakan yang mungkin dapat mencapai beberapa ratus meter.

Tulisan ini berupa analisa bagaimana kejadian tersebut berdasarkan data-data meteorologi yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung dan Stasiun Meteorologi Cengkareng Tangerang. Hasil analisa diharapkan dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran kedepan bila ada kejadian serupa.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Studi yang dilakukan oleh McNulty (1988) dan Johns serta Doswell (1992) menunjukan bahwa ada dua faktor utama yang menentukan terbentuknya potensi cuaca buruk yang hebat, yaitu: ketidakstabilan yang ekstrim dan vertical wind shear yang kuat.

Awal dari terbentuknya fenomena cuaca ekstrim angin kencang dan puting beliung karena adanya thunderstorm yang dibentuk dari satu atau kumpulan inti supercell massa udara yang hebat.

Ada empat proses utama yang menyediakan sumber pengangkatan uap air di udara untuk membentuk awan, yaitu:

arus konveksi (pemindahan

gas/panas)

pergolakan tentang geseran

keadaan orografis

konvergensi /kenaikan karena

daerah yang luas.

Bentuk awan di Indonesia sebagian besar berkelompok, yang terbentuk dari sistem konveksi dan orografis dikenal sebagai cumulus dan menjadi cumulunimbus (Cb). Gerakan vertikal ke atas yang menyebabkan terbentuknya awan karena adanya beberapa gaya, yaitu gaya turbulensi, gaya Konveksi dan gaya Orografis (Sumardjo, et al., 1996). Bila ditinjau dari arah dan kecepatan aliran vertikal siklus awan cumulunimbus, maka ada tiga tahapan-tahapan pertumbuhan awan cumulunimbus (Cb) yaitu :

a. Tahap pertumbuhan (cumulus stage).

Pada tahap ini mulai ada arus udara keatas vertikal dan berkembang pada seluruh bagian awan (gambar.1). Makin ke atas (up-draft) makin kuat dan maksimum pada puncak awan. Tercapainya suhu konveksi, dan adanya konvergensi serta orografi suatu tempat berakibat terjadinya percampuran massa udara yang naik pada tiap-tiap lapisan di atmosfer (mixing). Sehingga pada tahap ini akan mulai terbentuk tinggi dasar dan puncak awan cumulus form yang cukup tebal.

01

b. Tahap dewasa (mature stage).

Di dalam awan terjadi up-draft dan down-draft atau udara naik dan udara turun (gambar.2). Pada tingkat ini mulai ada presipitasi yang mencapai tanah. Perbedaan yang paling besar dari proses ini didapatkan pada daerah yang aliran udara ke atas paling besar atau cepat, dan aliran udara ke bawah makin melemah. Pada akhirnya sedikit demi sedikit kecepatannya akan bertambah melebar baik dalam arah vertikal maupun horizontal, dan makin kebawah makin kuat dan mencapai maksimum pada dasar awan.

Suhu aliran udara pada bagian bawah (down-draft) akan lebih rendah dari udara sekelilingnya, sehingga pada tingkat ini disertai dengan arus dingin yang kuat, hujan lebat dan dapat juga disertai puting beliung. Intensitas badai guntur dicapai pada tahap ini.

02

(gambar.2)

c. Tahap mati (dissipating stage).

Pada tingkat ini up-draft sudah tidak ada (gambar.3), sedangkan aliran kebawah meluas di seluruh sel. Jumlah kristal-kristal es akan menjadi lebih kecil, akhirnya menjadi air sehingga dapat digunakan untuk mempercepat turunnya udara atau down-draft.

Selama hujan dan down-draft yang terjadi di udara dalam awan, suhunya lebih rendah dari sekitar. Pada suatu saat suhu udara di dalam awan sama dengan suhu udara sekelilingnya, maka hujan makin berkurang dan gangguan medan angin pada permukaan hilang. Dan pada saat inilah berakhirnya masa hidup badai guntur.

03

gambar 3)

3. DATA

Data sinoptik dan radiosonde yang penulis gunakan diambil di dua stasiun yang berbeda, yaitu Stasiun Meteorologi Cengkareng (96749) untuk data radoisonde dan data sinoptik dari Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung (96295) dengan alasan cukup mewakili kejadian angin puting beliung di Bandar Lampung.

3.1 Data Sinoptik

Data Sinoptik yang diambil tiap jam (00, 03, 06…23 UTC) selama satu hari yaitu tanggal 2 Nopember 2006 dari Stasiun Metorologi Radin Inten II Bandar Lampung. Data ini digunakan untuk mengetahui keadaan unsur meteorologi di permukaan pada saat kejadian angin puting beliung.

3.2 Data Radiosonde

Data radiosonde Stasiun Metorologi Cengkareng yang digunakan untuk analisa yaitu data radoisonde tanggal 2 Nopember 2006 jam 00.00 UTC. Data ini digunakan untuk mengetahui tingkat labilitas cuaca di atmosfer pada saat puting beliung.

3.3 Data Citra Satelit

Data citra satelit merupakan data yang diambil dari proses pemancaran sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan objek, baik yang ada di permukaan bumi maupun di atmosfer setiap jamnya. Dengan data ini dapat dilihat daerah yang berpotensi tumbuh awan-awan cumulonimbus (Cb).

3.4 Data Angin 3000 feet.

Data angin yang dianalisa yaitu data angin 3000 feet, dari jam 00.00 dan 12.00 UTC pada tanggal 2 Nopember 2006. Dari data ini terlihat adanya Typhon Cimaron di belahan bumi utara yang tumbuh di Laut Cina Selatan sehingga membentuk trough dan di belahan bumi selatan Samudera Hindia juga tumbuh tekanan rendah. Sehingga keduanya berpengaruh terhadap kenaikan massa udara yang menyebabkan pertumbuhan awan konvektif sangat kuat khususnya Propinsi Lampung.

4. METODE

Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah:

4.1 Analisa Labilitas Atmosfer.

Sebagian besar pembentukan awan dan hujan terutama di daerah tropis terjadi akibat adanya aktifitas vertikal dalam atmosfer.

4.1.1 Convection Condensation Level /CCL.

CCL adalah ketinggian lapisan jenuh atau lapisan awal terjadinya proses kondensasi yang dicapai oleh parsel udara yang naik secara adiabatis akibat adanya pemanasan dipermukaan. Pada kasus umum CCL merupakan tinggi dasar awan cumuli form.

4.1.2 Lifted Index/LI

LI adalah ukuran perbedaan antara suhu parsel udara bila dibandingkan dengan suhu lingkungannya pada ketinggian 500 mb. Setelah parsel telah terangkat dari LCL (lifted condensation level). Dari hasil penelitian besarnya nilai LI dikaitkan dengan prediksi Thunderstorm adalah sebagai berikut:

04

4.1.3 Sholwater Index /SI.

Sholwater Index (SI) dikembangkan oleh Peterson (Peterson S, Weather Analysis and Forecasty in Second Edition Volume II) untuk menganalisa tingkat kekuatan labilitas atmosfer.

Sholwater Index (SI) didefinisikan sebagai perbedaan suhu (T) pada ketinggian 500 mb dengan suhu pada ketinggian 850 mb dimana prosedurnya yaitu Td pada 850 mb dinaikkan secara mixing ratio dan suhu lingkungan (T) dinaikkan secara adiabatik kering hingga diperoleh perpotongannya yang kemudian dinaikkan mengikuti garis (lapserate) adiabatik basah sampai ketinggian 500 mb yang dinyatakan dengan TI.

Dengan demikian dapat ditulis:

SI = (T-TI ) 500 mb(AWS/TR-79/006).

Dari hasil penelitian besarnya nilai Sholwater Index (SI) dikaitkan dengan prediksi Thunderstorm adalah sebagai berikut:

NILAI SI

PREDIKSI CUACA

> 3

Tidak terjadi Showers

0 s/d 3

kemungkinan Showers

-3 s/d 0

Kemungkinan Thunderstorm

-3 s/d -6

kemungkinan Terjadi Thunderstorm hebat

< -6

kemungkinanTerjadi tornado

Reference AWS (Air Weather Service)

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Data Sinoptik Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung.

Pada tanggal 2 Nopember 2006 keadaan cuaca di Branti dan sekitarnya secara umum berawan, dengan awan Cumulunimbus (Cb) mulai teramati pada pukul 16.00 dan terus berkembang menjadi petir yang tidak disertai hujan di wilayah branti dan sekitarnya sampai pada pukul 19.00 WIB.

Analisa data sinoptik tanggal 2 Nopember 2006 di Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung memiliki jumlah awan rendah rata-rata harian pada saat itu 4–6 oktaf dengan jenis awan Cumulus Mediocris dan Cummulunimbus (Cb). Suhu Tc 33.30 C di Cummulunimbus (Cb) tercapai pada jam 05.00 UTC sebagai suhu permukaan yang harus dicapai untuk pembentukan awan konvektif karena pemanasan permukaan oleh matahari.

Suhu udara yang tercatat di Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung adalah suhu udara minimum 23,20 C terjadi pada pukul 05.00 WIB dan suhu udara maksimum 34,40 C terjadi pada pukul 13.00 WIB.

Angin kencang dengan kecepatan 10 m/s mulai tercatat pada pukul 14.00 WIB yang kecepatannya jauh lebih rendah dari perkiraan kecepatan dibagian luar puting beliung. Tekanan udara turun signifikan dengan cepat dari pukul 12.00 hingga mencapai terendah 1006,9 mb pada pukul 16.00 WIB, setelah itu pada pukul 17.00 WIB tekanan udara naik kembali mencapai 1011,4 mb pada pukul 22.00 WIB.

05-kurva-suhu1

Gambar 4. Data suhu tiap-tiap jam tanggal 2 Nopember 2006

06-kurva-tekana

Gambar 5. Data tekanan tiap jam tanggal 2 Nopember 2006.


5.2 Data Radiosonde Cengkareng

Dari data radiosonde tanggal 2 Nopember 2006, diperoleh beberapa parameter ketidakstabilan di atmosfer. Dari metode CCL diketahui tinggi dasar awan konvektif yaitu 5365 feet dengan suhu 17.30 C terjadi pada tekanan 836 mb. Pada puncak awan diketahui 43667 feet suhu -61.40 C terjadi pada tekanan 172 mb. Sedangkan dengan metode LCL, diketahui tinggi dasar awan yang dibentuk dari pengaruh orografik setempat terjadi pada ketinggian 383 feet, dengan suhu 23.30 C dilapisan 996 mb. Pada kriteria terbentuknya thunderstorm diketahui index untuk SI didapat sebesar 2.9. kemudian pada LI didapat indeksnya sebesar -1.9. sehingga dapat disimpulkan bahwa Thunderstorm mungkin dapat terjadi jika ada unsur lain yang dapat mempengaruhi dalam memperkuat gangguan cuaca (lampiran 3).

5.3 Data Satelit

Dari data citra satelit terlihat jelas mulai awan jenis cumulunimbus tumbuh sampai dengan awan cumulunimbus bergerak disekitar Sumatera Bagian Selatan hingga Provinsi Lampung (lampiran 2).

5.4 Data angin 3000 feet.

Adanya gagguan Typhoon Cimaron yang berada di Laut Cina Selatan membentuk suatu daerah trough yang melewati Kalimantan sampai Sumatera Bagian Selatan hingga Lampung (lampiran 1).

6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis data meteorologi menunjukkan bahwa keadaan atmosfer berada pada tingkat labil pada saat peristiwa puting beliung terjadi.

6.2 Saran

Sedikitnya data pengamatan cuaca yang diperoleh penulis di tempat kejadian mengakibatkan analisis menjadi kurang maksimal. Oleh karena itu perlu dibangun sistem pengamatan cuaca yang lebih mutakhir berupa radar cuaca agar investigasi peristiwa sejenis menjadi lebih optimal.

7. DAFTAR ACUAN

AN F3 tornado in Heidelberg, South Africa on 21 October 1999, E de coning# , B F Adam #, A M Goliger and T van Wyk Weather Forecasting Research Group, South African weather Bureau.

………, Lampung Post Edisi 3 Nopember 2006. Bandar Lampung.

Suharsono. 1973. Pedoman Analisa Cuaca, Pusat Meteorologi dan Geofisika. Jakarta.

The Use of Skew. Log P diagram Analysis and Forecasting, December 1979. Air Weather Service, Scott Air Force Base, Illinois 62225-5008

Tjasyono, Bayong. 1989. Meteorologi Fisis. Institut Teknologi Bandung. Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: