PERANAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM DALAM ANTISIPASI DAMPAK KONDISI LINGKUNGAN EKSTRIM

1. PENDAHULUAN

Cuaca dan iklim merupakan suatu kondisi udara yang terjadi di permukaan bumi akibat adanya  penyebaran pemerataan energi yang berasal dari matahari yang diterima oleh permukaan bumi.  Sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, peristiwa alam ini hingga kini belum banyak terkuak dengan rinci.

Sebagai anugerah dan peristiwa alam, manusia hanya dapat mengikuti perkembangan dengan cara melakukan pengamtan secara terus menerus dengan teratur.  Tanpa adanya usaha untuk melakukan pengamatan dan pemantauan baik manual dan visual dengan peralatan inderanya (Remote sensing), kita akan mengalami kerugian baik moril dan materiil.  Apabila dengan adanya pertambahan penduduk yang tentunya mengeksploitasi bumi secara besar-besaran, sehingga kondisi ini telah memberi dampak munculnya beberapa isu mulai dari isu perubahan iklim, pemanasan global dan munculnya daerah padang pasir baru.

Munculnya isu tersebut yang diikuti dengan program pembangunan berkelanjutan merupakan  suatu rentetan usaha manusia dalam antisipasi kondisi alam ini untuk tidak merugikan kehidupan manusia yang tinggal dipermukaan bumi.  Seiring dengan munculnya isu ini dan didukung dengan data hasil pemantauan menunjukan hal yang sama kiranya masalah cuaca dan iklim merupakan hal yang perlu diperhatikan khususnya untuk mendukung kehidupan manusia kini dan masa mendatang.

Terlepas dari munculnya isu tersebut dan dengan kaitan untuk melakukan pengelolaan produksi pertanian yang sangat tergantung pada masalah kondisi cuaca dan iklim, pengelolaan cuaca dan iklim untuk menghasilkan produksi pertanian mutlak diperlukan lagi. Apabila dengan adanya

Variasi cuaca dan iklim sejak tahun 1991 di Indonesia yang telah terganggu usaha swasembada pangan nasional, kiranya pengelolaan maslah cuaca dan iklim sangatdiperlukan dalam kaitan dengan pengelolaan produksi pertanian.

Di Indonesia dengan adanya instansi penyelanggara pengelolaan iklim dan cuaca oleh Badan Meteorologi dan Geofisika, maka usaha pemerintah melaksanakan pengelolaan cuaca dan iklim untuk kepentingan pembangunan telah diupayakan. Sebagai hasil dalam pengelolaan cuac dan iklim oleh Badan Meteorologi dan Geofisika adalah beberapa produk antara lain prakiraan cuaca harian, evaluasi dan prakiraan sifat hujan dan prakiraan awal musim dan sifat sifat hujan dan prakiraan awal musim dan sifat curah hujan pada 2 musim di Indonesia. Produk atau hasil tersebut dari pengelolaan cuaca dan iklim di Indonesia diperoleh melalui pengamatan data di lapangan / di stasiun, analisis dan pengelolaan data dan penyusunan informasi diperoleh melalui usaha yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga hasil tersebut yang merupakan usaha bangsa Indonesia dalam kaitan pengelolaan cuaca untuk segala kebutuhan yang tergantung pada kondisi cuaca dan iklim.

Maksud penulisan dan penjelasa produk dari BMKG adalah untuk melakukan informasi sedini mungkin bagi masyarakat pengguna jasa agar dapat melakukan perencanaan dengan adanya kegiatan kondisi cuaca / iklim masa datang. Di lain pihak BMKG, tidak menggunakan istilah sirklus kejadian suatu kondisi iklim, dimana dengan cara menggunakan statistik ini kurang tepat digunakan sebagai cara prakiraan ulang kejadian dan kondisi perulangannya belum tentu benar. Catatan evaluasi musim kemarau dari tahun ke tahun sejak tahun 1960 menunjukan bahwa perkembangan kondisi musim kemarau meskipun sifat hujannya di bawah normal, tetapi secara rinci berbeda. Dengan demikian istilah ini disarankan agar dihindari dan contoh isu kemarau kering tahun 1992 setelah kemarau kering tahun 1991 ( pendapat ini berdasarkan pada perhitungan siklus 5 tahunan ) yang ternyata salah, contoh kejadian yang ada dan sempat memberikan keresahan di kalangan masyarakat tersebut perlu dihindari khususnya dalam penerapan metode statistik ( siklus kejadian perulangan ).

Sebagai suatu cara jalan keluar adalah memperhatikan informasi cuaca / iklim yang dikeluarkan oleh BMKG, karena BMKG dalam melakukan penyusunan informasi tersebut telah melibatkan berbagai metode dengan melihat perkembangan kondisi lingkungan yang terjadi. Oleh sebab itu untuk memperjelas segala sesuatu produk yang berkaitan dengan kegiatan pertanian terutama masalah musim, maka bahasan berikut akan membahas masalah cuaca dan iklim di Indonesia terutama yang menyangkut dengan produk jasa saat ini yang dimanfaatkan oleh kalangan pertanian. Dengan penjelasan ini diharapkan pengembangan lebih lanjut informasi untuk mendukung pertanian akan dapat dilakukan lebih lanjut.

2.   ARTI DAN MANFAAT KLIMATOLOGI

Sebelum menjelaskan arti dan manfaat klimatologi akan lebih baik apabila dijelaskan terlebih dahulu tentang cuaca dan iklim. Cuaca adalah kondisi fisis udara sesaat pada suatu tempat di muka bumi, sedangkan iklim adalah kondisi fisis udara rata-rata pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu (umumnya kurun waktu standar yang ditetapkan minimal 30 tahun).

Dari kedua definisi ini jelas antara cuaca dan iklim, dimana cuaca adalah bagian kondisi fisis udara sesaat tetapi iklim adalah rata-rata kondisi fisis udara dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Sedangkan ilmu yang berkaitan dengan iklim adalah klimatologi, jadi klimatologi sebenarnya adalah ilmu yang mempelajari kondisi cuaca rata-rata dalam suatu kurun waktu tertentu. Oleh sebab itu dalam kaitannya dengan iklim terdapat istilah pada suatu tempat beriklim basah, sedang, dan kering (melihat karakteristik tingkat kebasahannya yang berkaitan dengan kondisi hujan yang akan turun) iklim tropik, subtropik,dan kutub ( melihat posisi geografis ) dan masih banyak lagi hal-hal dalam kaitanya dengan kondisi fisis lainnya.

Klimatologi adalah alat untuk mempelajari kondisi fisis udara pada suatu tempat misalnya curah hujan, suhu udara, angin yang bertiup, lama penyuryaan, tekanan udara, penguapan udara dan kelengasan / kelembaban udara. Dalam mampelajari kondisi iklim ini umumnya berkaitan dengan pengumpulan data pengamatan dari stasiun cuaca yang dikumpulkan mula-mula tiap-tiap jam, tiap-tiap hari, tiap-tiap bulan hingga tiap-tiap tahun. Dengan mempelajari kondisi iklim dari berbagai unsur cuaca tersebut, maka kondisi karakteristik fisi udara pada suatu tempat akan dapat diketahui.

Seperti diketahui dalam kaitannya dengan produksi pertanian umumnya sangat menentukan terutama hubungan antara produksi hasil pertanian dengan kondisi iklim yang bakal terjadi maupun yang telah berlangsung sebelumnya. Sehingga arti dari klimatologi dalam kaitannya dengan produksi hasil pertanian adalah sebagai alat atau tolok ukur produksi pertanian yang akan diperoleh dengan mengabaikan unsur buatan manusia atau munculnya hama, dengan kata lain klimatologi memberikan arti dalam perhitungan hasil produksi dengan kondisi rata-rata udara.

Misalnya kondisi tempat beriklim kering, kondisi ini akan berkaitan dengan kurang cocoknya komoditi pertanian tanaman pangan. Contoh ini cocok digunakan di Indonesia yang beriklim sedang hingga basah yang kondisi unsur hujan dan kelengasan udara sangat dominan bila dibandingkan dengan unsur lain (tekana, suhu, dan lama penyurnyaan). Unsur lain umumnya akan berguna apabila hal ini digunakan untuk kepentingan lainnya.

Manfaat dari klimatologi adalah untuk digunakan dalam perhitungan kondisi udara dalam suatu kurun waktu tertentu atau digunakan sebagai tolok ukur untuk menentukan kondisi udara dalam suatu kurun waktu mendatang dalam perlode lebih dati 1. bulan (bulanan, musiman dan tahunan) apakah akan berlebihan (diatas normal) dari harga rata-rata yang baku. Dengan melihat kondisi baik yang telah lalu, sedang berlangsungdan akan berlangsung, maka perhitungan hasil produksi kotor dati faktor alam dapat dihitung ..

Oleh sebab itu arti dan manfaat klimatologi dalam kaitan denngan produksi pertanian adalah untuk menghitung hasil produksi pertanian dari sisi kondisi alam baik yang telah berlangsung, sedang berlangsung dan akan berlangsung. Khusus untuk waktu mendatang hal ini berhubungan prakiraan produksi akan dapat ditentukan sebelumnya agar tidak terjadi kemelesetan yang sangat jauh atas kegiatan pertanian. Dilain pihak klimatologi akan dapat pula digunakan dalam penyebaran bahan pangan terutama dalam kondisi rawan pangan ataupun operasi pasar.

3. ARTI DAN KEGUNAAN RAKIRAAN CUACA

Sebagai telah didefinisikan bahwa cuaca merupakan kondisi udara sesaat yang umumnya paling lama adalah satu hari, maka prakiraan cuaea adalah suatu informasi kondisi udara yang akan terjadi untuk waktu mendatang (hari mendatang dan paling lama 5 hari untuk daerah lintang sedang dan 2 hari untuk daerah tropis). Sebagai bagian informasi kondisi udara dalam kurun waktu yang pendek maka arti prakiraan cuaca sebagai bahan untuk melihat kondisi udara dalam 2 harl mendatang dan yang paling penting kondisi hari pertamanya, sedangkan hari kedua umumnya ketepatan prakiraan akan semakin rendah). Faktor penentu kesalahan terletak pada model penyususnan prakiraan cuaca itu sendiri, masalah teknis.

Kegunaan prakiraan cuaca atau manfaat prakiraan cuaea umumnya berkaitan dengan segala kegiatan operasional seperti pengangkutan barang dalam suatu jarak tempuh harian, pemupukan tanaman atau pemetikan hasil atau hasil lain dengan segala kegiatan manusia dalam jangka waktu yang sangat pendek Atau antisipasi akan munculnya kondisi cuaea jangka pendek dati hasil kegiatan angin badai puting beliung, hujan badai (hujan dengan intensitas tinggi), badai guntur, suhu tinggi yang kesemuanya akan berdampak terhadap tanah longsor, banjir dan kebakaran.

Sehingga arti dan kegunaan prakiraan cuaca umumnya akan memberikan informasi kondisi udara untuk hari mendatang dan apabila kita sudah mengetahui informasi tersebut akan lebih baik dipersiapkan antisipasi untuk tidak menimbulkan kerugian moril maupun materil yang lebih tinggi. Khusus untuk operasional pertanian umumnya akan sangat baik untuk mendukung kegiatan penanaman tanaman baru, pemupukan, hasil panen, pengangkutan barang dan bongkar muat barang.

4. EVALUASI MUSlM

Sebelum dijelaskan evaluasi musim akan dijelaskan lebih dahulu tentang pengertian musim, musim atau bagian data iklim adalah kondisi rata-rata udara yang untuk kegiatan pertanian di Indonesia dihubungkan dengan kehadiran hujan atau pola curah hujannya tiap dasarian, bulanan hingga musiman.

Dimana kondisi musim di Indonesia terdapat 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau yang masing-masing kriterla suatu tempat dikatakan mempunyai 2 musim apabila curah hujan dalam suatu kurun waktu lebih dari 1 bulan mengalami curah hujan diatas 150 milimeter untuk kondisi musim hujan dan kurang darl 100 milimeter atau bahkan 0 milimeter untuk kondisi musim kemarau.

Sedangkan untuk menentukan awal musim hujan apabila pada suatu tempat dengan pola hujan tahunan seperti yang dijelaskan tersebut diatas dengan cara melihat jumlah curah hujan, apabila dalam 2 dasarian berturut-turut curah hujan yang terjadi terukur untuk tiap dasarian lebih dari 50 milimeter maka kondisi musim hujan telah mulai pada dasarian pertama ketika curah hujan terukur pertama kali, demikian sebailknya apabila da1am 2 dasarian berurutan curah hujannya kurang dari 50 milimeter kondisi awal musim kemarau telah berlangsung pada saat dasarian pertama terukur jumlah curah hujannya kurang dari 50 milimeter.

Berdasarkan kondisi kriteria tersebut, aka evaluasi awal musim pada suatu daerah prakiraan musim akan dapat dihitung atau dilakukan. Dengan eatatan bahwa kondisi rata­rata awal musim dari daerah yang bersangkutan perlu dihitung, demikian juga kondisi curah hujan untuk tiap dasarian, bulanan hingga musiman perlu dihitung. Hal ini dimaksudkan untuk diperbandingkan atau dievaluasi kondisi curah hujan yang berlangsung apakah kondisinya kurang dari jumlah normalnya, sama dan lebih tinggi dari jumlah normal tersebut.

Hasil evaluasi umumnya akan berkisar lebih awal, sama dan lebih lambat untuk kondisi awal musim dengan kondisi hujannya dalam satu musim bawah normal, normal atau diatas normal.

Kegunaan evaluasi musim adalah untuk mengetahui kondisi cuaca / iklim yang telah atau sedang berlangsung yang akan menentukan hasil produksi pertanian yang sedang dilakukan serta mengantisipasi apabila muncul kondisi yang berlangsung apabila meleset dari prakiraan sebelumnya, sehingga upaya-upaya meminimalkan kerugian akan dapat dilakukan.

Selain evaluasi yang umumnya berjangka waktu I bulan hingga I musim, evaluasi kondisi musim sebelumnya perlu dilakukan untuk

membantu dalam perhitungan kondisi musim baik yang sedang berlangsung maupun akan berlangsung serta akan dapat menjawab pertanyaan apabila muncul suatu gangguan pada hasil produksi pertanian. Hal ini diketengahkan sebagai antisipasi bahwa musim yang sedang dan akan berlangsung bervariasi dan tidak selamanya tetap. Sehingga data base ini sangat berguna baik bagi evaluasi yang sedang berlangsung dan perencanaan untuk waktu mendatang, dengan kata lain evaluasi musin yang sangat luas dengan melibatkan data-data untuk kurun waktu beberapa tahun ke belekang masih akan berguna untuk waktu mendatang.

5) CURAH HUJAN DAN KLASIFIKASI SIFAT HUJAN

Curah hujan sebagai yang tercurah dari langit dan diukur oleh penakar hujan dengan luasan diameter tertentu merupakan kondisi air yang tercurah dalam suatu luasan tertentu. Dan untuk perhitungan kasar volume air yang jatuh dari langit dapar dihitung dengan mempertimbangkan luasan suatu daerah tertentu dikalikan dengan tinggi curah hujan yang terukur yang akan menghasilkan satuan volume air. Karena wilayah Indoneisa merupakan daerah tropis denfgan intensitas hujan berbeda dari satu tempat ke tempat lain meskipun jaraknya sangat dekat (satuan kilometer), maka perhitungan besarnya intensitas hujan akan ditentukan oleh banyaknya penakar hujan. Dengan perhitungan secara hidrologis yang dikenal dengan planimetri akan dapat dihitung intensitas rata-rata dalam suatu kawasan. Hitungan ini umumnya digunakan untuk menghitung volume air hujan yang tercurah dari langit untuk kepentingan pembentukan embung dam atau waduk.

Untuk kepentingan klasifikasi curah hujan, maka adanya hitungan rata-rata jumlah curah hujan yang terkumpul mulai dari harian, dasarian, bulanan, musiman dan tahunan Selama kurun waktu yang sangat panjang (lebih dari 30 tahun) akan digunakan dalam evaluasi atau perbandingan curah hujan yang terukur dlam kunm waktu seperti tersebut diatas yang umumnya dilakukan untuk kurun waktu dasarian hingga tahunan. Berdasarkan evaluasi atau perbandingan dari data curah hujan dalam k.urun waktu tersebut dengan data rata-rata curah hujan, maka akan dikenal tiga klasifikasi curah hujan antara lain :

a)       Klasifikasi sifat hujan di bawah normal, apabila curah hujan dalam kuron waktu tertentu terukur jumlah hujan sebesar kurang dati 85 % dari jumlah normal / rata­rata.

b)       Klasifikasi sifat hujan normal, apabila jumlah hujan dalam kurun waktu tertentu terukur antara 86 % hingga 114 % dari jumlah normal hujannya.

c)       Klasifikasi hujan di atas normal, apabila jumlah hujan dalam kurun waktu tertentu terukur lebih dari 115 % dari jumlah normal hujannya.

Dari ke tiga klasifikasi curah hujan ini, maka klasifikasi akan dapat dilakukan sekaligus sebagai usaha untuk melihat evaluasi baik kondisi daerah prakiraan musim dan non daerah prakiraan musim.

Dengan adanya klasifikasi sifat hujan ini akan dapat digunakan dalam perhitungan kondisi curah hujan di seluruh kawasan Indonesia.

6. TINGKAT KETERSEDIAAN AIR

Tingkat ketersediaan air merupakan usaha dari Badan Meteorologi dan Geofisika untuk digunakan dalam evaluasi melihat ketersediaan air bagi tanaman. Tingkat ketersediaan dihitung untuk kedalaman tanah sedalam 1 mater dan umumnya dikaitkan dengan produksi pertanian tanaman pangan. Dalam perhitungannya secara air merupakan suatu perhitungan antara curah hujan yang tercurah dikurangi dengan estimasi besarnya penguapan yang berlangsung dari suatu tempat pengamatan cuaca yang menghasilkan 3 klasifikasi tingkat ketersediaan air.

Adapun tingkat ketersediaan air tersebut umumnya berkaitan dengan klasifikasi sifat hujan, apabila daerah dengan klasifikasi kurang umumnya klasifikasi curah hujan bulanan di bawah normal, sedang apabila klasifikasi curah hujan berkaitam dengan kondisi hujan normal dan klasifikasi cukup apabila klasifikasi curah hujan diatas normal.

Berdasarkan klasifikasi tersebut, maka kegunaan informasi ini berguna bagi evaluasi kondisi lingkungan apakah tanaman pangan akan mengalami penyusutan bila ketersediaan kurang dan normal apabila ketersediaan air sedang dan cukupan normal apabila ketersediaan air sedang dan cukup perIu diantisipasi adanya banjir yang mungkin berkaitan dengan hujan bulanan di atas normal. Jadi manfaat dari informasi ini untuk melihat pertumbuhan tanaman pangan pada suatu tempat.

7.PENUTUP

Bahasan ini digunakan untuk menjelaskan hal­-hal yang mungkin perlu untuk diketahui antara lain :

Prakiraan cuaca dan iklim dihitung dengan memperhatikan kondisi peredaran global, regional dan lokal ynag umumnya dilakukan dengan hitungan statistik dan ditambah dengan memperhatikan kondisi fisis dan dinamis udara oleh sebab itu apabila hitungan secara statistik dengan menggunakan cara periode ulang umumnya tidak selamanya benar. Oleh sebab itu penyusunan prakiraan yang lebih baik apabila faktor lingkungan perIu dimasukkan seperti yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika.

Kondisi cuaca dan iklim akan bervariasi dan selamanya tidak tetap seperti musim kemarau kering mempunyai periodesitas. Hal ini perlu diluruskan, mengingat sumber penyebab kekeringan di Indonesia berkaitan dengan munculnya gejala alam El nino yang mempunyai periodesitas yang bervariasi ada yang 2 hingga 10 tahun. Oleh sehab itu agar tidak terjebakdalam perencanaan kegiatan produksi pertanian kondisi cuaca dan iklim akan tetap bervariasi dari waktu ke waktu untuk masa mendatang.

Dalam pengelolaan kegiatan pertanian disarankan untuk melakukan pengumpulan data basil produksi clan evaluasi kondisi musim terutama curah hujan bukan saja tahun yang sedang berlangsung akan tetapi beberapa tahun mundur. Kegunaan dan manfaat pengumpulan data ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan hasil produksi pertanian masa mendatang, sehingga penyusunan data base kondisi alam dan hasil produksi akan dapat digunakan dalam kesempatan masa mendatang dan mungkin pelajaran untuk menghadapi kondisi ekstrim dalam meminimisasi kerugian yang muncul. Demikian beberapa hal dalam kaitan dengan pengelolaan informasi cuaca dan iklim untuk mendukung pengelolaan produksi pertanian di Indonesia.

8 Responses to “PERANAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM DALAM ANTISIPASI DAMPAK KONDISI LINGKUNGAN EKSTRIM”

  1. mau tanya pembagian kategori berdasarkan jumlah curah hujan, misalnya curah hujan tinggi dengan jumlah curah hujan sekian mm, kemudian sedang seian mm dan rendah sekian mm? trims atas infonya

  2. mau tanya nih bang ardi,,, tolong dong kasih tau manfaat kita mengetahui info curah hujan,,, klo bisa jangan hanya dari sektor pertanian ya bang,,, dari sektor2 lainya juga thaks bang ardidafa

    • thanks buat brotoseno atas pertanyaannya. saya coba jawab pertanyaannya. Diantaranya adalah untuk mengetahui kadar ketersedian air disuatu daerah. Dibidang Konstruksi atau sipil informasi curah hujan juga dibutuhkan untuk merancang kekuatan suatu struktur konstruksi. Kapan waktu yang tepat untuk memulai dan melaksanakan kegiatan pembangunan.
      Dibidang Perhubungan informasi curah hujan juga penting diketahui. Pada dunia penerbangan, hujan terjadi dengan sangat deras dapat menghalangi jarak pandang pilot saat landing maupun take off. Demikian jawaban saya yang singkat ini. sebenarnya banyak manfaat lainnya yang memang terutama sekali dalam bidang pertanian.

  3. Mas, mau tanya kalau pengamatan iklim dan cuaca yang dapat dilakukan oleh orang awam (aparat desa) unsur apa saja dan manfaatnya apa? terimakasih atas jawabannya. kalau bisa juga dengan landasan teori ilmiahnya

    • bisa kami jelaskan sebelumnya unsur cuaca itu ada banyak. diantaranya curah hujan, suhu, lama penyinaran matahari, kelembaban, jarak pandang (visibility), kecepatan dan arah angin, penguapan, cuaca saat ini dan lainnya.
      untuk melakukan pengamatan, ada yang membutuhkan peralatan dan ada yang di tak perlu peralatan (penglihatan langsung). cuma dibutuhkan dasar keilmuan untuk melakukan pengamatan.
      kembali kepertanyaan tadi, untuk aparat desa bisa melakukan pengamatan curah hujan. karena peralatan untuk itu cukup murah ( 1 juta s/d 1,2 juta rupiah). sedangkan untuk peralatan yang lain cukup mahal. Jarak pandang (visibility) juga dapat di amati tapi membutuhkan dasar untuk menentukan jaraknya. Juga untuk unsur cuaca yang lain juga tetap dibutuhkan dasar keilmuan. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: