KERAGAMAN RUANG DAN WAKTU CURAH HUJAN DI SUMBER JAYA, LAMPUNG BARAT

Tumiar Katarina Manik

Tim Ahli TICIG Lampung

Wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumber Jaya, Lampung Barat dengan ketinggian pada umumnya diatas 1500 m merupakan salah satu wilayah yang merupakan sumber air bagi Provinsi Lampung yang dalam klasifikasi iklim Oldeman bertipe B1.

Penelitian difakukan sejak tahun 2005 dengan maksud untuk mempelajari jarak antar penakar hujan yang memberikan nilai korelsi tertinggi sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran tentang distribusi ruang dan waktu dari intensitas curah hujan di daerah Sumber Jaya dengan menggunakan metode analisa distribusi ruang dan waktu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim hujan dan musim kemarau, hujan turun dalam periode hampir sama, dengan pergeseran sekitar 30 menit dan pola distribusi hujan berkorelasi sedang (r = 0.5 – 0.7 ), yang berarti menunjukkan adanya distribusi curah hujan secara waktu homogen.


1. Pendahuluan

Curah hujan adalah unsur iklim yang terpenting di wilayah Tropis. Curah hujan sebagai komponen dari siklus hidrologi bersifat sensitif terhadap hal-hal yang menyebabkan keragaman iklim, baik itu yang terjadi secara alamiah maupun yang buatan manusia. Karena itu acap kali sulit memprediksi pola distribusinya secara ruang atau waktu.

Kesulitan ini bertambah karena jurang tersedianya data yang akurat dan dalam jangka waktu yang panjang.

Ada dua cara pengamatan curah hujan yang dikenal yaitu melalui penakar hujan dan melalui satelit. Penelitian yang didasarkan data penakar hujan biasanya menekankan pada keragaman waktu pada skala waktu tertentu tetapi pada lokasi yang terbatas. Sementara resolusi tinggi dari data satelit biasanya digunakan untuk keragaman ruang pada skala waktu yang terbatas. Persoalannya data dari instrumen yang berbeda sering kali tidak dapat disandingkan. Pengukuran pada titik-titik pengamatan melalui penakar hujan tidak selalu dapat dibandingkan dengan pengukuran rata-rata wilayah dari satelit (Gershunov dan Michaelsen, 1996).

Wilayah DAS Sumber Jaya, Lampung Barat merupakan salah satu wilayah yang merupakan sumber air bagi Propinsi Lampung. Berdasarkan data harian seperti yang dianalisa BMG, Lampung Barat dalam klasifikasi Oldeman bertipe iklim A dan B1 yang berarti relatif lebih basah dibandingkan wilayah lain di Propinsi Lampung. Sepeti juga titik-titik pengamatan hujan pada umumnya, penakar hujan di wilayah ini juga tersebar dengan jarak yang cukup jauh dan merupakan pengamatan harian. Padahal sebagai daerah pegunungan keragaman curah hujan didaerah ini diperkirakan cukup tinggi.

Meskipun keragaman ruang dan waktu dari daerah pegunungan umumnya tinggi, tetapi jika hujan yang terjadi terbentuk dari sistem iklim skala besar, misalnya sinoptik maka hujan akan turun dengan lebih merata sehingga hujan di wilayah ini dapat dianggap homogen. Dengan demikian mengetahui keragaman distribusi hujan secara ruang dan waktu akan membantu pemahaman tentang proses pembentukan awan dan sifat hujan suatu wilayah.

Dari penelitian sejak 2005 bekerja-sama dengan ICRAF telah dipasang 16 penakar hujan otomatik di beberapa titik puncak bukitjgunung yang mengitari DAS Sumber Jaya. Penakar hujan juga dipasang pada titik rendah dan pada sebuah ‘catchment’ kecil untuk mempelajari jarak antar penakar hujan yang memberikan nilai korelasi tertinggi. Hasil yang didapat masih merupakan data jangka pendek (Juli- Desember 2005) namun diharapkan dapat memberikan gambaran tentang distribusi ruang dan waktu dari curah hujan di Sumber Jaya.

2. Data dan Metoda

  1. Lokasi Pengamatan

Pengamtan dilakukan di Sumber Jaya, Lampung Barat Juli – Desember 2005. Sumber Jaya terletak pada 4055’ – 5010’ LS dan 104019’ – 104034’ BT, dengan ketinggian 700 – 1878 m dpl, dan dengan ketinggian dengan ketinggian 700 – 1878 m dpl, dan dikitari oleh rangkaian pegunungan. Di sebelah utara terdapat Bukit Benatan (1625 m), di bagian barat Gunung. Sekincau (1718 m) and Bukit Subhanallah (1623 m) di sebelah Timur Laut Gunung Tangkit Begelung (1272 m) dan Gunung. Tangkit Tebak (1878 m) dan Bukit Rigis (1400 m) pada bagian tengah DAS (Koleksi peta ICRAF dan Dinata, 2000).

  1. Metode
    1. Metode pengamatan

pengamatan dilakukan dengan menggunakan penakar hujan otomatis tipe ‘typing bucket’ yang dihubungkan dengan pencatat data yang mencatat data setiap 2 menit. Penakar di pasang pada sebuah catdlment seluas 100 ha yang terletak di antara desa Bodong dan Sukaraja. Terdapat 7 lokasi penakar hujan : C1 – C5 berada pada satu catchment sedangkan AF, FR berada pada lokasi hutan di bagian central DAS Sumber Jaya. Penakar hujan juga dipasang pada bukit-bukit yang mengitari DAS Sumber Jaya.

  1. Metode analisa :

Distribusi ruanq

Data dari masing-masing penakar di plot bersama. Distribusi ruang diperkirakan dengan menghitung nilai korelasi antar penakar hujan. Dengan memperkirakan jarak antar penakar dapat diketahui jauhnya jarak dengan korelasi antar penaRar yang masih nyata (dalam hal ini r> 0.7).

Disbibusi waktu

Perhitungan kuantitatif waktu dapat dilakukan dengan menghitung autokorelatif dari masing-masing penakar hujan. Nilai autokorelatif yang memiliki nilai yang sama dengan nilai korelasi akan menggambarkan berapa lama waktu yang dibutuhkan dari suatu penakar untuk memiliki distribusi hujan yang sama.

3. Hasil Perhitungan:

Data curah hujan dari 7 penakar diplotkan bersama :

12

Gambar 1. Distribusi waktu dari serangkaian penakar hujan pada DAS Sumber Jaya

3Gambar 2. Perbandingan jumlah hujan antar penakar hujan

4

67

1. Pembahasan dan Kesimpulan:

Gambar dan tabel diatas diambil dari beberapa kejadian hujan yang dianggap mewakili musim kering, awal musim hujan dan musim hujan, meskipun pada Bulan Desember belum terjadi puncak musim hujan. Seluruh penakar hujan menunjukkan bahwa hujan masih turun dalam waktu (jam) yang sama, pergeseran hanya terjadi dalam hitungan menit (sekitar 30 menit). Hal ini dapat dipahami karena seluruh penakar hujan ini berada pada luasan sekitar 100 ha. Tetapi pola distribusi hujan (setiap 2 menit) menunjukkan keragaman, hal ini ditunjukkan dari nilai korelasi yang sedang (r = 0.5 – 0.7) pada sebagian besar kejadian hujan, meskipun pada wilayah yang sempit. Tetapi umumnya pola hujan cukup diamati dalam selang waktu jam.

Dalam selang waktu ini diperkirakan pola distribusi hujan secara waktu akan homogen. Jumlah hujan (2 menit) yang dicatat tiap penakar juga dapat dikatakan homogen.

Secara sederhana dapat dikatakan luasan 100 ha dapat dianggap sebagai satuan terkeci/ dimana hujan masih homogen. Dalam keterbatasan ketersediaan alat 1 penakar mewakili 100 ha masih dimungkinkan meskipun Sumber Jaya bertopografi bukit-bukit.

Penelitian keragaman hujan lebih lanjut perlu dilakukan pada wilayah yang lebih luas dengan memperhatikan perbedaan ketinggian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: