KARAKTERISTIK HARI GUNTUR DI WILAYAH INDONESIA

Achmad Sasmito, Muhamad Husni, Gunawan Ibrahim

Badan Meteorologi dan Geofisika

ABSTRACT

Indonesia is a maritime continent and is located in the tropical region. Most of the region are abundance of cloud development causing rainfall through out the year. This region is also notorius with lightning and thunderstorm occurrences.

Lightning accompanied by thunderstorm can generally be seen coming from cumulonimbus cloud. Actually, lightning is very useful especially for plantation because it is able to fertilizer the soil in relation to the N2 development as essential substances, yet lightning is able to disturb us, even inflicts the environment because it causes damages especially for electronic instruments.

Result of thunderstorm analysis during 1991-2000 showed that Cilik Riwut Palangkaraya Meteorological Station ( Central Kalimantan ) experiented 300 thunderstorm days during a year. This value was becoming the highest occurrences taken from 50 thunderstorm observation station in Indonesia. Generally, location around the equator could be known as a rich source of thunderstorm. This condition rainfall through out the year and having twice maximum rainfall occurrences around april and October.

1. PENDAHULUAN
Wilayah Indonesia berada di antara dua benua asia dan Australia, dua samudera Hindia dan Pasifik. Letaknya membentang di sepanjang daerah katulistiwa, sebagai wilayah maritim kontinen hampir 2/3 bagian wilayahnya merupakan lautan dan sebagaian lagi terdiri dari kepulauan besar dan kecil yang jumlahnya kurang lebih 17.000 kepulauan. Terkadang dipengaruhi adanya gangguan siklon tropis, disamping itu wilayah Indonesia memiliki banyak gunung baik yang masih aktif maupun yang telah mati. Memperhatikan letak geografis, topografi, dan lingkungan tersebut pembentukan cuaca dan iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh deklinasi matahari, mosun, lokal, gangguan siklon tropis, dan couple yaitu interaksi antara laut dan atmosfer.

Berdasarkan hal tersebut diatas dari hasil analisis Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMG ) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia kaya hujan dengan tipe iklimnya dibedakan paling tidak menjadi tiga yaitu tipe Equatorial, Monsun dan Lokal.
Daerah yang memiliki tipe iklim monsun ditandai dengan dua musim dalam setahun, yaitu pada bulan oktober-Maret biasanya berlangsung musim hujan dan pada bulan berikutnya April – September biasa berlangsung musim kemarau yang ditandai dengan curah hujan relatif sedikit.
Memperhatikan keadaan iklim di wilayah Indonesia yang banyak hujan tersebut, sekaligus memberikan arti bahwa di wilayah Indonesia banyak tumbuh awan, termasuk jenis awan cumulonimbus (Cb) yang biasanya juga banyak menerbitkan thunderstorm. Peristiwa alam yang diterbitkan dari awan Cb dan pengaruhnya cukup ekstrim terhadap kehidupan, salah satu di antaranya adalah petir / kilat ( lightning, simbol ), biasanya disertai adanya guntur ( thunder, simbol T ) atau badai guntur ( thunderstorm, simbol ) Petir adalah penomena alam akibat terjadinya lompatan listrik pada awan yang bemuatan positf (+), dengan sebagian awan yang bermuatan negatif (-), dapat juga terjadi antara awan dan udara, atau antara bumi yang bermuatan negatif (-) dengan awan yang bermuatan positif (+).
Guntur didefinisikan sebagai bunyi yang diikuti cahaya kilat. Hal ini disebabkan adanya pemanasan secara mendadak yang berkembang disepanjang jalur lintasan kilat tersebut. Sedangkan badai guntur didefinisikan sebagai peristiwa satu atau lebih pelepasan listrik udara secara mendadak, hal ini sebagai perwujudan dari cahaya kilat dan disertai adanya suara gemuruh yang sangat keras.
Berkah listrik udara yang diciptakan oleh Tuhan berdasarkan hasil penelitian dapat menyuburkan tanah karena terbentunya unsur harga (N2). Namun di sisi yang lain akibat terjadinya badai guntur justru mengganggu dan bahkan terkadang menimbulkan bencana yaitu terjadinya kerusakan pada alat-alat elektronik yang dilalui listrik tersebut. Sebagai contoh seperti yang terjadi di kota Banjarmasin pada tanggal 05 Nopember 2000 pukul 17.00 WITA yang mengakibatkan jaringan telphone di wilayah pusat kota. Bahkan pada keadaan cuaca yang ekstrim dapat menimbulkan kebakaran, seperti yang terjadi di daerah Cilacap ( Jawa Tenggah ) yaitu petir yang disertai badai guntur menyambar kilang penyimpanan minyak milik Pertamina. Padamnya listrik wilayah Kalimantan Selatan karena isolator pada jaringan SUTT dan saluran gardu induk Cempaka disambar petir. Bahkan beberapa media juga melaporkan ada pejabat saat bermain golf meninggal akibat disambar petir.
Untuk mengetahui karakteristik badai guntur dan sekaligus sebagai gambaran umum keadaan listrik udara di wilayah Indonesia dalam penelitian ini digunakan analisis data hari guntur (thunderstorm day ) dari stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang tersebar diseluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke tahun 1991 – 2000 yang berjumlah 50 stasiun.
Oleh karena thunderstorm dan petir dihasilkan oleh awan jenis Cb, maka dalam tulisan ini juga disampai sekilas teori mengukur kelistrikan pada awan dan mendiagnosa pembentukan awan yang dikaitkam dengan kemungkinan terjadinya thunderstorm dengan menganalisisi radiosonde.
2. TINJAUAN TEORI
Guntur adalah bunyi yang diikuti dengan cahaya kilat, hal ini disebabkan adanya pemanasan secara mendadak yang berkembang disepanjang lintasan kilat tersebut. Munculnya guntur diawali dengan adanya pelepasan muata listrik positip (+) ke medan listrik yang bermuatan negatif (-) dari awan-awan konvektif yang disertai dengan adanya cahaya kilat (ligtning). Sumber terjadinya kilat berasal dari lompatan bunga api listrik yang terjadi antar medan muatan listrik dari awan dengan awan (intra / inter cloud), awan dengan massa udara (cloud and air mass), dan terjadi antara awan dengan permukaan bumi (cloud and ground).
Sedangakan badai guntur didefinisikan sebagai peristiwa satu atau lebih pelepasan listrik udara secara mendadak. Hal ini sebagai perwujudan dari cahaya kilat dan disertai adanya suara gemuruh yang sangat keras (sumber Geneva, World Meteorological Organization, International cloud atlas, Vol 1 Geneva WMO, 1956. p. 76).
Guntur biasanya dapat terdenngar pada jarak lebih dari 10 miles sampai kiara-kira 40 miles, akibat adanya refraksi gelombang suara pada atmosfer lapisan bawah. Terkadang guntur tidak dapat didengar pada jarak kurang dari 10 miles, khususnya ketika terjadi kilat yang berasal dari awan ke awan (inter cloud).
Struktur listrik pada awan cumulonimbus yang biasa menimbulkan badai guntur hasil pengamatan menunjukkan bahwa, muatan positif (+) terjadi di puncak awan yang banyak terdapat kristal es, diantara pucak dan dasar awan yaitu pada daerah kisaran suhu < 0o C s/d < – 20o C banyak terdapat muatan negatif (-), Sedangkan pada dasar awan yang berada pada daerah yang mengandung tetes hujan dan disekitar daerah dimana terjadi udara naik banyak terdapat muatan (+), dan sebagian lagi pada dasar awan umumnya bermuatan (-).
Sedangkan gambaran umum mengenai kelistrikan di atmosfer dianalogikan sebagaai rangkaian sirkit tertutup. Tegangan listrik terjadi karena adanya perbedaan potensial sebasar VT antar lapisan ionosfer denga permukaan bumi, adanya gas-gas di atmosfer harga potensial tersebut akan berkurang sebesar i. R1 antara permukaan bumi dengan puncak – puncak awan. Besarnya penurunan tersebut yaitu Vt – i.R1 = 36.000 Volt. Sementara itu besarnya tahanan antara lapiasan konduksi dengan permukaan bumi R2 harganya 200 Ohm, dan kapasititansi (C) untuk atmosfer pada cuaca cerah yaitu 0.25 farrad.
Untuk menghitung harga arus listrik (i) dihitung dengan persamaan sbb :
I = j x 4.∏.R2 …………………………. (1)
= 1800 Ampere
Dengan j = 3.5 x 10-16 amp/cm2 ( harga rata – rata kerapatan arus konduksi di seluruh permukaan bumi ) dan R = radius bumi.
Jika jumlah perbedaan potensial berharga 0 dan didifinisikan perpindahan arus mengalir dalam tahanan, sehingga beda potensial dapat dituliskan sbb :
V + 1/C ∫t i.dt …………………………. (2)
Jika harga potensial pada rangkaian tersebut berharga 0, maka dapat dituliskan persamaan sbb:
i.R2 + 1/C ∫t i.dt = 0 …………………. (3)
untuk R = R2, maka solusi persamaan (3) dapat ditulis sbb :
i = V/R.e (-t/RC) ………………….. (4)
Harga V/R di atmosfer sebanding dengan arus konduksi yang harganya = 1800 A. Harga RC disebut konstanta waktu dalam rangkaian tersebut. Untuk harga t/RC = 1, maka besarnya i akan meluruh sebesar 1800/e Ampere, untuk harga awal peluruhan tersebut yaitu 36.5 %. Jika diambil t = 4.6 RC, maka dapat ditulis sbb:
t = 4.6 RC
= 4.6 (R(z) / 4.∏.R2 (R2/Z)
= (4.6 / 4∏). (R(Z)/Z) ……….. (5)
Dimana R adalah besarnya harga tahanan atmosfe, C adalah kapasitansi, R(Z) adalah besarnya tahanan dalam suatu kolom udara (satuan dalan esu), Z tinggi lapisan atmosfer, dan R adalah radius bumi. Berdasarkan hasil pengamatan kew observatory di London (Inggris) harga R(z) = 4×10 Ohm/cm = 4,45×10 esu/cm, dan z = 18 kilometer.
Untuk menghitung besarnya kapasitansi diantara dua permukaan bola dapat dituliskan sebagai berikut :
C = 1/( 1/R1-1/R2)
= ( R2/Z) esu
= (R / (9×10) z farad
Dimana R1 dan R2 adalah radius permukaan bumi dan radius lapisan konduksi harganya dalam sentimeter, z = R2 – R1 adalah tinggi efektif lapisan konduksi.
Berdasarkan penelitian diperkirakan bahwa pada saat yang bersamaan dipermukaan bumi ini terjadi thunderstorm berkisar antara 1800 – 6000 yang menghasilkan arus listrik sebesar 1800 Ampere tersebut. Penelitian yang dilakukan C.E.P. Brooks memperkirakan bahwa dipermukaan bumi ini terjadi thunderstorm yaitu sekitar 44.000 per hari.
Perlu untuk diketahui bahwa arus listrik yang dihasilkan dari thunderstorm berkisar antara 0,3 – 1 Ampere. Sedangkan berdasarkan survey yang dilakukan oleh Gish dan Wait ( 1950) menunjukan bahwa thunderstorm menghasilkan arus berkisar antara 0 – 6,5 Ampere dan harga rata-rata yaitu 0,6 Ampere berdasarkan sample pengukuran 24 thunderstorm.
Setelah mengetahui gambaran umum distribusi kelistrikan di atmosfer, selanjutnya akan dipelajari prinsip dasar menghitung kelistrikan pada awan Cumulonimbus. Secara singkat dapat dijelaskan seperti pada gambar 3. Dari gambar tersebut bila posisi O dinyatakan sebagai detector untuk mengukur medan listrik dengan muatan Q1 dan Q2 yang berada pada titik tinggi Z1, dan Z2. Sedangkan x menyatakan jarak mendatar antara detector dengan proyeksi dasar awan, maka besarnya medan listrik sesuai hukum Coulomb dinyatakan sebagai berikut :
∂V / ∂r = Er
= 4∏σ
= Q/r2 …………………………..(6)
Dengan :
σ = Q/A
A = 4.∏. r
Dari gambar tersebut kontribusi medan listrik terhadap bumi dapat ditulis sebagai berikut :
Ez = 2 Er.sin(α)
= 2 ( Q / r ) sin (α) ………….. (7)
r 2 = x 2 + z 2
Dan
sin (α) = Z /( x 2 + z 2)1/2
E1 = -2 Q1 z1 /(x2+(z1)2 )1/2 …. (8)
E2 = 2 Q2 z2 /(x2+(z2)2 )1/2 …. (9)

Dalam kenyataannya harga Q1 berharga negatif, sedngkan Q2 berharga positif, total penjumlahannya dapat dituliskan sebagi berikut :
E = E1 + E2
= 2.Q1.z2 / (x2+(z2)2)1/2 – 2.Q1.z1 / (x2+(z2)2 )1/2 ……………………..(10)
Jika harga Q1 = Q2 dan z2 – z1 = 1 kilometer ( 1 km < z2 – z1 < 4 km ), dan ditetapkan harga E = 0, pada x = 3 kilometer, dan E = 25 Volt/cm pada x = 5 kilometer. Bila kondisi tersebut diatas disubtitusikan ke dalam persamaan (5), maka diperoleh harga z1 = 1.7 kilometer, z2 = 2.7 kilometer, dan Q1 = Q2 = 43 Coulomb, pada contoh ini harga x > 8 kilometer.
Oleh karena awan Cumulus mempunyai pertumbuhan yang sangat beragam di berbagai tempat, hasil pengukuran muatan listrik pada partikel air hujan diberbagai titik tinggi ( 5.000 – 20.000 feet) yang dilakukan oleh “ R. Gunn “ tanggal 24 Juli 1945 disekitar awan Cumulus yang aktif membangkitkan thunderstorm diperoleh hasil yang beragam. Selanjutnya untuk menentukan total muatan listrik pada suatu volume V dan luas permukaan A dapat dituliskan sebagai berikut :
Q = ∫ A . dA
= ∫V q.dV …………………….. (11).
Bila radius tetes adalah r dan memiliki kerapatan muatan q yang serba sama atau mempunyai kerapatan muatan permukaan sehingga persamaan (11) dapat dituliskan sebagai berikut :
σ ∫ 4∏r2 d ( 4.π.r2) = q ∫4∏r3 d(4πr3 )
……………….. (12)
= (4/3).π.r3.q/(4πr2)
= rq/3 …………………………. (13)
Sedangkan kerapatan medan listrik sesuai dengan persamaan (1) dapat dinyatakan sebagai berikut :
Er = (4/3). π.r.q …………. (14)
Sesuai dengan hasil pengukuran yang dilakukan oleh R. Gunn dimana harga r adalah 1 kilometer dan harga q rata –rata pada titik tinggi 5000 – 12000 feet diperoleh harga 3,7 x 10-5. Bila kedua besaran tersebut dimasukkan dalam persamaan di atas maka diperoleh kerapatan medan listrik yaitu :
Er = (4/3.π x 105 x 3,7 x 10-5
= 15,5 statvolt/cm
= 4650 volt/cm
Jika diasumsikan harga q adalah 3,7 x 10 esu/cm, sehingga besarnya muatan Q dapat dihitung sebagai berikut :
Q = 4/3 π.r3.q
= 4/3. (.(105 ) 3 x 3.7 x 10-5
= 15.5. 1010 stat Coulomb
= 52 coulomb
Hasil tersebut mendekati harga yang dilakukan pengukuran secara langsung dengan menggunakan pesawat yang dilakukan oleh Gish dan Wait yaitu -39 coulomb pada titik tinggi 5000 feet dan +39 Coulomb pada tinggi 20.000 feet.
Setelah memahami gambaran umum tentang listrik udara, cara mengukur kelistrikan pada awan – awan Cumulonimbus, selanjutnya perihal lain yang harus difahami yaitu bagaimana cara mendiagnosa bakal tumbuhnya awan yang dapat membangkitkan petir yang disertai thunderstorm.
Sebagaimana diketahui dalam pengamatan cuaca (synop) salah satu unsur klimatologi yang diamati yaitu thundestorm. Selama ini pemantauan yang dilakukan oleh BMG umumnya dengan cara manual (terdengar bunyi adannya badai guntur) dengan kesepakatan bahwa bila dalam sehari terdapat berkali-kali terjadi badai guntur dianggap sebagai satu hari adai guntur dianggap sebagai satu hari badai guntur (thunderstorm, day). Namun dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan tehnologi, akhir-akhir ini BMG juga telah mengembangkan pemantauan petir dengan alat “lightning detector”. Alat ini dapat merekam frekwensi, posisi lintang dan bujur), dan jarak terhadap kedudukan alat perekam terjadinya guntur/petir.
Sedangkan untuk mendiagnosa di suatu wilayah apakah bakal tumbuh awan-awan, Cumulus atau Cumulusnimbus yang memungkinkan terjadinya thunderstrom dapat digunakan alat radiosonde. Alat tersebut tediri dari dua bagian utama yatu penerima (reciever) dan sensor yang diterbangkan dengan balon udara yang terdiri dari sensor tekanan udara (P), temperatur (T), dan kelembaban udara (RH). Pada saat operasional alat tersebut dapat merekam secara langsung sinyal sensor (P, T, RH), dan sekaligusmerekam kedudukan azimut dan elevasipada berbagai paras tersebut dapat ditung arah dan kecepatan angin. Untuk menganalisis data rason tersebut dapat memprakirakan tinggi dasar dan puncak awan, labilitas, gerak vertikal, tinggi lapisan adukan (mixing depth), dan kandungan uap air di udara.
Sebagaimana diketahui bahea mekanisme pembentukan awan dapat terjadi karena beberaopa hal diantaranya yaitu karena turblensi mekanis, gerak konveksi, orografi, dan gerakan udara naik dalam skala yang luas (front, palung, ITCZ, atau adanya gangguan siklon tropis).
Dengan menganalisis data radiosonde dapat digunakan untuk mendiagnosa pembentukan awan konveksi di suatu wilayah yang selanjutnya dapat diprakirakan apakah bakal tumbuh thunderstorm di tempat tersebut. Model yang lazim digunakan untuk mendiagnosa pembentukan awan dapat digunakan dengan 3 metode yaitu :
2.1. Metode Parcel
Model ini diasumsikan bahwa udara yang naik melaui proses adiabatis yaitu tidak ada energi yang keluar atau masuk dalam parcel tersebut. Selama gerak vertikal tersebut gaya grafitasi sangat berperan. Secara matematis percepatan gerak vertikal dapat dituliska sbb :
dw/dt = – ( T – T’ ) .g/T ………….. (15)
Dengan :
dw/dt = percepatan gerak vertikal
T = temperatur udara parcel
T’ = temperatur udara lingkungan.
2.2. Metode slice
Dalam model ini diasumsikan terdapat kompensasi udara yang naik keatas dari massa udara di sekitarnya, sehingga terjadi difussi temperatur udara yang naik dengan uadara disekitarnya. Secara matematis proses pencampuran temparatur udara tersebut dapat dituliskan sbb:
Tc – Te = ((V’ ( Γ – Γj )) – ( V (Γ – Γk)).Δt)
………………………… ( 16 )
Dengan : Γ Lapserate lingkungan
Γj = Lapserate adiabat jenuh
Γk = lapserate adiabat kering
Δt = Interval waktu
2.3. Metode Entrinment
Dalam metode ini diasumsikan bahwa massa udara yang ada di sekitarnya terjadi percampuran dengan massa udara yang naik. Sehingga di sini berlaku hukum kekekalan energi maupun kekekalan momentum. Secara matematis proses pencampuran tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :
T = L / ( Cp (q” – qs )) …………… (17)
Dengan :
L = Panas yang dilepaskan kondensasi
Cp = Panas spesifik pada tekanan tetap
q’ = Spesifik humidity pada massa m’
qs = Spesifik humidity saturated (jenuh)
3. DATA
Untuk mengetahui karakteristik hari guntur di wilayah Indonesia digunakan data thundestrom dari tahun 1991 – 2000 yang diamati di stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Oleh karena kegiata operasional stasiuntersebut beragam, maka dalam analisis inikhusus hamnya digunakan stasiun yang beroperasi 24 jam saja, sedangkan stasiun yang beroperasi < 24 jam tidak digunakan. Disamping iu data yang keakuratannya diragukan juga tidak diikut setakan dalam kajian ini.
Berdasarkan hasil laporan Stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di daerah mulai dari Sabang sampai Merauke dapat terkumpul data thundestorm dari 67 stasiun. Dengan memperhatikan berbagai pertimbangan tersebut diatas dalam analisis ini hanya mengunakan data dari 50 stasiun saja.
4. ANALISIS
Dengan menggunakan data thunderstorm dari 1991 – 2000, dari 50 stasiun terpilih diperoleh hasil analisis sbb :
Harga rata – rata dari guntur selama kurun waktu setahun berasarkan data 1991 – 2000 maksimim terjadi di stasiun Palangkaraya yaitu 300 kali kejadian, dan harga minimum yaitu 68 terjadi di stasiun Denpasar, Bali.
Daerah di sekitar equator meliputi Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Barat dan Tenggah, Kepala Burung Irian Jaya, dan daerah Jawa barat ditenggrai daerah yang kaya hari badai guntur sepanjang tahun < 150 hari badai guntur ( 50 % dalam setahun). Sedangkan daerah yang berada disebelah selatan equator meliputi Lampung, Jawa Tenggah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, daerah sekitar Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Selatan hari guntur relatif lebih rendah dari pada daerah di sekitar equator.
Secara rinci karakteristik rata – rata guntur di wilayah Indonesia untuk bulan januari – desember dapt dijelaskan sbb :
4.1 Bulan Januari
Distribusi hari guntur berkisar antara 5 – 20 wilayah paling banyak terjadi thunderstorm yaitu kalimantan Tenggah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat dan Tenggah bagian Utara. Secara umum dapat dikatakan bahwa daerah disebelah selatan equator umumnya banyak terjadi thunderstorm dibanding dengan daerah di utara equaor.
4.2. Bulan Februari
Distribusi terjadinya thunderstorm bulan pebuari sama polanya menyerupai bulan Januari, yaitu daerah di sebelah selatan equator umumnya banyak terjadi thundestorm di banding disebelah utara equator. Wilayah paling banyak terjadi thunderstorm yaitu di wilayah Kalimantan Tenggah.
4.3. Bulan Maret
Distribusi bulan maret Pola masih menyerupai bulan pebuari maupun bulan januari, dimana daerah disebelah selatan equator umumnya banyak terjadi thundestorm dibandingkan dengan daerah di utara equator. Wilayah paling banyak terjadi thunderstorm berada disekitar Kalimantan Tenggah. Kalimantan Selatan, Jawa Barat dan Tenggah bagian Utara, dan daerah sekitar Sumatera Barat dan Bengkulu.
4.4. Bulan April
Sebagian besar wilayah Indonesia banyak terdapat thunderstorm, kecuali daerah disekitas Nusa Tenggara Timur relatif sedikit. Wilayah yang sering terjadi thunderstorm yaitu berada di kalimantan Barat, Kalimantan Tenggah, Kalimantan selatan, sebagian besar wilayah Sumatera meliputi daerah Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan wilayah DKI Jakarta.
4.5. Bulan Mei
Pada umumnya pola distibusi thundestorm bulan mei nampak sangat berbeda dibanding bulan sebelumnya yaitu bulan januari – april, dimana daerah disebelah selatan equator umumnya lebih sedikit terjadi thunderstorm dibandingkan dengan daerah disekitar equator maupun disebelah utara equator. Wilayah yang paling banyak terjadi thunderstorm masih tetap berada di sekitar Kalimantan Tenggah. Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.
4.6. Bulan Juni
Pada umumnya bulan juni terjadinya thunderstorm relatif sedikit dibandingkan bulan sebelumnya yaitu mulai januari – mei. Daerah paling banyak terjadi thundestorm di sekitar kalimantan Tenggah, Sumatera Utara, dan daerah paling sedikit terjadi thunderstorm barada di wilayah Nusatenggara timur.
4.7. Bulan Juli
Pola distribusi thundetstrom bulan juli menyerupai pola bulan juni, daerah paling banyak terjadi thunderstrom masih berada disekitar kalimantan Tenggah dan sumatera Utara.
4.8. Bulan Agustus
Distribusi thunderstrom bulan agustus Polanya masih seperti bulan juni maupun juli, dimana daerah paling banyak terjadi thunderstrom tetap berada disekitar Kalimantan Tenggah dan Sumatera Utara.
4.9. Bulan September
Distribusi thunderstrom bulan september Polanya masih seperti bulan juni – agustus, dimana daerah paling banyak terjadi thunderstorm tetap berada di sekitar Kalimantan Tenggah dan Sumatera Utara.
4.10. bulan Oktober
Distribusi thunderstorm bulan oktober daerah utara dan sekitar equator umumnya lebih banyak dibandingkan denga daerah diselatan equator. Daerah paling sedikit terjadi thunderstorm berada di sekitar Nusa Tenggara timur.
4.11. Bulan Nopember
Sebagian besar wilayah Indonesia banyak terdapat thunderstorm harnya berkisar antara 15 – 25 hari, dan daerah paling sedikit terjadi thunderstorm berada di sekitar Nusa Tenggara Timur.
4.12. Bulan Desember
Distribusi thundestorm bulan desember polanya menyerupai seperti pada bulan nopember sebagian besar wilayah Indonesia banyak thuderstorm yaitu bekisar antara 15 – 25 hari. Daerah paling banyak terjadi thunderstorm berada disekitar Kalimantan Tenggah dan kawasan bagian Utara.
5. PEMBAHASAN
Untuk mengetahui proses fisis terjadinya tunderstorm dan petir (listrik udara) terlebih dahulu harus mamahami proses fisis terbentuknya awan cumulus atau cumulonimbus yang didalamnya banyak mengandung muatan listrik positip (+) terutama pada puncak awan yang banyak mengandung kristal es, sebagian lagi mengandung muatan listri positip (+) pada daerah yang tedapat tetes air, dan muatan negatip (-) umunya pada dasar awan. Akibat bertemuya dua muatan (+) dan (-) tersebut menimbulkan petir dan biasanya disertai badai guntur yang menimbulkan suara yang cukup keras. Disamping itu petir dapat juga terjadi karena ada loncatan muatan listrik positip dari awan dan beriteraksi dengan muatan listrik negatif dari permukaan bumi.
Terjadinya petir terdapat pada awan-awan yang menjulang tinggi yang lazim disebut awan cumulonimbus (Cb), dimana pada tahap matang awan tersebut terdapat angin naik (up draff) sedangkan pada bagian lain terdapat angin turun (down draff) biasanya disertai denga hujan yang relatif lebat dan dalam waktu yang relatif singkat.
Memperhatiakn letak geografis Indonesia yang barada disekitar equator dan kaya radiasi surya sepanjang tahun, keadaan topografi banyak gunung, dan kondisi lingkungan yaitu merupakan daerah kontinen maritim banyak mengandung uap air, serta merupakan daerah pertemuan sirkulasi utara selatan (Hadley) dengan sirkulasi timur-barat (Walker), sewajarnya indonesia merupakan daerah banyak awan (cumulonimbus) yang membangkitkan terjadinya petir yang disertai thunderstorm, dan sekaligus daerah yang kaya hujan.
Jika ditinjau dari skala waktu (tahunan) pembentukan awan cumulus / cumulonimbus biasanya disetai dengan terjadinya petir sering muncul menjelang musim hujan hingga musim hujan itu sendiri (tipe Monsun). Sedangkan daerah yang memiliki tipe equatorial pembentukan cumulus / cumulusnimbus dapat berlangsung sepanjang tahun, dan puncak kejadiannya berlangsung sekitar bulan april dan oktober.
Bila ditinjau dalam skala waktu harian daerah daratan umumnya terjadi thunderstorm berlangsung pada sore hari dan di daerah lautan berlangsung pada malam hingga pagi hari. Keadaan yang demikian ini berkaitan erat dengan proses fisis pembentukan awan. Berdasarkan hasil pengamatan di Indonesia bila ditinjau dalam skala waktu bulan / tahunan tipe ekuatorial umumnya memliki banyak thunderstorm sepanjang tahun. Sedangkan daerah mosun pada bulan Oktober – Maret umunya banyak thunderstorm.
Akan tetapi jika ditinjau dalam skala ruang wilayah Indonesia sekitar ekuator yang membentang dari barat ke timur yang sekaligus memiliki tipe ilim ekuatorial merupakan daerah yang ditenggarai banyak thunderstorm hampir sepanjang tahun. Sedangkan pada daerah yang memiliki tipe iklim monsun (sebagian sumatera, Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara) umumnya pada musim hujan banyak thunderstorm, sebaliknya pada musim kemarau sedikit thunderstorm. Namun di antara daerah monsun itu sendiri terjadinya thundestorm cukup bervariasi ada sebagian daerah hampir selama enam bulan musim hujan relatif cukup banyakt thundestorm sepeti di sebagian besar Sumatera dan Jawa. Namun ada daerah tipe mosun yang hanya beberapa bulan saja (sekitar 3 bulan) banyak thunderstorm sepeti di daerah Nusa Tenggara Timur pada umumnya.
Syarat terjadinya thunderstorm dan petir bila pada daerah tersebut terdapat awan jenis Cumulonimbus. Salah satu cara untuk mendiagnosa pertumbuhan awan di suatu wilayah dengan radius antara 150 – 200 kilometer dapat digunakan data radiosonde. Berdasarkan ketetapan WMO pelepasan balon radiosonde sehari diperlukan 4 kali, namun karena terbatasnya dana operasional sejak tahun 1998 BMG hanya melepas 3 kali sehari. Bahkan ada stasiun yang hanya melepas 1 kali dalam sehari.
Selama ini untuk mendiagnosa pertumbuhan awan dan sekaligus dapat digunakan untuk memprakirakan terjadinya thunderstorm digunakan data radar atau satelit, untuk lebih akurat dapat di dombinasikan keduanya.
Oleh karena pengamatan thundestorm yang dilakukan oleh BMG umumnya masih dilakukan secara manual, maka cara yang paling sederhana untuk mengetahui keakuratan data thunderstorm dapat dilakukan dengan membandingkan data thundestorm antara satu stasiun dengan stasiun terdekat lainnya. Sedangkan untuk mengetahui apakah hujan yang ditimbulkan dari jenis awan lainnya dapat dibandingkan antara data thunderstorm dengan hari hujan yang terjadi di daerah tersebut.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa data thunderstorm yang akan dianalis di seluruh wilayah Indonesia berjumlah 67 stasiun. Namun setelah dilakukan pengujian secara langsung dengan memperhatikan jam operasional stasiun dan dihubungkan dengan data sekitarnya ataupun tipe iklimnya. Maka setelah dilakukan “quality control” terdapat beberapa data yang data yang tidak digunakan, sehingga dalam analisis ini hanya digunakan data dari 50 stasiun. Sedangkan data thunderstorm dari 17 stasiun lainnya tidak disertakan dalam analisis ini.
Dengan menggunakan data thunderstorm dari 50 stasiun yang tersebar di indonesia sejak 1991 – 2000 dan selanjutnya dibuatkan isoplet untuk masing – masing bulan. Untuk daerah sekitar ekuator (tipe Ekuatorial) pada umumnya lebih sering terjadi thunderstorm ketimbang daerah lainnya (tipe monsun maupun tipe lokal). Sedangkan daerah tipe monsun / lokal dominan terjadi thunderstorm berlangsung pada saat musim hujan yaitu pada oktober – maret. Berdasarkan data Thunderstorm tahun 1886-1941 daerah Bogor dan sekitarnya dinyatakan sebagai daerah terkaya thunderstorm diseluruh dunia. Namun berdasarkan data 1991 – 2000 justru didaerah Kalimantan Tengah merupakan daerah paling banyak terjadi thunderstorm. Hal ini cukup menarik perhatian di kalangan meteorologi apakah memang di daerah Bogor dan sekitarnya telah terjadi perubahan lingkungan, sehingga telah mempengaruhi proses fisis dalam pembentukan awan-awan cumulonimbus yang biasa membangkitkan thunderstorm . Atau mungkin terjadi kesalahan pengamatan sehingga data yang disampaikan ke BMG pusat kurang akurat. Berkaitan dengan hal tersebut BMG diharapkan segera melakukan penelitian lebih lanjut mengenai fenomena thunderstorm ini.
Sebagaimana diketahui bahwa adanya thunderstorm selalu diawali dengan adanya peristiwa petir. Thunderstorm yang kita dengan intensitasnya berkaitan erat dengan jarak dan intensitas petir yang ditimbulkannya. Untuk itu bila musim hujan tiba yang biasa disertai petir dan thunderstorm sebaiknya pada saat terjadi thunderstorm berhenti sejenak untuk tidak menggunakan alat-alat elektronik. Hal ini dikawatirkan terjadinya sambaran petir yang dapat merugikan semua pihak. Disamping itu bila memiliki alat-alat yang sangat vital, harganya relatif mahal dan pemasangannya berada di luar (Out Door) sebaiknya alat tersebut disertai dengan alat penangkal petir.
Mengingat pentingnya data thunderstorm untuk perencanaan pembangunan proyek yang sangat vital, memerlukan dana yang relatif cukup besar dan bila terjadi bencana efeknya dapat merugikan semua pihak , seperti rencana pembangunan Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara Jawa Tengah, pemasangan saluran udara tegangan ekstra tinggi ( SUTT / SUTET ) yang dilaksanakan oleh PT. ( Persero) PLN dan beberapa instansi lain yang memasang repeater untuk komunikasi. Informasi meteorologi, thunderstorm dan petir merupakan salah satu data dukung strategis yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan dan mendukung kelancaran aperasional.
Untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pemantauan petir, thunderstorm atau unsur meteorologi lainnya yang selama ini juga dilakukan oleh berbagai institusi di luar BMG, hendaknya dilakukan secara koordinasi yang baik dengan BMG. Karena BMG ditunjuk oleh pemerintah Indonesia sebagai wakil tetap World Meteorological Organization (WMO) ( sebagai Permanent Representative dari WMO ). Dengan demikian dalam sidang tahunan WMO di Genewa, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (KBMG) bertanggung jawab untuk membuat laporan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan meteorologi di Indonesia. Mengingat selama ini BMG belum dapat menghimpun dengan baik kegiatan meteorologi, kualitas udara dan geofisika yang dilakukan oleh instansi lain di luar BMG, sehingga informnasi yang dilaporkan ke WMO masih belum lengkap.
Disamping hal tersebut di atas, akibat kurangnya pemahaman betapa pentingnya data dan informasi meteorologi di berbagai sektor, mengakibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia justru semakin tertinggal jauh dari negara maju.
Untuk mendukung peran BMG di WMO pemerintah telah mengeluarkan Keppres 53 tahu 1986 yang mengatur koordinasi penyelenggaraan dan pemanfaatan jasa meteorologi dan geofiska oleh karena BMG berada dibawah Depatemen Perhubungan terkadang usulan yang disampaikan kalah prioritas, sehingga kucuran dana yang ada sangat terbatas dan kegiatan koordinasi lintas sektoral tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Selanjunya dalam era reformasi terbit Peraturan Pemerintah Republik Indonesia ( PP ) No.25 tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi, dimana di dalamnya terdapat tiga ( 3) butir kewenangan BMG yaitu :
1. Penetapan standar teknis peralatan serta pelayanan meteorologi penerbangan dan maritim.
2. Pengaturan sistem jaringan pengamatan meteorologi dan klimatologi.
3. Pemberian jasa meteorologi dan klimatologi.

Munculnya PP. NO.25 tahun 2000 bersamaan dengan kondisi keuangan negara belum pulih dari krisis moneter, sehingga PP tersebut belum sempat disosialisasikan oleh BMG.
Mengingat peranan Meteorologi dan Geofisika dipandang sangat strategis untuk mendukung berbagai kebijakan, disamping secara pribadi perhatian dan cintanya Ibu Megawati terhadap meteorologi, maka dengan berbagai pertimbangan yang cukup arif yang digagas oleh Presiden Ibu Megawati akhirnya muncul Keppres No. 45, 46, 47 dan 48 tentang kedudukan BMG yang selama ini berada di lingkungan Departemen Perhubungan, dan sejak tanggal 1 Juli tahun 2002 telah berubah menjadi Lembaga Pemerintahan Non Departemen ( LPND) dimana tugas, fungsi dan kewenangan semakin jelas. Hal ini sekaligus menandai hirarki usulan anggaran tahunan program kerja kegiatan meteorologi, Klimatologi, kualitas udara dan geofisika lebih pendek dan mendiri. Adanya perubahan organisasi tersebut diharapkan kegiatan meteorologi dan geofiska semakin berkembang dan dapat mengimbangi kemajuan negara lainnya minimal dilingkungan ASEAN.

6. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan tersebut diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
6.1. Wilayah Indonesia yang memiliki tiga
(3) tipe iklim yaitu Ekuatorial, Monsun dan lokal ternyata menyerupai pola distribusi terjadinya thunderstorm di Indonesia. Dimana daerah tipe Ekuatorial umumnya mempunyai hari badai guntur lebih banyak dibandingkan dengan daerah tipe Monsun ataupun tipe lokal. Untuk daerah tipe Ekuatorial thunderstorm terdistribusi hampir merata sepanjang tahun. Sedangkan tipe monsun maupun Lokal thunderstorm dominan terjadi pada musim hujan ( oktober – maret ) ketimbang musim kemarau ( april – september).
6.2. Berdasarkan data 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa stasiun Palangkaraya justru sering terjadi thunderstorm dengan kejadian 300 kali dalam setahun. Sedangakan bedasarkan tahun 1886 – 1941 justru daerah Bogor dikenal sebagi daerah terkaya petir diseluruh dunia.
6.3. Untuk perencanaan pembangaunan proyek yang sangat vital dan memerlukan dana yang relatif cukup besar informasi thunderstorm dan petir merupakan data dukung stratgis yang dapat digunakan untuk megambil keputusan dan mendukung kelancaran operasional.
6.4. Dalam rangka mendukung IPTEK sitiap institusi yang menyelenggara kan kegiatan meteorologi, klimatologi kualitas udara dan geofisika hendaknya bersinergi dengan BMG sebagai wakil tetap WMO di Indonesia, dan setiap tahun diwajibkan melaporkan kegiatan meteorologi di Indonesia.
7. SARAN
7.1. Pada umumnya stasiun yang dikelola oleh BMG hanya memantau hari guntur yang dilakukan secara manual, dan hanya beberapa stasiun yang memantau frekwensi terjadinya petir, di masa mendatang diharapkan kebijakan BMG selain memantau hari guntur sekaligus juga petir.
7.2. Dalam rangka mendukung pembangunan di Indonesia pemetaan berbagai unsur meteorologi / klimatologi, kualitas uadara dan geofisika kiranya perlu segera diterbitkan oleh BMG, termasuk peta hari guntur.
7.3. Agar supaya diperoleh informasi meteorologi dan geofisika denngan baik dan benar agar semua instansi di luar BMG yang menyelenggarakan kegiatan meteorologi, klimatologi kualitas udara dan geofisika untuk segara bersinergi dengan BMG, serhingga akan diperoleh informasi yang lebih baik dan akurat.
8. ACUAN
John C. Johson, 1955. “physical Meteorology” The MIT Press, Massachusetts institute Of Technology. Cambridge, Massachusetts
Byers, J.R. “ …….. Element of Cloud Physics”. The university Of Chichago press.
A.H. Hooper, WMO. “Instrument and Observing Method”. Report No.21 Algorithms For Automatic Aerological Soundings, November 1996.
C.S. Ramage, 1971. “Monsoon Meteorology”, University of Hawai, Honolulu Hawai.
Meteorology Glosary, 1963 Compiled By D.H. Mc Inntosh.
Achmad sasmito. 1998 “ Characteristic Sea Surface Temperatur In The Eastern Indonesian Region To Detec El-Nino Phenomenon”
Disadur dari JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA Vol3. No.4 Oktober – Desember 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: