MEMAHAMI IKLIM DALAM SKALA RUANG DAN WAKTU YANG BERBEDA

Tumiar Katarina Manik

Staf Pengajar FAPERTA UNILA

Abstraks

Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya informasi iklim semakin meningkat. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan-persoalan yang diduga berkait dengan kondisi cuaca/iklim. Dalam kasus-kasus yang darurat masyarakat seringkali berharap tersedianya informasi/analisa yang cepat dan akurat dan merasa kecewa waktu mendapatkan prakiraan atau analisa yanmg dibuat oleh para ahli tidak tepat, Karena sikap ini, masyarakat lalu menganggap remeh hasil prediksi/analisa cuaca/iklim bahkan seringkali juga menganggap remeh peringatan dini yang diberikan. Satu hal penting yang belum banyak disadari adalah adanya faktor skala (baik skala luas maupun waktu) dari suatu unsur iklim. Sebuah informasi atau analisa harus diperhatikan berlaku untuk skala ruang dan waktu yang mana, juga harus dipikirkan analisa pada skala mana yang diperlukan untuk suatu masalah. Tulisan ini dimaksudkan untuk mamberikan informasi bagaimana memahami iklim dalam skala waktu dan ruang yang berbeda sehingga penggunaan informasi iklim lebih tepat, diharapkan metode analisa data juga akan disesuaikan dengan sakla ruang dan waktu yang diperlukan.

1. Pendahuluan

Secara umum iklim dapat dikategorikan sebagi iklim global, regional, lokal dan mikro, Kategori ini juga berkaitan dengan jangka waktu: apakah kita bicara iklim dalan jangka waktu dekade, tahun, musim, bulan, hari atau jam. Semua skala ini penting bergantung pada tujuan kita dalam menganalisa data iklim. Skala ini juga menentukan metode apa yang akan digunakan dalam menganalisa data.

Iklim sebagai unsur alam memang bukan sesuatu yang mudah diduga atau dikontrol. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keagamannya, karena itu sulit diharapkan bahwa data-data iklim disuatu tempat dapat digunakan dengan akurat untuk tempat yang berbeda. Usaha para ahli untuk membuat klasifikasi iklim ditujukan untuk menolong kita memiliki gambaran rata-rata iklim disuatu wilayah, tetapi jangan secara oto,atis diartikan bahwa wilyah dengan klasifikasi iklim dapat menjadi dasar acuan yang menolong para pengambil keputusan untuk suatu rencana, tetapi mungkin tidak terlalu akurat bagi petani/pengusaha ketika mereka akan merealisasikan rencana tersebut secara lokal.

Tulisan ini akan mambahas faktor skala dalam pengamtan/analisa cuac/iklim. Diharapkan pengetahuan ini akan menolong kita memahami arti suatu analisa dan mendorong kita untuk melakukan pengamatan mandiri sehingga melengkapi keakuratan pengamatan/analisa resmi dari lembaga yang berwenang dan menjadi lebih tepat pada saat penerapannya dalam wilayah masing-masing. Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa topik bahasan yaitu : Faktor-faktor penentu iklim dalam berbagai skala, metode analisa data iklim sesuai dengan skalanya, dan satu contoh dari karagaman iklim dlam skala lokal.

  1. Faktor Penentu iklim

Faktor penentu iklimsecara global

Faktor utama penentu iklim secara global adalah posisi bumi terhadap matahari. Faktor ini jelas mempengaruhi suhu disuatu wilayah. Dengan demikian, pembagian iklim secara global yang kita kenal sebagai daerah tropis, sub-tropis dan kutub lebih berdasarkan pada panas dinginnya suatu wilayah. Posisi bumi rehadap matahari juga mementukan panjang hari sutu wilayah. Tropis yang berada ditengah-tengah bola dunia, selau berada dalam posisi lurus dan tetap terhadap matahari, itu sebabnya daerah ini selau bersuhu tinggi dengan panjang siang dan malam yang berimbang; 12 jam terang, 12 jam gelap. Makin jauh suatu wilayah dari garis tengah. (eguator) makin besar sudut kemiringannya terhadap garis normal, sehingga jatuhnya sinar matahari tidak pernah tegak lurus. Posisi bumi yang miring  23.5 °  mengakibatkan wilayah lintang tinggi pada suatu waktu akan relatif lebih dekat ke matahari, pada waktu yang lain lebih jauh. Kondisi ini menciptakan perbedaan musim; panas dan denign, dan juga perbedaan panjang hari.

Oleh karena daerah tropis tidak terlalu beragam secara suhu (tinggi sepanjang tahun), kita tidak memiliki musim panas dan dingin. Sebaliknya karena berada di daerah panas yang berarti bertekanan udara rendah, wilayah tropis menjadi tempat pertemuan masa udara. Daerah dimana masa udara bertemu adalah daerah yang berpotensi memiliki curah hujan beragam, itulah sebabnya curah hujan menjadi unsur penting yang diperhatikan di wilayah tropis sehingga wilayah tropis secara umum dibagi atas tropika basah dan kering. Karena kita berada di daerah tropis maka bahasan selanjutnya lebih terpusat pada wilyah ini saja.

2.2 Faktor penentu iklim regional : tropis.

Seperti diatas, unsur iklim penentu di wilayah tropis bukan suhu tetapi curah hujan.  Curah hujan terjadi tentu saja pada wilayah berawan.  Awan banyak terbentuk di daerah yang merupakan pertemuan masa udara, sehingga terjadi pengangkatan udara; jika udara yang terangkat mengandung uap air maka awan akan terbentuk. Jelaslah bahwa arah angin dan kandungan uap airnya merupakan faktor penting untuk wilayah tropis, wilayah tropis tetap mendapat pengaruh dari perubahan musim di lintang yang lebioh tinggi.  Perubahan musim di wilayah tersebut yang berkaitan dengan perubahan suhu udara menentukan posisi

wilayah bertekanan rendah dan tinggi yang akhirnya menentukan perubahan arus angin dan dimana wilayah curah hujan tertinggi tergantung dimanan terjadi pertemuan arus udara.

Pada bulan-bulan sekitar Oktober sampai Februari wilayah bumi bagian utara mengalami musim dingin yang secara umum berarti menjadi daerah tekanan tingi (sumber masa udara) sementara wilayah selatan bermusim panas, berarti bertekanan rendah dan menjadi daerah tujuan angin. Dari wilayah utara angin melewati daratan benua yang luas (Benua Asia) sehingga angin ini tidak banyak mambawa uap air, sehingga daerah-daerah yang dilewatinya seperti India memiliki curah hujan yang rendah pada bulan-bulan seperti ini. Dengan demikian meskipun India tergolong negara tropis tetapi kondisi iklimnya berbeda dengan Indonesia. Daerah tropis di bagian barart seperti Amerika Latin mengalami hal yang mirip tetapi dengan kondisi geografis yang berbeda, maka iklim yang dihasilkan pasti berbeda juga.

2.3 Iklim regional : Tropis bsah-Indonesia

Sebelum memasuki Indonesia angin dari balahan bumi utara melewati Samudra Pasifik dan mambawa uap air yang jatuh sebagai hujan terutama di wilayah utara Indonesia, menandai musim hujan di Indonesia. Karena berasal dari arah timur laut Indonesia kita mengenalnya sebagai passat timur laut, sementara wilayah Indioa lebih mengenalnya sebagai monsoon dingin.

Pada bulan-bulan sekitar Maret – Agustus, wilayah bumi bagian utara berganti mengalami musim panas dan menjadi daerah tekanan rendah (daerah tujuan angin).  Sebaliknya wilayah selatan bermusim dingin yang berari bertekanan tinggi dan merupakan sumber angin. Angin ini juga melewati beberpa perairan yang meskipun tidak selelbab angin dari wilayah utar- jatuh sebagi hujan di wilayah Indonesia Timur bagian selatan, kita mengenalnya sebagi passat tenggara; pada saat ini sebagian besar Indonesia mengalami curah hujan yang berkurang.

Dalam skala regional kita mengatakan pada saat belahan bumi utara musim dingin, Indonesia mengalami musim hujan dan sebaliknya pada saat belahan bumi selatan musim dingin Indonesia mengalami musim kemarau. Meskipun secara umum hal ini benar tetapi tidak berarti curah hujan turun secara beragam.  Pada saat angin datang dari arah timur laut yang membawa aup air, wilayah utara Indonesia lebih dulu mendapat hujan dan semakin ke selatan semakin berkurang.  Begitu juga kalau dikatakan pada saat Indonesia musim kering beberapa wilayah di Indonesia Timur masih mendapatkan hujan.

Selain dipengaruhi angin yang berganti menurut musim tersebut, posisi dimana kedua arus itu bertemu juga mempengaruhi jumlah hujan yang turun. Seperti dikatakan diatas, secara umum daerah tropis adalah daerah bertekanan rendah dan menjadi tujuan angin. Baik dari utara maupun selatan angin bertemu di tropis di sepanjang wilayah yang dikenal sebagai Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ).

Sekalipun dua belahan dunia secara bergantian mengalami nusin panas, daerah tropis umunya tetap memeliki suhu udara lebih tinggi, sehingga secara tetap merupakan daerah bertekanan rendah. Pada saat belahan bumi utara mengalami musim panas, aliran udara dari bagian utara menuju equator lebih lemah dari pada angin dari bagian selatan. Karena dominasi angin selatanmaka garis pertemuan antara aliran udara utara-selatan berada lebih ke utara. Sebaliknya pada pergantian musim berikutnya garis pertemuan akan lebih ke selatan.  Seberapa jauh pergeseran garis pertemuan ini – jauh ke utara atau ke selatan – akan menentukan juga diwilayah mana terjadi curah hujan tertinggi.

Selain suhu udara, kondisi suhu air laut yang akan menentukan arah arus laut juga akan menentukan arah angin yang pada akhirnya kembali akan menentukan dimana dan seberapa besar curah hujan akan turun.

Dari penjelasan diatas, dapat mulai dipahami bahwa semakin kecil skala (ruang lingkup bahasan) iklim bukan berarti faktor yang berpengaruh semakin sedikit dan analisanya semakin sederhana, sebaliknya semakin banyak faktor yang berpengaruh dan semakin komplek interaksi yang terjadi sehingga analisa dan prediksi semakin sulit.

Dalam pengertian umum hal-hal dalam skala besar merupakan penjumlahan dari skala yang lebih kecil dengan kata lain penggabungan skala kecil akan menjadi skala besar, tetapi bukan begitu dalam iklim.  Dalam konteks pemahaman iklim, faktor-faktor dalam skala besar seperti diatas akan mengarahkan kondisi iklim dalam skala lebih kecil.  Faktor penentu iklim dalam skala besar akan dirasakan juga dalam skala yang lebih kecil tetapi dalam skala yang lebih kecil terdapat faktor-faktor tambahan lain. Dengan demikian iklim harus dipahami dalam skala besar lebih dahulu, tetapi harus diingat bahwa untuk menerapkan informasi tersebut dalam skala kecil diperlukan pengetahuan secara lokal.

Mengingat skala ruang yang besar (global regional) maka metode pengamatan yang dilakukan juga metode yang dapat melakukan pengamatan serentak dalam jangkauan ruang yang besar.  Selain menghimpun data dari stasiun-stasiun pengamat cuaca/iklim yang bergabung dalam suatu jaringan stasiun sinoptik, penggunaan satelit merupakan metode mutakhir yang digunakan.  Satelit bukan secara langsung mengamati berbagai unsur iklim tetapi menangkap radiasi baik yang dipancarkan bumi, dengan demikian diperlukan keahlian untuk menginterpretasikan gambar dan warna yang direkam satelit.

Faktor-faktor penentu iklim dalam skala global bersifat tetap misalnya : sudut kemiringan bumi terhadap matahari, sehingga daerah tropis tetap merupakan daerah yang mendapat matahari tegak lurus sepanjang tahun sehingga suhu tetap tinggi

dan daerah tropis tetap merupakan daerah bertekanan rendah dan menjadi tujuan angin. Faktor penentu iklim secara regional bersifat tetap sampai jangka waktu tertentu misanya dalam skala musim, kemudian berubah/berganti pada nusim berikutnya. Hubungan skala ruang dan waktu akan menentukan analisa dan informasi apa yang kita bisa peroleh.

Contoh informasi secara global adalah isu penipisan lapisan ozon, atau isu “global change”.  Kedua isu ini merupakan kesimpulan dari pengamatan jankga panjang, puluhan bahkan ratusan tahun dari pengamatan di banyak tempat dan dari analisa satelit.  Kita tidak akan mendapatkan bukti penipisan lapisan ozon atau “global change” dari pengamatan di satu stasiun alam jangka waktu pendek misalnya setahun.  Hal ini juga berkaitan dengan penerapannya.  Kedua isu diatas merupakan dasar pembicaraan iklim tingkat dunia, seperti dalam konvensi Geneva yang mengatur keluaran gas emisi dari berbagai negara, mengatur bagaimanan kerjasama antar negara khususnya antara negara maju dan berkembang dalam mnejaga iklim dunia.  Meskipun kedua isu itu penting, dan secara langsung/tidak langsung akan berpengaruh terhadap rakyat di berbagai negara termasuk Indonesia, informasi atau data isu tersebut tidak begitu berarti waktu kita membicarakan kapan awal musim hujan di Lampung.

Contoh informasi iklim secara regional adalah fenomena El-Nino/ La-Nina.  Memprediksi kedua gejala alam ini memerlukan informasi perubahan suhu laut dan arah angin di wilayah Samudra Pasifik (Tahiti-Darwin).  Catatan perubahan suhu tersebut tidak cukup diamati dalam satu dua hari tetapi paling sedikit setahun, untuk dapat melihat perubahan yang terjadi.

Karena Indonesia berada di wilayah yang dipengaruhi El-Nino/La-Nina, dan fenomena ini berkaitan dengan perubahan curah hujan yang penting untuk wilayah tropis, maka kita perlu mengamati fenomena ini dengan lebih cermat dibandingkan dengan isu penipisan lapisan ozon/’global change’.

Tingkat resiko kegagalan dan kelengkapan data dalam menganalisa/memprediksi juga berbeda dalam skala yang berbeda.  Sekali meskipun isu penipisan ozon penting, tetapi kehilangan data pengamatan satu hari atau mungkin satu bulan tidak akan berpengaruh banyak dalam tingkat global, karens data yang dimiliki adalah data puluhan bahkan ratusan tahun.  Kondisi rata-rata tahunan sudah cukup akurat untuk menjadi dasar analisa global.  Disamping itu andaikan prediksi tentang kenaikan suhu secara global akibat penipisan ozon tidak setepat analisa para ahli tidak akan menimbulkan akibat itu juga, tetapi dalam jangka panjang.

Dalam skala regional, resiko kegagalan prediksi dan kebutuhan akan data yang akurat semakin tinggi.  Pengamatan suhu permukaan laut/udara yang diperlukan untuk analisa El-Nino/La-Nina harus dilakukan setiap hari untuk mendapatkan rata-rata bulanan, kehilangan sekitar 30 % data sudah akan menggangu analisa.  Prediksi yang didapat dari analisapun diharapkan memiliki ketepatan tinggi; banyak perencanaan harus diubah jika terjadi perubahan waktu dan intensitas curah hujan karena kekeringan panjang dan banjir adalah masalah serius di negara-negara tropis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: