PEMBAGIAN DAERAH TIPE IKLIM KOTA BANDAR LAMPUNG

BAMBANG N. SETYANTO

Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung

Daerah Bandar Lampung meliputi daerah pesisir, tanah datar dan pegunungan dengan model geografi yang berbeda maka sebaran curah hujannya akan berbeda ditiap daerahnya, sehingga tipe daerah agro-klimatnya terbagi menjadi 4 (empat ) daerah. Dengan panjang musim pada umumnya 7 bulan dan sisanya musim penghujan. Permulaan musim kemarau pada pertengahan bulan April dan sebaliknya permulaan msuim hujan dimulai pada akhir Nopember.

I. PENDAHULUAN
Curah hujan merupakan salah satu sumber daya alam yang didapatkan secara cuma-cuma, namun manfaatnya sangat besar dalam kehidupan manusia, khususnya perencanaan pola tanam pada sektor pertanian.
Selain daripada itu curah hujan merupakan unsur iklim yang paling tinggi keragaman dan fluktuasinya, sehingga curah hujan merupakan unsur iklim yang sangat dominan memberikan karakteristik dan potensi sumber daya agro-kllimatnya di Indonesia.
Faktor cuaca dan iklim yang berhubungan langsung dengan perencanaan agro-klimat adalah curah hujan, suhu udara dan radiasi matahari, sedangkan analisis iklim dalam hubungannya dengan resiko pertaniaan antara lain : pemodelan iklim untuk prakiraan iklim dan penyimpangannya, karakteristik dan analisis sifat hujan, intensitas curah hujan, awal musim (kemarau/hujan), panjang musim dan intensitas selama musim hujan berlangsung.

II. KLASIFIKASI AGRO-KLIMAT

Wilayah Indonesia terletak diantara dua benua, sehingga sebagian besar mempunyai tipe iklim monsun (satu siklus satu puncak), pada daerah sekitar khatulistiwa mempunyai tipe iklim equatorial ( satu siklus mempunyai dua puncak hujan ) dan tipe lokal terjadi pada daerah sekitar kepulauan Maluku yang bercirikan kebalikan dari tipe monsun ( pada saat monsun puncak, maka pada tipe lokal justru pada titik nadir). Monsun dapat diartikan suatu sistem cuaca di suatu wilayah tertentu. Monsun yang melewati Indonesia adalah Monsun Asia dan Australia yang bercirikan hembusan angin dari arah tertentu pada periode tertentu, sedangkan pada periode berikutnya angin tersebut berbalik arah, hal ini terjadi karena pergeseran matahari ( Bayong, 1994 ). Sedangkan untuk mempermudah dalam membuat prakiraan yang langsung berhubungan dengan pertanian, maka dalam satu daerah administratif dibagi dalam beberapa daerah tipe agro-klimat. Menurut Thornthwaite bahwa tujuan pembagian daerah Agro-klimat untuk menetapkan secara ringkas jenis iklim yang ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif ( berpengaruh ), terutama air dan panas ( Bayong, et,al. 1999 ). Selanjutnya pada daerah tropis pembagian wilayah agro¬klimat didasarkan pada curah hujan, karena pada daerah tropis musim tanam sangat ditentukan oleh banyaknya curah hujan, hal ini untuk daerah non irigasi ( Sulistya, et, al. 2000 ). Dikarenakan hujan merupakan parameter yang sangat berpengaruh untuk menentukan pembagian daerah agro-klimat, maka menurut Oldeman wilayah agro-klimat dibedakan dalam 5 ( lima ) wilayah, masing ¬masing adalah :

a. Untuk bulan basah berurutan ( agro-klimat utama )

Wilayah A : daerah yang mempunyai bulan basah > 9 bulan berturut-turut.
Wilayah B : daerah yang mempunyai bulan basah 7 – 9 bulan berturut – turut.
Wilayah C : daerah yang mempunyai bulan basah 5 – 6 bulan berturut – turut.
Wilayah D : daerah yang mempunyai bulan basah 3 – 4 bulan berturut – turut.
Wilayah E: daerah yang mempunyai bulan basah < 3 bulan berturut – turut.

b. Untuk bulan kering berturutan ( stratifikasi kedua )

1. daerah yang mempunyai bulan kering < 2 bulan berturut-turut.
2. daerah yang mempunyai bulan kering 2 – 4 bulan berturut-turut.
3. daerah yang mempunyai bulan kering 5 – 6 bulan berturut-turut.
4. daerah yang mempunyai bulan kering > 6 bulan berturut-turut.

c. Kriteria bulan basah dan bulan kering.

Dikatakan bulan basah jika curah hujan bulanan > 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan < 100 mm, sedangkan curah hujan antara 100 – 200 mm merupakan musim tanam.

Menurut Oldeman hubungan antara tipe daerah Agro-klimat dengan pertanian, sebagai berikut :

A : Sesuai untuk padi terus menerus tetapi produksinya kurang karena pada umumnya intensitas radiasi matahari rendah sepanjang tahun.
B1: Sesuai untuk padi terus menerus, perlu direncanakan mulai tanamnya. Produksi tanaman akan tinggi bila panen jatuh pada musim kering.
C1 :Satu kali tanam padi dan palawija dapat ditanam dua kali dalam setahun.
C2 : Hanya dapat ditanam padi satu kali,
palawija yang kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering.
D1 : Dapat ditanam padi dengan varietas genjah ( umur pendek ), produksi tinggi karena intensitas radiasi matahari tinggi, waktu untuk menanam palawija cukup.
D2 : Hanya mungkin satu kali ditanam padi dan satu kali ditanam palawija, tergantung pada adanya persediaan air irigasi.
E : Daerah ini pada umumnya selalu kering, mungkin hanya dapat satu kali ditanam palawija dan tergantung adanya hujan.

Setelah dianalisis dari data curah hujan bulanan daerah Kemiling, Sumur Putri, Sumur batu, Sukarame, Pahoman yang merupakan milik PU. Pengairan dan Bergen (BMG) selama 20 tahun (1987-2005), maka dapat diambil kesimpulan untuk daerah Kota Bandar Lampung terbagi menjadi 4 daerah tipe agro-klimat, sebagai berikut :
1. Tipe C1
Daerah Rajabasa, Kedaton dan sebagian Way Halim.

2. Tipe D2
Daerah Tanjung Karang Pusat, Kemiling dan Tanjung Karang Barat

3. Tipe D3
Sebagian Way Halim, Sukarame dan Tanjung Karang Timur dan Panjang.

4. Tipe E
Daerah Sumur Putri, Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Selatan.

III. Normal Musim

Untuk membedakan antara musim kemarau dan musim hujan, secara kuantitatif Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMG ) menggunakan kriteria, sebagai berikut :
a. Permulaan musim hujan ditandai dengan jumlah curah hujan selama satu dasarian ( sepuluh hari ) sama atau lebih dari 50 mm dan diikuti oleh dasarian berikutnya dengan curah hujan yang sama atau lebih dari 50 mm.
b. Permulaan musim kemarau ditandai dengan jumlah curah hujan selama satu dasarian ( sepuluh hari ) kurang dari 50 mm dan diikuti oleh dasarian berikutnya dengan jumlah curah hujan yang kurang dari 50 mm, sehingga musim kemarau masih dimungkinkan adanya curah hujan.

c. Dikatakan musim kemarau basah apabila curah hujan berkisar antara 30 – 50 mm per dasarian atau berkisar antara 100 – 150 mm per bulan.

Berdasarkan daerah agro-klimat, kriteria musim, analisa time series data, maka dapat disimpulkan bahwa permulaan musim dan intensitasnya untuk daerah Bandar Lampung sebagai berikut:

12

22

31

One Response to “PEMBAGIAN DAERAH TIPE IKLIM KOTA BANDAR LAMPUNG”

  1. salam kenal ardy. trims buat infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: